Jumat, 30 Oktober 2026

Melihat Kembang-Kembang di Gunung Kembang

Perjalanan ke alam seringkali mengajarkan banyak hal pada kita. Sepertinya kali ini tentang mengambil kesempatan selagi ada, sebab alam bisa berubah kapan saja.


Gunung Terbersih di Jawa

Gunung di Wonosobo rasa-rasanya tidak pernah ada habisnya. Daftar gunung yang ingin dikunjungi dan ingin dikunjungi lagi sepertinya makin banyak. Setelah Bismo di tahun lalu, kali ini aku akan mendaki gunung yang dinobatkan sebagai gunung terbersih di Jawa, Gunung Kembang. 

Berada tepat di sebelah Gunung Sindoro, Gunung Kembang kerap dijuluki sebagai Anak Gunung Sindoro. Dengan ketinggian 2.340 mdpl, Gunung Kembang menjadi salah satu gunung dengan ketinggian di atas 2.000 mdpl di wilayah Wonosobo. Meski pendakian awal sudah tercatat sejak tahun 1993, baru pada 1 April 2018 pendakian Gunung Kembang dibuka untuk umum. Pantas saja, sewaktu aku mendaki Gunung Sindoro tahun 2013 perihal Gunung Kembang belum santer terdengar.

Setidaknya ada dua jalur yang umum dipakai pendaki ke Gunung Kembang, jalur Blembem dan jalur Lengkong. Aku dan tim memilih jalur Lengkong yang berada di Desa Lengkong, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo. Tim pendakian kali ini terdiri dari aku, Fitri dan Adhi. Sayang sekali mas suami tidak bisa ikut karena pekerjaan :(

7 Oktober 2026

Terlambat dari yang dijadwalkan, mobil travel yang dipesan Fitri sampai di depan perumahan tempatku tinggal pukul 7.25 WIB. Menjadi orang terakhir yang dijemput, setelah aku naik mobil pun meluncur menuju Wonosobo. Pukul 9.35 WIB aku dan Fitri turun di SPBU Sapen lalu menyeberang ke minimarket tempat janjian kami dengan Adhi. Satu jam kemudian kami bertiga berangkat menuju basecamp Lengkong.

Hampir pukul 11.00 WIB saat kami tiba di basecamp. Gunung Kembang sepertinya sedang populer. Bahkan saat weekday, basecamp Lengkong cukup ramai dikunjungi para pendaki. Karena sudah tengah hari, kami memutuskan untuk makan dulu sebelum registrasi. Sembari menunggu makanan pesanan dimasak, kami mengobrol dengan ibu penjual warung sebelah. Katanya beberapa hari belakangan hampir selalu turun hujan. Tidak muluk-muluk, waktu itu kami hanya berharap dan berdoa agar saat kami di gunung cuaca bisa sedikit bersahabat.

Seberes makan, kami lanjut salat, registrasi dan repacking. Registrasi di basecamp Lengkong hampir seperti gunung-gunung lainnya, kami mencatat secara mandiri identitas anggota tim pendakian dan mendata logistik bawaan. Hal ini sepertinya cukup berbeda dengan basecamp Blembem. Konon menurut cerita, di basecamp Blembem registrasi dilakukan lebih ketat. Petugas mencermati dengan teliti barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah dan melarang beberapa item barang untuk dibawa naik. Hal ini tentu bertujuan agar gunung senantiasa bersih terbebas dari sampah. Tak heran bila kemudian Gunung Kembang dinobatkan menjadi Gunung Terbersih di Jawa. 

registrasi

Proses repacking kami lakukan seperti biasa untuk membagi beban, namun seiring seringnya mendaki bersama dengan Fitri dan Adhi repacking pun mengalami pergeseran makna. Dalam hal kami bertiga mendaki bersama artinya memindahkan sebagian beban dari carrier mungil kami ke carrier Adhi yang besar sebesar harapan masyarakat Indonesia kepada pemerintah hehe. Pukul 13.00 WIB carrier sudah di punggung, tali sepatu telah diikat, kami siap berangkat. 

