Kamis, 15 Oktober 2026

Serunya Bobo di Bobocabin dan Bobopod

Bobocabin Coban Rondo

Kota Malang menjadi destinasi pilihan aku dan suami menghabiskan cuti pertama tahun ini. Saat sedang berselancar di internet mencari penginapan di Malang, muncullah nama Bobocabin Coban Rondo, penginapan dengan konsep kabin-kabin kayu di tengah hutan. Makin dilihat-lihat dan ditelusuri malah makin kepincut. Jadilah diputuskan kami akan menginap di sana. 


Berbeda dengan hotel atau penginapan umumnya, booking kamar di Bobocabin dan Bobopod menggunakan aplikasi khusus bernama Bobobox. Melalui aplikasi ini juga nantinya kami akan check in, check out, buka pintu kamar, pesan makanan dan penggunaan fasilitas lainnya. Terdapat beberapa tipe kabin yang dapat dipesan seperti Deluxe Cabin, Deluxe Cabin with View, Executive Cabin, dan Deluxe Cabin Hot Tub with View. Kami memesan tipe Deluxe Cabin with View.



21 Juli 2026

berangkat ke Malang

Kereta kami sampai di Malang pukul 03.15 dini hari. Dan karena waktu check in masih pukul 14.00, kami berencana menitipkan tas dulu di Bobocabin. Sesuai namanya, jalan menuju Bobocabin Coban Rondo memang searah dengan jalan menuju air terjun Coban Rondo. Jalan yang tidak terlalu lebar dan teduh karena banyak pepohonan di kanan kiri membuat perjalanan terasa lebih syahdu. Saat kami tiba, cuaca cerah dan angin berhembus cukup kencang membawa hawa sejuk cenderung dingin khas dataran tinggi. Setelah beres menitipkan tas dan melihat-lihat sebentar suasana sekitar Bobocabin, kami beranjak menuju destinasi main hari itu, Santerra de Laponte dan Jatim Park 3.

pemandangan dari area titik pandang Bobocabin

Santerra de Laponte

Jatim Park 3

Puas main seharian, kami sampai di Bobocabin lagi saat sudah gelap. Dengan panduan petugas Bobocabin, kami check in melalui aplikasi. Tidak menggunakan kunci mekanik ataupun kartu, kami membuka pintu kabin dari luar dengan cara scan QR code yang muncul di aplikasi setelah proses check-in. Begitu masuk kabin kami disambut suara dari speaker kabin, ucapan selamat datang dari Bob, maskot Bobocabin dan Bobopod yang otomatis aktif saat tamu check-in ataupun check-out.

suasana malam di Bobocabin

Kamar kabin yang kami pilih memiliki fasilitas 1 king-size bed dengan smart window besar di samping tempat tidur, kamar mandi dalam, dan beranda/dek yang dilengkapi dengan meja dan sepasang kursi di bagian luar. Fasilitas lain seperti AC, hair dryer, bathroom amenities dan kettle jug juga tersedia. Terpisah dari kabin, disediakan pula dapur bersama dan area komunal yang dilengkapi dengan fire pit. 


area komunal dengan fire pit

Bagian yang cukup menarik dari kabin-kabin ini adalah jendelanya, smart window dengan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) yang bisa mengubah mode buram (opaque) pada kaca menjadi mode bening transparan (clear). Fitur ini dapat diatur melalui tablet pintar yang ada di dalam kabin (B-Pad) maupun dari aplikasi Bobobox di ponsel setelah check-in. Selain itu, pencahayaan/mood lamp dan fitur sleep meditation/white noise dalam kamar pun bisa diatur melalui perangkat yang sama. Karena penasaran, aku pun mencoba-coba fitur-fitur itu wkwk

B-pad

ganti mood lamp jadi warna ungu wkwk

22 Juli 2026

Pagi itu dari jendela kamar, kami menyaksikan pemandangan matahari terbit yang menakjubkan, cantik sekali. Ingin menikmati pagi tak hanya dari balik jendela, kami membuat teh dan sarapan di beranda. Tapi angin berhembus kencang membawa hawa dingin yang menggigit membuat kami tak betah berlama-lama di luar ruangan. 

selamat pagi

matahari terbit

sarapan



Liburan kali ini tidak terasa buru-buru ingin ke sana-sini. Diam dan bersantai di kabin pun rasanya cukup menyenangkan. Barangkali karena pemandangan dari dalam kabin pun sudah menyegarkan mata. Menjelang siang kami baru beranjak jalan-jalan. Hari itu, kami pergi ke Wisata Dusun Kuliner dan Museum Angkut.

