Kamis, 27 Agustus 2026

Jelajah Kecamatan Windusari, dari Gunung hingga Candi

23 Mei 2026

Gunung Giyanti

Kali ini aku akan ajak kalian mendaki tipis-tipis ke Gunung Giyanti via Malanggaten. Gunung ini berada di Dusun Malanggaten Desa Balesari Kecamatan Windusari Kabupatan Magelang. Basecamp Malanggaten berjarak kurang lebih satu setengah jam bermotor dari rumah kami di Jogja. Berbekal maps di handphone, aku dan suami berangkat sekitar pukul tujuh pagi dan pada pukul delapan dua puluh kami sudah sampai di basecamp


Sebelum memulai pendakian, kami mendaftar dan membayar tiket masuk Rp10.000 per orang dan tambahan Rp5.000 untuk parkir motor. Fasilitas di basecamp Malanggaten boleh dibilang cukup lengkap. Terdapat area parkir, toilet dengan air bersih, mushola dan juga warung kecil.

tiket

Gunung dengan ketinggian 1200 mdpl ini sering disebut sebagai gunung yang cocok untuk pemula. Jarak tempuh dari basecamp ke puncak relatif tidak terlalu jauh dengan jalur pendakian yang cukup jelas. Meski begitu, track gunung ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Berada di antara kebun kopi dan hutan yang cukup aman, jalurnya bisa dibilang terus menanjak dan jarang sekali 'bonusnya' (baca: tanah datar). 

titik awal pendakian

buah kopi

nanjak pelan-pelan

Ada tiga pos sebelum puncak. Belum lagi setengah jam berjalan kami sudah sampai Pos II. Karena tidak menemukan papan penanda Pos I, kuanggap tempat mendaftarkan diri kami tadi sebagai Pos I. Di jalur sebelum Pos II kami beberapa kali bertemu dan saling menyapa dengan warga lokal yang lewat. Sebagian dari mereka sedang berkebun, sebagian yang lain mengumpulkan rumput atau dedaunan untuk pakan ternak.

warga

Pos II


diem-diem masih nanjak terus

Sekitar lima belas menit dari papan tanda Pos II kami sampai di Pos III. Kami beristirahat sejenak menikmati pemandangan sekaligus memberikan kesempatan bagi pendaki lain yang hendak turun. Track setelah Pos III cukup curam. Dan meski disediakan tali di tepi jalur sebagai bantuan, memberi ruang bagi yang ingin turun lalu bergantian naik rasanya lebih aman dan nyaman bagi semua.

Pos III

track dengan tali bantuan

Pukul sembilan tiga puluh kami sampai di puncak. Dengan ritme jalan santai (dan tentu saja foto-foto) dari basecamp sampai puncak membutuhkan waktu kira-kira satu jam. Sepertinya kami datang kurang pagi, berada di puncak saat matahari mulai meninggi rasanya begitu menyilaukan. Meski begitu, pemandangan dari puncak memang indah. Deretan perbukitan yang hijau beradu dengan birunya langit yang cerah menyegarkan mata. Dan oh, dari puncak juga terlihat Gunung Sumbing menyembul di balik batas pandang pepohonan. Saat mengedarkan pandang ke arah bawah, kami melihat sebuah candi dari kejauhan. Candi yang rencananya akan kami datangi juga setelah turun gunung. Sebuah candi yang tak jauh dari Gunung Giyanti, Candi Selogriyo.

menuju puncak

puncak Gunung Giyanti

tes foto dulu, silau ternyata

coba ganti angle, masih silau juga

silau banget yaudahlah

tampak sedikit Gunung Sumbing

tampak candi dari Puncak Giyanti


otw cari tempat teduh

Kami menghabiskan waktu beberapa lama di puncak. Mencari tempat teduh lalu mengobrol, mencamil, melihat elang-elang, bersantai. Kami turun kira-kira pada pukul sebelas. Perjalanan turun gunung hampir selalu terasa lebih cepat. Langkah yang terasa lebih ringan diselingi lari-lari kecil memangkas waktu cukup banyak. Kami sempatkan meluruskan kaki dan beristirahat sejenak di basecamp sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.