basecamp Lengkong

Perjalanan dari basecamp ke Pos 1 umumnya menggunakan ojek motor dengan tarif Rp25.000 sekali jalan. Ojek ini sifatnya pilihan ya kawan-kawan, yang ingin berjalan kaki tentu boleh saja. Waktu tempuh berjalan kaki dari basecamp ke Pos 1 kurang lebih 1-1,5 jam. Untuk menghemat tenaga dan sekalian turut serta mendukung perekonomian warga sekitar, kami memilih naik ojek saja. Perjalanan dengan ojek di gunung ini menjadi pengalaman pertama bagiku, seru-seru serem wkwk. Dalam 6 menit kami pun sampai di Pos 1, Gerbang Ndeles. Menurut peta yang kami dapat, ada 5 pos dan 2 mata air yang akan kami lalui sebelum puncak.

Pos 1, Gerbang Ndeles

Dari Pos 1 kami mulai berjalan kaki. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.25 WIB. Langit kelabu dan kabut tipis menemani permulaan perjalanan. Perlahan kami berjalan di setapak tanah dengan pohon pakis di kanan dan kiri. Masih terdengar jelas suara musik bersumber dari hajatan warga di bawah sana, sepertinya ada yang menikah. Setapak yang kami lalui perlahan menanjak dan terus menanjak. Dengan beban carrier penuh di punggung, langkah mulai terasa berat dan keringat segera saja keluar.


Setelah sekitar 35 menit berjalan, kami sampai di Pos 2, Pakis Suri. Sejak awal perjalanan, dari yang terlihat segera saja aku menyadari bahwa pohon pakis tumbuh sangat subur di Gunung Kembang. Vegetasi pakis yang tersebar didominasi jenis pakis tiang/paku pohon yang tinggi dengan diameter batang cukup besar. Secara ekologis, pakis ini memiliki fungsi menjaga kelembapan tanah, mencegah terjadinya longsor dan erosi juga sebagai penyedia mikrohabitat bagi berbagai organisme kecil.

Pos 2, Pakis Suri

pakis

Tidak beristirahat lama di Pos 2, kami pun melanjutkan perjalanan. Diselingi obrolan receh dan tawa, kaki kami terus melangkah menanjak teratur. Dalam perjalanan menuju Pos 3 kami menjumpai banyak bunga kecil putih di sepanjang jalur, bunga teklan. Bunga teklan atau tekelan umum dijumpai di pegunungan yang lembap dan teduh. Meski beberapa terlihat sudah mulai mengering, keberadaan bunga ini membuat jalur terlihat sangat cantik. Tentu saja kami harus berfoto kan? 

bunga teklan




Selain bunga teklan, Gunung Kembang juga memiliki banyak sekali ragam spesies bunga anggrek liar. Sayangnya dalam pendakian kali ini aku tidak menjumpai bunga anggrek. Entah aku yang kurang awas atau memang bunganya berada di hutan dalam yang jauh dari jalur pendakian.



Sebelum sampai di Pos 3, kami menjumpai sumber air yang disebut Mata Air 1. Terdapat beberapa pipa yang salah satunya mengeluarkan air meski alirannya cukup kecil. Dan saat waktu menunjukkan pukul 15.13 WIB kami sampai di Pos 3, Ngratan. Kami beristirahat sejenak, minum air dan makan jeli yang kubuat dari rumah. Barulah setelah jeli tandas, kami melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari Pos 3, kami menjumpai pohon ikonik Gunung Kembang yang sering muncul di sosial media. Tak ingin ketinggalan, kami pun berfoto dan membuat beberapa video dengan latar "pohon bolong" itu.

Mata Air 1

Pos 3, Ngratan


Gerimis mulai turun menjelang Pos 4. Kami memutuskan berteduh sebentar di Pos 4, Igir Bima. Sudah pukul 16.09 WIB saat itu. Tak hendak berlama-lama, kami melanjutkan perjalanan seraya berharap gerimis tidak berubah menjadi deras. 