Wisata Dusun Kuliner

Museum Angkut

Kami kembali ke kabin menjelang senja. Niatnya mau pesan menu steamboat dan makan malam di beranda sambil menikmati lampu-lampu kota di bawah sana. Tapi lagi-lagi angin kencang membawa hawa super dingin membuat kami tak sanggup berada di luar. Akhirnya kami makan di dalam wkwk

23 Juli 2026

Hari terakhir di Malang. Hari itu kami memilih benar-benar bersantai di kabin sampai waktunya check out. Menikmati pagi yang tenang dan damai. Menyaksikan matahari terbit, sarapan di beranda, berjalan-jalan di sekitar kabin ditemani suara burung dan desir angin yang menggoyangkan pepohonan.




Hampir pukul 12.00 saat akhirnya kami benar-benar check-out dari Bobocabin. Rasanya masih ingin tinggal, tapi kami harus kembali. 



Destinasi terakhir kami hari itu adalah kembali mengunjungi Jatim Park 2 dan Museum Satwa setelah 8 tahun. Ternyata sekarang sudah ada komodo dan red panda. Senang sekali bisa lihat komodo dan red panda dari dekat. Barulah setelah dari sana kami beranjak ke stasiun. Pulang ke Jogja.



Bobopod

Kereta yang membawa kami pulang ke Jogja sampai di Stasiun Tugu saat tengah malam. Sebenarnya bisa saja kami memesan taksi untuk pulang ke rumah. Tapi kami sengaja tidak langsung pulang karena ingin mencoba menginap di Bobopod Malioboro.

Malioboro saat tengah malam

Bobopod adalah hotel kapsul berkonsep ruang tidur personal (pod). Bentuknya berupa kotak (box) berukuran ringkas dan ergonomis. Terdapat tipe Sky (posisi atas) dan Earth (posisi bawah). Kami memilih tipe Earth Double, satu pod untuk dua orang dengan posisi di bawah.

Tipe Sky dan Tipe Earth

bagian dalam kamar

Karena ini hotel kapsul, maka tidak tersedia kamar mandi dalam. Area kamar mandi dan toilet terpisah untuk pria dan wanita. Tersedia pula fasilitas komunal seperti musala, pantry dan lounge. Saat berada di sekitar area pod dan fasilitas komunal, tamu wajib memakai sandal yang disediakan Bobopod. Terdapat loker untuk menyimpan sepatu dan alas kaki lain milik para tamu.

kamar mandi dan toilet

area komunal bersebelahan dengan pantry dan musala

loker dan sandal dari Bobopod

Untuk check-in, check-out dan penggunaan fasilitas kamar yang lain caranya sama persis seperti di Bobocabin. Yang membedakan Bobocabin dan Bobopod hanyalah konsep ruang, lokasi dan tentu saja pengalaman menginapnya. Konsep ruang Bobocabin adalah berupa kabin modular yang berada di alam terbuka, cocok untuk healing atau staycation. Sedangkan Bobopod berkonsep hotel kapsul yang berada di pusat kota atau dekat dengan area bisnis. Bobopod cocok untuk pelancong bisnis, backpacker atau orang-orang dengan mobilitas tinggi. Keduanya bisa dipilih sesuai kebutuhan.

langit pagi dari balik gedung-gedung

Setelah cukup beristirahat di Bobopod, kami menyempatkan diri jalan-jalan di area Malioboro sekalian sarapan. Kami masuk ke Pasar Beringharjo, Teras Malioboro, menyusuri gang-gang di sekitarnya, dan melihat gedung-gedung lama yang biasanya tidak pernah kami perhatikan saat lewat.




Kembali ke Bobopod kami pun bersiap-siap untuk check out. Seperti halnya saat check-in, saat check-out Bob si maskot akan aktif kembali mengucapkan salam perpisahan. Setelah beberapa hari, rasanya udah akrab aja sama si Bob wkwk.


Experience menginap di Bobocabin dan Bobopod ternyata seru dan cukup menyenangkan bagi kami. Sepertinya kapan-kapan bolehlah nyobain Bobocabin di kota-kota lainnya. 