Candi Selogriyo


Masih berada satu kecamatan dengan Gunung Giyanti, Candi Selogriyo berjarak kurang lebih tiga belas menit saja bermotor dari basecamp Malanggaten. Mengikuti petunjuk peta digital, selepas dari jalan raya kami akan melihat gapura desa masuk kawasan candi. Sebelum masuk kami membayar tiket Rp10.000 per orang di loket depan gapura. Jalan menuju candi relatif kecil dengan pemandangan sawah, kebun dan perbukitan. Semakin masuk ke dalam, jalanan terasa semakin teduh dan sampailah kami di gerbang masuk kawasan candi.

tiket masuk candi

tangga di gerbang masuk kawasan candi

tangga (lagi) menuju candi

Menurut catatan yang ada di lokasi, Candi Selogriyo ditemukan pertama kali tahun 1835 oleh Hartmann, Residen Magelang pada masa penjajahan Belanda. Berbeda dengan Prambanan atau Arjuna yang membentuk kompleks candi, Candi Selogriyo terdiri dari satu bangunan saja. Di setiap sisi badan candi terdapat relung dengan arca yang berbeda-beda. Di sisi utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini, di sisi barat terdapat arca Ganesa, di sisi selatan terdapat arca Rsi Agastya, dan di sisi timur terdapat dua relung dengan arca Nandishwara dan Mahakala. Uniknya, arca-arca ini tidak ada kepalanya.


arca Durga Mahisasuramardini

arca Ganesa

arca Rsi Agastya

arca Nandhiswara dan Mahakala

Cuaca yang terik terasa menyengat sebab kami berkunjung di tengah hari. Mengunjungi Candi Selogriyo pada pagi atau sore hari sepertinya lebih nyaman bila ingin berlama-lama. Setelah cukup puas melihat-lihat candi, kami pun turun mencari tempat yang lebih teduh. Di bagian bawah area candi, terdapat taman dengan latar pemandangan perbukitan yang dilengkapi dengan fasilitas mushola dan kamar mandi. Kawasan ini sepertinya dirawat dengan baik. Lingkungannya terlihat bersih dan asri. 

berfoto dengan latar landmark letters Selogriyo

Kami menutup perjalanan hari itu dengan mengunjungi kedai kopi tak jauh dari candi, Selogriyo Coffee. Menikmati semangkuk mi instan dan segelas kopi sukses menenangkan perut kami yang memang sudah sangat lapar. Dengan pemandangan perbukitan, kebun, dan sawah yang terbentang luas, menu sederhana yang kami santap rasanya menjadi lebih istimewa. Dan inilah akhir dari perjalanan  kami hari ini. Saatnya kembali ke Jogja. 

Selogriyo Coffee

biji kopi koleksi Selogriyo Coffee

makan mi instan with a view

saatnya pulang

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Sampai bertemu lagi di cerita-cerita perjalanan yang lain! 😁

Sabtu, 06 Juni 2026

Memaknai Ulang Perpisahan dalam Once We Were Us

Sumber: pinterest

Jujur nonton film ini nyeseknya ada banget, tertinggal dan membekas sampai beberapa hari. Film baru yang dibintangi Koo Kyo Hwan dan Moon Ga Young ini menampilkan kisah romansa slice-of-life yang terasa realistis dan emosional.

Premisnya cukup sederhana, sepasang muda-mudi yang bertemu di bus lalu berteman begitu saja. Persahabatan mereka lambat laun berkembang menjadi cinta. Saling mendukung untuk mimpi-mimpi besar mereka. Cinta masa muda yang manis dan penuh gairah itu harus berjuang dalam badai kerasnya kehidupan kota besar. Hidup menjadi makin melelahkan, mimpi terasa semakin jauh. Mereka pun akhirnya berpisah tanpa kata. Sepuluh tahun kemudian takdir mempertemukan mereka dalam sebuah penerbangan. Kali ini, hidup yang hitam putih itu harus diakhiri dengan benar.