Pos 4, Igir Bima

Perjalanan dari Pos 4 menuju Pos 5 adalah perjalanan yang paling menantang. Vegetasi yang semula rapat mulai terbuka. Jalur yang terus menanjak membuat kaki mulai terasa pegal. Pukul 16.19 WIB kami sampai di Mata Air 2 dan mendapati dua pilihan jalur, Tanjakan Sakit Hati dan Jalur Baru. Kami memilih Jalur Baru agar tidak sakit hati hehe. Setelah melihat curamnya Tanjakan Sakit Hati, kami bersyukur tidak salah pilih. 

Mata Air 2

Tanjakan Sakit Hati


Obrolan mulai sepi, kami fokus berjalan dan mengatur nafas. Setiap belokan adalah tanjakan baru. Beberapa tanjakan diberi tali bantu, mencegah pendaki terpeleset dan merosot jatuh. Pada pukul 16.50 WIB sampailah kami di Pos 5, Sri Kumbang. Meski kabut hampir selalu menemani, kami bersyukur gerimis yang sempat datang tidak berubah menjadi hujan.




Pos 5, Sri Kumbang

Pukul 17.13 WIB akhirnya sampai juga di puncak Gunung Kembang. Alhamdulillah. Kami menjadi satu-satunya tim yang ada di puncak. Kabut yang semakin tebal  menenggelamkan Gunung Sindoro yang mestinya tampak jelas dari tempat kami berada. Sebelum hari berubah menjadi semakin gelap, kami pun mulai mendirikan tenda. 

puncak Gunung Kembang


kabut

Kami menyantap makan malam di dalam tenda, nasi goreng yang dibeli di warung dekat basecamp siang tadi. Semakin malam kabut yang sepanjang hari menemani pendakian kami perlahan tersingkap. Menampilkan siluet Gunung Sindoro yang berpadu dengan jutaan bintang-bintang. Langit malam itu cantik sekali.

siluet Gunung Sindoro saat malam

Ketika kabut kembali turun, kami masuk lagi ke dalam tenda. Masih terlalu awal untuk tidur, maka kartu UNO pun aku keluarkan. Permainan ini selalu berhasil menghidupkan suasana dan mengundang banyak tawa. Di tengah permainan, kami mendengar langkah pendaki mencari tempat untuk mendirikan tenda. Malam itu, tenda kami tidak lagi sendiri. 

Setelah cukup bermain, kami mulai beres-beres dan bersiap tidur. Semua makanan ditutup rapat dan dimasukkan dalam satu kantong plastik besar. Kantong itu kemudian diikat rapat dan digantung Adhi di pohon. Hal ini dilakukan untuk mencegah babi mengendus makanan dan masuk ke dalam tenda kami. Babi hutan atau celeng merupakan satwa liar yang populasinya sangat banyak di Gunung Kembang. Tak heran bila banyak pendaki yang kerap bertemu atau melihat babi hutan di gunung ini.

8 Oktober 2026

Aku terbangun pukul 4.30 WIB dan mendengar suara beberapa pendaki tektok yang baru saja sampai puncak. Setelah salat subuh, aku pun keluar dari tenda. Hembusan angin membawa hawa dingin menerpa kulitku begitu tenda dibuka. Semburat jingga mulai muncul di langit yang semula gulita. Sabit masih menggantung di langit, menemani Sindoro dan Sumbing yang terlihat tak lagi malu-malu. Tak lama, Adhi dan Fitri menyusulku mengagumi langit menantikan matahari terbit, sudah membawa kopi panas. Obrolan hangat bersama sahabat berlatar langit dan gunung-gunung yang luar biasa cantiknya membuat pagi itu benar-benar istimewa.

Gunung Sindoro dan bulan sabit

siluet Gunung Sumbing di kejauhan



Angin yang berhembus membawa hawa dingin tak menyurutkan kami untuk menunggu dan merekam detik-detik terbitnya mentari pagi. Kami semua terpaku saat bola api raksasa itu mulai merangkak naik di cakrawala. Indah dan hikmat. 