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Sampai bertemu di cerita-cerita berikutnya!



P.S.: Sayang sekali tidak bisa menyertakan video timelapse matahari terbitnya, padahal langitnya cantik sekali 😍

Sabtu, 19 September 2026

Membaca Aksara, FKY 2026

Setelah sekian tahun tidak datang ke FKY, tahun ini menyempatkan diri untuk datang karena lokasinya pun cukup dekat dari rumah. Berlokasi di Lapangan Pemda Sleman, FKY 2026 berlangsung selama tujuh hari dari tanggal 13-19 September.


FKY atau Festival Kebudayaan Yogyakarta adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kebudayaan DIY dengan melibatkan Dinas Kebudayaan serta komunitas seni dari 5 kabupaten yang diisi dengan aneka pertunjukan kesenian dan kebudayaan. FKY sendiri pertama kali diselenggarakan pada tahun 1989 bertepatan dengan peresmian Monumen Jogja Kembali. Lahir sebagai bentuk perayaan seni dan budaya, acara ini terus diselenggarakan hingga kini. 

Mengusung tema Aksara, dengan harapan "Aksara" dapat dijadikan senjata untuk membaca  lanskap kehidupan kebudayaan Yogyakarta. Menurut laman resmi FKY, kata aksara memendam filosofi mendalam: ia lahir dari perpaduan silaba "a" (tidak) dan "ksar" (punah atau hancur), yang secara utuh mewujud sebagai sesuatu yang abadi dan tak lekang ditelan zaman. Tema Aksara ini merupakan estafet dari pentalogi tema FKY yaitu Pangan (2023), Benda (2024), Adat Istiadat (2025), Bahasa/Aksara (2026), hingga kelak bermuara pada Ritual (2027).

AKSARA

Seremoni pembukaan FKY 2026 diselenggarakan sangat meriah di hari Minggu, 13 September 2026 dengan menampilkan ratusan penari dari lima kabupaten serta pembacaan tembang macapat oleh Kunto Aji, musisi terkenal putra asli Sleman. Pembukaan ini dihadiri dan disaksikan langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Terpesona oleh cuplikan video-video dari acara pembukaan FKY di Instagram, aku dan suami memutuskan datang di hari kedua. Kami sampai di lokasi saat senja dan langsung berkeliling melihat-lihat. Lapangan Pemda Sleman yang sehari-harinya polosan saja dan hanya digunakan sebagai sarana berolahraga dengan penjual jajanan di sana-sini disulap menjadi panggung seni yang "nyeni". Dan  bahkan penamaan dua panggung di sisi barat dan timur dibuat "aksara banget". Panggung di sisi timur dinamai Panggung Taling dan panggung di sisi barat dinamai Panggung Tarung. Bagi yang belum tahu, Taling Tarung adalah bagian dari aksara jawa dan disebut sebagai sandhangan swara (tanda pelambang vokal) yang berfungsi melambangkan bunyi vokal "o". Dalam penggunaannya, taling tarung ditulis mengapit aksara yang akan dibunyikan sebagai "o". 

aksara menjaga ingatan

Meski kami datang sudah sore, banyak agenda hari itu yang masih bisa disaksikan seperti talkshow di Panggung Tarung. Di sisi yang lain terlihat pula sekelompok pengunjung sedang memainkan beberapa permainan tradisional seperti congklak, karambol dan bahkan bermain catur. Mereka tampak tak terganggu dengan riuhnya pengunjung yang memutari amben pembuat jamu tak jauh dari situ. Di sisi utara kami melihat ada pojok baca dengan van putih yang penuh buku. Buku-buku yang disediakan cukup beragam, terdapat banyak buku untuk anak-anak yang lengkap dengan gambar dan ilustrasi menarik, buku-buku sejarah, juga novel. Beberapa judul yang sempat aku ingat seperti Alice in Wonderland, Emma dari Jane Austen dan Orang Asing dari Albert Camus. Jujur masih kepikiran buku Orang Asing-nya Albert Camus wkwk. 