Alur cerita di film ini dibuat maju mundur. Berwarna untuk penggambaran masa lalu, hitam putih untuk masa sekarang. Dialog, plot, scoring, dan sinematografi terasa pas dan nyaman. Tapi di atas segala aspek dalam film ini, yang paling menonjol adalah karakter Jeong-won (diperankan Moon Ga Young) dan Eun-ho (diperankan Koo Kyo Hwan) yang diperankan dengan sangat baik. Akting keduanya berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton. Gap umur yang sulit disembunyikan dari visual pemainnya tidak terasa canggung, justru membuat film ini semakin realistis. Tidak heran bila kemudian Moon Ga Young berhasil menyabet predikat best actress dalam Baeksang Arts Awards 2026.

Ada tiga hal yang kupikir menarik di film ini:

1. Bermimpilah dan perjuangkan mimpimu

Pesannya klasik ya? Tapi tetap relevan. Eun-ho selalu bermimpi menciptakan gim yang bagus dan sukses. Berulang kali gagal dan ditolak tak menyurutkannya. Sempat ada di fase gelap tanpa harapan, tapi nyala mimpinya meskipun kecil tak pernah padam. Setelah jatuh di titik terendahnya saat berpisah dengan Jeong-won, Eun-ho kembali membakar mimpinya dan perlahan mewujudkannya. 

Bagi Jeong-won yang tumbuh di panti asuhan, menjadi arsitek dan membangun rumahnya sendiri adalah mimpi yang ingin sekali diwujudkan. Namun kerasnya kehidupan terus-terusan mengecilkan mimpinya. Dan meski Eun-ho pernah berusaha membantu membangunkan lagi mimpi itu, kehidupan begitu kejam membanting mimpi itu menjadi serpihan. Setelah berpisah dengan Eun-ho, Jeong-won mengumpulkan lagi bahan bakar untuk menghidupkan mimpinya. 

Eun-ho dan Jeong-won mungkin pernah jatuh sejatuh-jatuhnya, tapi mereka memilih untuk tidak berhenti.

2. Belajar untuk tahu kapan harus pergi dan melepaskan

Part ini yang paling nyesek sih menurutku. Adegan saat Eun-ho menarik kipas angin untuk dirinya sendiri. Juga saat Eun-ho menutup korden tepat di depan Jeong-won. Tak ada lagi makan bersama, tak ada lagi obrolan tentang mimpi dan masa depan. Jeong-won akhirnya mengerti, itulah saat di mana dia harus pergi.

Kupikir tidak ada yang bisa disalahkan di sini. Mereka berdua tahu, bersama hanya akan membuat segalanya bertambah berat. Jeong-won pergi karena tak ada lagi rumah baginya. Eun-ho pun tahu diri dan tak menghalagi Jeong-won pergi karena perasaan bersalahnya dan tak ingin menjadi penghalang bagi Jeong-won. Pada akhirnya mereka saling melepaskan. Perpisahan tanpa kata yang begitu menyesakkan.

3. Ada orang yang ditakdirkan hanya untuk singgah dalam hidup kita, bukan menetap

Ketika sepuluh tahun kemudian takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah penerbangan, kondisi telah jauh berbeda. Mereka tumbuh dan hidup dalam mimpi yang dulu hanya bisa dibayangkan. Tentu banyak yang ingin dikatakan, ditanyakan. Meski pada akhirnya ada beberapa penyesalan, perpisahan di masa lalu yang tanpa penjelasan diselesaikan dengan dewasa. Mereka mengerti perasaan yang masih tersisa tidak untuk dipupuk kembali. Sedih, tapi realistis. 

Dan kehidupan yang hitam putih itu kini benar-benar telah berakhir.


Rabu, 31 Desember 2025

Desember, 2025


Seperti tahun-tahun sebelumnya, Desember masih menjadi bulan yang sibuk untukku. Di kantor bersama laporan-laporan akhir semester dua yang aturannya acap kali berganti. Di rumah pun sama sibuknya, bergelut dengan adonan kue pesanan ditemani genjrengan gitar tetangga di sebelah rumah dan tangisan melengking anak tetangga yang lain. Seru sekali.