Ketika mentari mulai meninggi, pendaki yang sampai di puncak semakin ramai. Kami beranjak masuk ke dalam tenda. Membuat minuman hangat dan meneruskan bermain UNO. Permainan pagi itu berlangsung seru dan lama.

sunrise di puncak Gunung Kembang

Gunung Sindoro dan kaldera



permainan mulai sengit 😂

Di sela permainan, aku sempat melongok ke luar tenda. Langit bersih, Sindoro gagah di belakang tenda. Rasanya ingin mendekat dan mengambil foto. Tapi ramai sekali. Kuurungkan niatku, nanti sajalah, pikirku. Toh kami masih lama. Saat sudah sepi, mengambil foto pasti lebih nyaman. Tapi kadang kesempatan memang tidak datang dua kali. Saat kami tengah sibuk membuat sarapan, langit yang bersih tadi perlahan berubah. Kabut datang dan pergi, lalu menetap. Sampai saat kami siap untuk turun, Sindoro benar-benar tak terlihat lagi, sepenuhnya kabut. Perjalanan ke alam seringkali mengajarkan banyak hal pada kita. Sepertinya kali ini tentang mengambil kesempatan selagi ada, sebab alam bisa berubah kapan saja. 

tenda kami dengan latar Gunung Sindoro

sarapan

perjalanan turun

Tidak berhasil foto dengan latar Sindoro saat siang dengan cuaca tanpa kabut ini sepertinya bisa dijadikan alasan untuk kembali lagi kelak hehe. Remed kalau kata pendaki jaman sekarang. Pukul 10.35 WIB kami siap untuk turun gunung. Karena tidak banyak berhenti saat perjalanan turun,  dalam waktu kurang dari dua jam kami sudah sampai di Pos 1, pukul 12.24 WIB. Sesampainya di Pos 1, kami menunggu antrian ojek bersama pendaki lainnya. 

ojek

Kami sampai di basecamp pukul 13.21 WIB. Terdengar suara musik mendekat saat kami sedang istirahat meluruskan kaki. Ternyata ada pertunjukan semacam kuda lumping dan tari-tarian di depan basecamp. Masih serangkaian acara hajatan yang kemarin ternyata wkwk. Ramai, meriah, seru sekali. 

tari-tarian dari hajatan warga

Seberes mandi, salat dan repacking, kami bersiap pulang ke Jogja. Kebetulan ada keperluan di Jogja, Adhi menawarkan mengantar kami berdua pulang sampai rumah. Sembari mendengarkan obrolan Adhi dan Fitri di perjalanan pulang, aku setengah melamun berpikir tentang hari itu. Senang rasanya bisa kembali mendaki bersama mereka berdua. Hari itu kami banyak bertukar cerita, kami banyak tertawa. Nanti kita mendaki bersama lagi ya :)

Terima kasih, Gunung Kembang. Pendakian kali ini kami senang bisa melihat kembang-kembang di Gunung Kembang. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan!

sampai jumpa lagi, Kembang!





P.S: special thanks to mas suami yang meski tidak ikut, selalu support dan kasih ijin istrinya untuk ngelakuin hal-hal yang disuka 🤍

Kamis, 15 Oktober 2026

Serunya Bobo di Bobocabin dan Bobopod

Bobocabin Coban Rondo

Kota Malang menjadi destinasi pilihan aku dan suami menghabiskan cuti pertama tahun ini. Saat sedang berselancar di internet mencari penginapan di Malang, muncullah nama Bobocabin Coban Rondo, penginapan dengan konsep kabin-kabin kayu di tengah hutan. Makin dilihat-lihat dan ditelusuri malah makin kepincut. Jadilah diputuskan kami akan menginap di sana. 


Berbeda dengan hotel atau penginapan umumnya, booking kamar di Bobocabin dan Bobopod menggunakan aplikasi khusus bernama Bobobox. Melalui aplikasi ini juga nantinya kami akan check in, check out, buka pintu kamar, pesan makanan dan penggunaan fasilitas lainnya. Terdapat beberapa tipe kabin yang dapat dipesan seperti Deluxe Cabin, Deluxe Cabin with View, Executive Cabin, dan Deluxe Cabin Hot Tub with View. Kami memesan tipe Deluxe Cabin with View.