Panggung Tarung

serius main catur

jamu

pojok baca

Tepat ketika kami selesai berkeliling melihat-lihat kuliner yang dijajakan, azan maghrib berkumandang. Kami pun menunaikan ibadah sholat di masjid tak jauh dari Lapangan Pemda. Tertarik dengan suara-suara dari Panggung Taling, selesai sholat kami kembali ke lapangan. Di panggung sedang dipentaskan drama musikal berjudul "Sisi Lain Rara Jonggrang" yang disuguhkan oleh Sanggar Seni Ranjana. Baru sebentar menonton, suami melihat tetangga depan rumah pun sedang menonton. Jadilah kami bergabung dan menonton bersama di satu tikar piknik. Makin malam makin banyak pengunjung yang datang dan suasana pun semakin riuh dan hidup. Drama dipentaskan dengan baik diselingi lagu dengan musik yang apik dan menarik. Sesekali diselipkan kritik politik dan sosial dalam dialog dan lirik lagu yang membuat drama musikal ini menjadi jauh lebih menarik. Aku bertepuk tangan dengan semangat penuh perasaan puas dan gembira ketika pentas selesai. Sebuah perasaan unik yang hanya hadir sesaat setelah menyaksikan pertunjukan seni yang menarik. Merasakan kembali pengalaman rasa ini membawa ingatanku ke masa ketika umurku masih 20-an, masa ketika aku sedang sering-seringnya menyaksikan drama musikal dan pertunjukan seni lainnya di TBY atau PSBK. Ah, nostalgia sekali rasanya.

Panggung Taling

menonton drama musikal

Kami tidak menonton sampai akhir pertunjukan seniman kolaborator setelahnya. Ada agenda lain. Meski begitu, sebelum pergi kami menyempatkan menikmati satu lagu orkes keroncong di Panggung Tarung. Lagu berjudul Biola Kaca menjadi penutup apik kunjungan kami di FKY 2026 hari itu. Semoga  bertemu dengan pertunjukan-pertunjukan menarik lainnya di FKY 2027 mendatang!

orkes keroncong

Kamis, 27 Agustus 2026

Jelajah Kecamatan Windusari, dari Gunung hingga Candi

23 Mei 2026

Gunung Giyanti

Kali ini aku akan ajak kalian mendaki tipis-tipis ke Gunung Giyanti via Malanggaten. Gunung ini berada di Dusun Malanggaten Desa Balesari Kecamatan Windusari Kabupatan Magelang. Basecamp Malanggaten berjarak kurang lebih satu setengah jam bermotor dari rumah kami di Jogja. Berbekal maps di handphone, aku dan suami berangkat sekitar pukul 07.00 dan pada pukul 08.20 kami sudah sampai di basecamp. 


Sebelum memulai pendakian, kami mendaftar dan membayar tiket masuk Rp10.000 per orang dan tambahan Rp5.000 untuk parkir motor. Fasilitas di basecamp Malanggaten boleh dibilang cukup lengkap. Terdapat area parkir, toilet dengan air bersih, mushola dan juga warung kecil.

tiket

Gunung dengan ketinggian 1200 mdpl ini sering disebut sebagai gunung yang cocok untuk pemula. Jarak tempuh dari basecamp ke puncak relatif tidak terlalu jauh dengan jalur pendakian yang cukup jelas. Meski begitu, track gunung ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Berada di antara kebun kopi dan hutan yang cukup aman, jalurnya bisa dibilang terus menanjak dan jarang sekali 'bonusnya' (baca: tanah datar). 

titik awal pendakian

buah kopi

nanjak pelan-pelan

Ada tiga pos sebelum puncak. Belum lagi setengah jam berjalan kami sudah sampai Pos II. Karena tidak menemukan papan penanda Pos I, kuanggap tempat mendaftarkan diri kami tadi sebagai Pos I. Di jalur sebelum Pos II kami beberapa kali bertemu dan saling menyapa dengan warga lokal yang lewat. Sebagian dari mereka sedang berkebun, sebagian yang lain mengumpulkan rumput atau dedaunan untuk pakan ternak.

warga

Pos II


diem-diem masih nanjak terus

Sekitar lima belas menit dari papan tanda Pos II kami sampai di Pos III. Kami beristirahat sejenak menikmati pemandangan sekaligus memberikan kesempatan bagi pendaki lain yang hendak turun. Track setelah Pos III cukup curam. Dan meski disediakan tali di tepi jalur sebagai bantuan, memberi ruang bagi yang ingin turun lalu bergantian naik rasanya lebih aman dan nyaman bagi semua.