Sembari mencetak adonan kue, aku mengingat kembali perjalananku di tahun ini. Banyak hal baik, tapi tidak sedikit pula rasa sedih dan tangis. Tahun ini banyak tempat baru yang dikunjungi, memulai kebiasaan baru olahraga termasuk di dalamnya angkat beban, juga membaca banyak buku karya penulis dari Asia seperti Jepang, Korea Selatan dan Hongkong. Kali pertama membuat janji dengan psikolog juga mendaki gunung lagi setelah delapan tahun, 2025 menjadi tahun yang dar-der-dor banget. Kejutannya banyak.

Tahun ini ada banyak hal yang bisa dipelajari. Aku didorong untuk belajar fokus pada diriku sendiri, lebih banyak hadir dan melihat ke dalam serta lebih mencintai diri sendiri. Peristiwa-peristiwa yang terjadi, rasa kecewa juga amarah, tangisan dan pikiran-pikiran tak berkesudahan pada akhirnya menggiringku kepada kesadaran untuk berfokus pada diriku sendiri. Memberi batas pada apa yang berada dalam kendaliku saja.

Tahun ini aku belajar untuk lebih mensyukuri hal-hal baik yang ada. Suami yang sayang dan selalu mengusahakan; teman-teman yang baik, seru dan selalu menguatkan; juga tetangga yang menyenangkan. Beberapa hal yang tidak menyenangkan mungkin tak bisa dihindari dan mau tak mau harus dihadapi. Tapi di atas semua itu, hal-hal itulah yang pada akhirnya membentuk siapa kita juga bagaimana kita belajar dan bertahan meneruskan hidup. 

Draft tulisan ini terhenti beberapa waktu. Kupikir aku akan menuliskan beberapa hal lagi. Namun beberapa hal itu menghilang seketika dari pikiranku ketika aku melanjutkan tulisan ini kembali hari ini, hal-hal lain telah terjadi. Simbah berpulang. Menghadapi kematian keluarga sendiri tidak pernah mudah, sekalipun itu pernah terjadi sebelumnya. Pengalaman tak menjadikan rasa kehilangan berkurang takarannya.

Ternyata, Desember kali ini berbeda.


Kamis, 06 November 2025

Bismo, Sebuah Momen Comeback ke Gunung

Ada yang bilang, mereka yang sudah mendaki gunung bersama lebih dari tiga kali, bukan lagi sekedar teman, tapi keluarga.

***

Sudah lama sejak pendakian terakhirku, delapan tahun. Rasanya antusias sekali saat merencanakan pendakian lagi. Hampir seperti saat diajak mendaki kali pertama dulu. Kali ini, aku akan mendaki Gunung Bismo.

Gunung Bismo, gunung dengan ketinggian 2365 mdpl ini terletak di Kabupaten Wonosobo dan merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng. Meski dikenal dengan jalur pendakian yang cukup ramah bagi pendaki, gunung ini menawarkan pemandangan 360 derajat dari puncak sehingga memungkinkan pendaki melihat Gunung Sindoro, Sumbing, Slamet, Merapi dan Merbabu serta Dataran Tinggi Dieng bila cuaca cerah.

Rencana ke Gunung Bismo bermula dari kunjungan dadakan Fitri dan Adhi ke rumah kami setelah mereka turun dari Gunung Sumbing. Tidak ingin hanya jadi wacana, kami merencanakan pendakian untuk bulan September. Tapi karena satu dan lain hal, waktu pendakian dimajukan. Bagaimanapun, berpikir tentang mendaki bersama dengan Fitri dan Adhi lagi terasa seperti reuni. So excited.

From this...

Aku cukup concern di persiapan pendakian kali ini. Dimulai dengan rajin berolah raga sebulan sebelum pendakian. Jalan kaki, lari kecil, aerobik ringan. Aku menyadari benar usiaku yang tidak lagi muda, kondisi tubuh yang pasti berbeda dan juga gear pendakian yang sudah tidak lengkap lagi. Tas gunungku sudah pensiun, rapuh dimakan usia. Begitu pula sepatu gunungku, head lamp yang sudah entah ke mana, dan pisau lipat serba guna yang sudah tercecer. Tapi minimal aku ingin berusaha menyiapkan diri dengan baik.