21 Juli 2026

berangkat ke Malang

Kereta kami sampai di Malang pukul 03.15 dini hari. Dan karena waktu check in masih pukul 14.00, kami berencana menitipkan tas dulu di Bobocabin. Sesuai namanya, jalan menuju Bobocabin Coban Rondo memang searah dengan jalan menuju air terjun Coban Rondo. Jalan yang tidak terlalu lebar dan teduh karena banyak pepohonan di kanan kiri membuat perjalanan terasa lebih syahdu. Saat kami tiba, cuaca cerah dan angin berhembus cukup kencang membawa hawa sejuk cenderung dingin khas dataran tinggi. Setelah beres menitipkan tas dan melihat-lihat sebentar suasana sekitar Bobocabin, kami beranjak menuju destinasi main hari itu, Santerra de Laponte dan Jatim Park 3.

pemandangan dari area titik pandang Bobocabin

Santerra de Laponte

Jatim Park 3

Puas main seharian, kami sampai di Bobocabin lagi saat sudah gelap. Dengan panduan petugas Bobocabin, kami check in melalui aplikasi. Tidak menggunakan kunci mekanik ataupun kartu, kami membuka pintu kabin dari luar dengan cara scan QR code yang muncul di aplikasi setelah proses check-in. Begitu masuk kabin kami disambut suara dari speaker kabin, ucapan selamat datang dari Bob, maskot Bobocabin dan Bobopod yang otomatis aktif saat tamu check-in ataupun check-out.

suasana malam di Bobocabin

Kamar kabin yang kami pilih memiliki fasilitas 1 king-size bed dengan smart window besar di samping tempat tidur, kamar mandi dalam, dan beranda/dek yang dilengkapi dengan meja dan sepasang kursi di bagian luar. Fasilitas lain seperti AC, hair dryer, bathroom amenities dan kettle jug juga tersedia. Terpisah dari kabin, disediakan pula dapur bersama dan area komunal yang dilengkapi dengan fire pit. 


area komunal dengan fire pit

Bagian yang cukup menarik dari kabin-kabin ini adalah jendelanya, smart window dengan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang bisa mengubah mode buram (opaque) pada kaca menjadi mode bening transparan (clear). Fitur ini dapat diatur melalui tablet pintar yang ada di dalam kabin (B-Pad) maupun dari aplikasi Bobobox di ponsel setelah check-in. Selain itu, pencahayaan/mood lamp dan fitur sleep meditation/white noise dalam kamar pun bisa diatur melalui perangkat yang sama. Karena penasaran, aku pun mencoba-coba fitur-fitur itu wkwk



B-pad

ganti mood lamp jadi warna ungu wkwk

22 Juli 2026

Pagi itu dari jendela kamar, kami menyaksikan pemandangan matahari terbit yang menakjubkan, cantik sekali. Ingin menikmati pagi tak hanya dari balik jendela, kami membuat teh dan sarapan di beranda. Tapi angin berhembus kencang membawa hawa dingin yang menggigit membuat kami tak betah berlama-lama di luar ruangan. 

selamat pagi

matahari terbit

sarapan



Liburan kali ini tidak terasa buru-buru ingin ke sana-sini. Diam dan bersantai di kabin pun rasanya cukup menyenangkan. Barangkali karena pemandangan dari dalam kabin pun sudah menyegarkan mata. Menjelang siang kami baru beranjak jalan-jalan. Hari itu, kami pergi ke Wisata Dusun Kuliner dan Museum Angkut.