Pos III

track dengan tali bantuan

Pukul 09.30 kami sampai di puncak. Dengan ritme jalan santai (dan tentu saja foto-foto) dari basecamp sampai puncak membutuhkan waktu kira-kira satu jam. Sepertinya kami datang kurang pagi, berada di puncak saat matahari mulai meninggi rasanya begitu menyilaukan. Meski begitu, pemandangan dari puncak memang indah. Deretan perbukitan yang hijau beradu dengan birunya langit yang cerah menyegarkan mata. Dan oh, dari puncak juga terlihat Gunung Sumbing menyembul di balik batas pandang pepohonan. Saat mengedarkan pandang ke arah bawah, kami melihat sebuah candi dari kejauhan. Candi yang rencananya akan kami datangi juga setelah turun gunung. Sebuah candi yang tak jauh dari Gunung Giyanti, Candi Selogriyo.

menuju puncak

puncak Gunung Giyanti

tes foto dulu, silau ternyata

coba ganti angle, masih silau juga

silau banget yaudahlah

tampak sedikit Gunung Sumbing

tampak candi dari Puncak Giyanti


otw cari tempat teduh

Kami menghabiskan waktu beberapa lama di puncak. Mencari tempat teduh lalu mengobrol, mencamil, melihat elang-elang, bersantai. Kami turun kira-kira pada pukul 11.00. Perjalanan turun gunung hampir selalu terasa lebih cepat. Langkah yang terasa lebih ringan diselingi lari-lari kecil memangkas waktu cukup banyak. Kami sempatkan meluruskan kaki dan beristirahat sejenak di basecamp sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.

Candi Selogriyo


Masih berada satu kecamatan dengan Gunung Giyanti, Candi Selogriyo berjarak kurang lebih tiga belas menit saja bermotor dari basecamp Malanggaten. Mengikuti petunjuk peta digital, selepas dari jalan raya kami akan melihat gapura desa masuk kawasan candi. Sebelum masuk kami membayar tiket Rp10.000 per orang di loket depan gapura. Jalan menuju candi relatif kecil dengan pemandangan sawah, kebun dan perbukitan. Semakin masuk ke dalam, jalanan terasa semakin teduh dan sampailah kami di gerbang masuk kawasan candi.

tiket masuk candi

tangga di gerbang masuk kawasan candi

tangga (lagi) menuju candi

Menurut catatan yang ada di lokasi, Candi Selogriyo ditemukan pertama kali tahun 1835 oleh Hartmann, Residen Magelang pada masa penjajahan Belanda. Berbeda dengan Prambanan atau Arjuna yang membentuk kompleks candi, Candi Selogriyo terdiri dari satu bangunan saja. Di setiap sisi badan candi terdapat relung dengan arca yang berbeda-beda. Di sisi utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini, di sisi barat terdapat arca Ganesa, di sisi selatan terdapat arca Rsi Agastya, dan di sisi timur terdapat dua relung dengan arca Nandishwara dan Mahakala. Uniknya, arca-arca ini tidak ada kepalanya.


arca Durga Mahisasuramardini

arca Ganesa

arca Rsi Agastya

arca Nandhiswara dan Mahakala

Cuaca yang terik terasa menyengat sebab kami berkunjung di tengah hari. Mengunjungi Candi Selogriyo pada pagi atau sore hari sepertinya lebih nyaman bila ingin berlama-lama. Setelah cukup puas melihat-lihat candi, kami pun turun mencari tempat yang lebih teduh. Di bagian bawah area candi, terdapat taman dengan latar pemandangan perbukitan yang dilengkapi dengan fasilitas mushola dan kamar mandi. Kawasan ini sepertinya dirawat dengan baik. Lingkungannya terlihat bersih dan asri. 

berfoto dengan latar landmark letters Selogriyo

Kami menutup perjalanan hari itu dengan mengunjungi kedai kopi tak jauh dari candi, Selogriyo Coffee. Menikmati semangkuk mi instan dan segelas kopi sukses menenangkan perut kami yang memang sudah sangat lapar. Dengan pemandangan perbukitan, kebun, dan sawah yang terbentang luas, menu sederhana yang kami santap rasanya menjadi lebih istimewa. Dan inilah akhir dari perjalanan  kami hari ini. Saatnya kembali ke Jogja. 

Selogriyo Coffee

biji kopi koleksi Selogriyo Coffee

makan mi instan with a view

saatnya pulang

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Sampai bertemu lagi di cerita-cerita perjalanan yang lain! 😁