26 Agustus 2025

Waktu yang dinanti akhirnya tiba. Pukul tujuh lebih dua puluh menit aku dan suami berangkat dari rumah. Fitri sudah berangkat satu jam sebelumnya naik mobil travel. Kami sepakat bertemu di rumah Adhi. Perjalanan terasa ringan meski carrier sewaan yang kubawa cukup berat dan tidak ergonomis. Satu jam berlalu dan kami memutuskan beristirahat sejenak di rest area Sijonggol, sarapan. Sekitar pukul sembilan kami melanjutkan perjalanan. Dan satu jam kemudian kami sudah berada di ruang tamu rumah Adhi. Aku dan suami melemaskan otot setelah dua jam bermotor sambil mengobrol dan menikmati suguhan tempe kemul khas Wonosobo.

Sarapan di rest area Sijonggol

Pukul 11.30 kami berangkat bersama menuju basecamp Sikunang. Dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari rumah Adhi untuk sampai ke Sikunang. Sesampainya di basecamp kami istirahat, sholat, makan, dan repacking. Seperti biasa, repacking di sini maksudnya tentu saja memindahkan beberapa barang untuk dibawain Adhi wkwk. Beres repacking, kami registrasi di loket. Dikenakan biaya registrasi Rp35.000 per orang untuk mendaki Gunung Bismo. Rincian biaya itu untuk tiket pendakian sebesar Rp20.000 dan Rp15.000 untuk fasilitas di basecamp. Belum termasuk parkir kendaraan ya. Setelah registrasi, kami bersiap berangkat. Hampir pukul tiga sore saat kami memulai pendakian. Bismillah.

Nungguin air ngalir di basecamp :p

Repacking

Tiket

...to this.

Langkah kami dimulai di antara rumah penduduk, lalu kebun sayur, barulah nantinya masuk area pepohonan hutan gunung. Tubuhku mulai beradaptasi dengan langkah-langkah menanjak dan beban di punggung. Meski sudah bertahun-tahun vakum, alhamdulillah masih bisa mengimbangi langkah Fitri dan Adhi. Pukul 15.23 kami sampai di Pos 1, Pos Gedegan.



Pos 1

Rute dari Pos 1 ke Pos 2 masih di antara kebun sayur milik penduduk. Kabut mulai turun dan membawa hawa dingin yang basah. Sejuk. Pukul 15.57 kami sampai di Pos 2, Pos Bekukung. Rehat sejenak, foto-foto juga makan permen coklat Cha-Cha. Dan kalau kami sudah bersama, perkara makan Cha-Cha aja bisa bikin ketawa-ketawa gak jelas. Hawa memang mulai dingin, tapi hati kami hangat.


Kabut mulai turun



Pos 2


Video ini diambil secara spontan oleh mas bojo 😍

Setapak yang kami lalui sudah mulai menanjak dan kabut makin tebal. Pukul 16.20 kami beristirahat di Pos Bayang-Bayang. Pos ini berupa warung semi permanen, Warung Kopi Mbah Koplak namanya. Warung sedang tutup saat kami di sana. Entah tutup karena weekday atau memang ngepasin hari itu saja. Sebelum terlena karena kelamaan istirahat, kami kembali melanjutkan langkah dan pukul 16.37 kami sudah melewati Pos 3, Pos Mesawa.


Ayo semangat! 😄

Pos Bayang-bayang

Pos 3

Pukul 16.49 kami sampai di Puncak Tugel. Kabut makin tebal dan angin berhembus cukup kencang. Kami mendaki di bulan Agustus dan karenanya barisan bendera merah putih masih terpasang, berkibar mengikuti arah angin. Tentu saja kami berfoto dan merekam video selagi sepi dan suasananya dramatis wkwk. Kami cukup beruntung hari itu karena gunung tidak begitu ramai, hanya bertemu beberapa kali dengan pendaki yang tek-tok saja. Kebanyakan remaja dan beberapa mungkin berumur di awal dua puluhan. Semangat masa muda memang tak ada duanya.