Wisata Dusun Kuliner

Museum Angkut

Kami kembali ke kabin menjelang senja. Niatnya mau pesan menu steamboat dan makan malam di beranda sambil menikmati lampu-lampu kota di bawah sana. Tapi lagi-lagi angin kencang membawa hawa super dingin membuat kami tak sanggup berada di luar. Akhirnya kami makan di dalam wkwk

23 Juli 2026

Hari terakhir di Malang. Hari itu kami memilih benar-benar bersantai di kabin sampai waktunya check out. Menikmati pagi yang tenang dan damai. Menyaksikan matahari terbit, sarapan di beranda, berjalan-jalan di sekitar kabin ditemani suara burung dan desir angin yang menggoyangkan pepohonan.




Hampir pukul 12.00 saat akhirnya kami benar-benar check-out dari Bobocabin. Rasanya masih ingin tinggal, tapi kami harus kembali. 



Destinasi terakhir kami hari itu adalah kembali mengunjungi Jatim Park 2 dan Museum Satwa setelah 8 tahun. Ternyata sekarang sudah ada komodo dan red panda. Senang sekali bisa lihat komodo dan red panda dari dekat. Barulah setelah dari sana kami beranjak ke stasiun. Pulang ke Jogja.



Bobopod

Kereta yang membawa kami pulang ke Jogja sampai di Stasiun Tugu saat tengah malam. Sebenarnya bisa saja kami memesan taksi untuk pulang ke rumah. Tapi kami sengaja tidak langsung pulang karena ingin mencoba menginap di Bobopod Malioboro.

Malioboro saat tengah malam

Bobopod adalah hotel kapsul berkonsep ruang tidur personal (pod). Bentuknya berupa kotak (box) berukuran ringkas dan ergonomis. Terdapat tipe Sky (posisi atas) dan Earth (posisi bawah). Kami memilih tipe Earth Double, satu pod untuk dua orang dengan posisi di bawah.

Tipe Sky dan Tipe Earth

bagian dalam kamar

Karena ini hotel kapsul, maka tidak tersedia kamar mandi dalam. Area kamar mandi dan toilet terpisah untuk pria dan wanita. Tersedia pula fasilitas komunal seperti musala, pantry dan lounge. Saat berada di sekitar area pod dan fasilitas komunal, tamu wajib memakai sandal yang disediakan Bobopod. Terdapat loker untuk menyimpan sepatu dan alas kaki lain milik para tamu.

kamar mandi dan toilet

area komunal bersebelahan dengan pantry dan musala

loker dan sandal dari Bobopod

Untuk check-in, check-out dan penggunaan fasilitas kamar yang lain caranya sama persis seperti di Bobocabin. Yang membedakan Bobocabin dan Bobopod hanyalah konsep ruang, lokasi dan tentu saja pengalaman menginapnya. Konsep ruang Bobocabin adalah berupa kabin modular yang berada di alam terbuka, cocok untuk healing atau staycation. Sedangkan Bobopod berkonsep hotel kapsul yang berada di pusat kota atau dekat dengan area bisnis. Bobopod cocok untuk pelancong bisnis, backpacker atau orang-orang dengan mobilitas tinggi. Keduanya bisa dipilih sesuai kebutuhan.

langit pagi dari balik gedung-gedung

Setelah cukup beristirahat di Bobopod, kami menyempatkan diri jalan-jalan di area Malioboro sekalian sarapan. Kami masuk ke Pasar Beringharjo, Teras Malioboro, menyusuri gang-gang di sekitarnya, dan melihat gedung-gedung lama yang biasanya tidak pernah kami perhatikan saat lewat.




Kembali ke Bobopod kami pun bersiap-siap untuk check out. Seperti halnya saat check-in, saat check-out Bob si maskot akan aktif kembali mengucapkan salam perpisahan. Setelah beberapa hari, rasanya udah akrab aja sama si Bob wkwk.


Experience menginap di Bobocabin dan Bobopod ternyata seru dan cukup menyenangkan bagi kami. Sepertinya kapan-kapan bolehlah nyobain Bobocabin di kota-kota lainnya. 

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Sampai bertemu di cerita-cerita berikutnya!



P.S.: Sayang sekali tidak bisa menyertakan video timelapse matahari terbitnya, padahal langitnya cantik sekali 😍