Puncak Tugel


Jangan tanya carrier-ku mana, buat ganjel tripod biar gak jatuh terhempas angin 🤣

Mendadak ngajakin pendaki lain buat ikutan foto wkwk


Kami sudah tak berharap akan dapat sunset cantik hari itu karena kabut yang tebal. Tapi apapun bisa terjadi di gunung. Siapa sangka angin yang berhembus kencang tadi perlahan menyingkap kabut yang sedari awal menemani perjalanan kami. Dan saat kami sampai di Puncak Nemu-nemu pukul 17.15 kabut sepenuhnya hilang dan memperlihatkan birunya langit menjelang senja. Puncak-puncak gunung di sekitar Bismo pun mulai terlihat, berpadu dengan hamparan awan yang bergumpal-gumpal membuat senja hari itu semakin epik.

Tiba-tiba cerah 😍

Silau dikit gak papa, foto aja dulu :p

Gak terlalu keliatan nih, iya gak papa :))



Foto lagi lah sebelum lanjut jalan

Makin sore makin cakep 🥰

Matahari perlahan turun dan senja pun tiba. Kami berjalan melanjutkan perjalanan menuju camping ground sambil terus mengagumi senja hari itu.

~ berjalan menuju senja ~
Video ini juga diambil secara spontan oleh masbojo tanpa diminta wkwk lope sekebon



Kata Adhi, itu Gunung Slamet


🤍

Setelah benar-benar gelap, barulah kami membangun tenda. Meski dingin cukup menusuk, malam itu langitnya cerah sekali, bintang bertaburan. Ah, suasana seperti ini yang aku rindukan. Beres bangun tenda kami buru-buru masuk menghangatkan diri, makan malam, sholat, ngobrol haha-hihi lalu istirahat.

27 Agustus 2025

Menjelang pagi angin bertiup semakin kencang. Membawa kabut dan embun yang terasa seperti hujan. Pagi yang basah meskipun sudah tak sedingin semalam. Pagi itu kami gagal melihat matahari terbit, kabutnya terlalu tebal. Kami pun menghabiskan waktu di tenda, menghangatkan diri dengan segelas teh dan obrolan pagi.

Selamat pagi

Terdengar beberapa pendaki melewati tenda kami. Sepertinya mereka hendak berburu sunrise juga awalnya, tapi apa mau dikata kabut terlalu tebal. Kami lanjut sarapan dan menunggu cuaca lebih hangat sambil main UNO. Kebiasaan lama yang kami bawa saat kembali berkumpul, main game.

Burungnya mau ikut sarapan 🤏

Main UNO 

Sudah lewat pukul sepuluh pagi ketika akhirnya kami beranjak dari tenda. Berjalan santai menuju Puncak Indraprasta, Puncak Gunung Bismo. Kabut masih cukup tebal, segalanya nampak putih. Kami bersantai menikmati pagi dan mengabadikan momen di puncak sebelum akhirnya kembali ke tenda dan bersiap turun.

Puncak Indraprasta


Bestie 🤍


New mountain unlocked

Pukul 12.15 tenda sudah rapi terlipat, area camp kami sudah bersih, carrier sudah siap diangkat lagi. Kami pun turun. Perjalanan turun terasa lebih ringan dan kami tidak banyak berhenti. Berhenti sekali di Pos Bayang-Bayang untuk makan jeruk. Sebuah jeruk sisa logistik yang kubawa dan sesuai mandat Adhi harus dimakan di perjalanan turun wkwk. Sebutir jeruk yang dibagi untuk empat orang, kupikir rasanya jadi lebih enak. 

Pukul 13.29 kami sudah berada di basecamp lagi. Dan itu artinya berakhir sudah perjalanan pendakian kami kali ini. Layaknya idol Korea yang comeback dengan mini album barunya, pendakian bersama mereka lagi kali ini seperti menjadi momen comeback-ku ke gunung sekaligus reuni yang menyenangkan. Sebuah momen yang patut dirayakan dan dikenang.

Bunga-bunga di perjalanan turun


Sampai jumpa lagi, Bismo 🤍