Seperti tahun-tahun sebelumnya, Desember masih menjadi bulan yang sibuk untukku. Di kantor bersama laporan-laporan akhir semester dua yang aturannya acap kali berganti. Di rumah pun sama sibuknya, bergelut dengan adonan kue pesanan ditemani genjrengan gitar tetangga di sebelah rumah dan tangisan melengking anak tetangga yang lain. Seru sekali.
Sembari mencetak adonan kue, aku mengingat kembali perjalananku di tahun ini. Banyak hal baik, tapi tidak sedikit pula rasa sedih dan tangis. Tahun ini banyak tempat baru yang dikunjungi, memulai kebiasaan baru olahraga termasuk di dalamnya angkat beban, juga membaca banyak buku karya penulis dari Asia seperti Jepang, Korea Selatan dan Hongkong. Kali pertama membuat janji dengan psikolog juga mendaki gunung lagi setelah delapan tahun, 2025 menjadi tahun yang dar-der-dor banget. Kejutannya banyak.
Tahun ini ada banyak hal yang bisa dipelajari. Aku didorong untuk belajar fokus pada diriku sendiri, lebih banyak hadir dan melihat ke dalam serta lebih mencintai diri sendiri. Peristiwa-peristiwa yang terjadi, rasa kecewa juga amarah, tangisan dan pikiran-pikiran tak berkesudahan pada akhirnya menggiringku kepada kesadaran untuk berfokus pada diriku sendiri. Memberi batas pada apa yang berada dalam kendaliku saja.
Tahun ini aku belajar untuk lebih mensyukuri hal-hal baik yang ada. Suami yang sayang dan selalu mengusahakan; teman-teman yang baik, seru dan selalu menguatkan; juga tetangga yang menyenangkan. Beberapa hal yang tidak menyenangkan mungkin tak bisa dihindari dan mau tak mau harus dihadapi. Tapi di atas semua itu, hal-hal itulah yang pada akhirnya membentuk siapa kita juga bagaimana kita belajar dan bertahan meneruskan hidup.
Draft tulisan ini terhenti beberapa waktu. Kupikir aku akan menuliskan beberapa hal lagi. Namun beberapa hal itu menghilang seketika dari pikiranku ketika aku melanjutkan tulisan ini kembali hari ini, hal-hal lain telah terjadi. Simbah berpulang. Menghadapi kematian keluarga sendiri tidak pernah mudah, sekalipun itu pernah terjadi sebelumnya. Pengalaman tak menjadikan rasa kehilangan berkurang takarannya.
Ternyata, Desember kali ini berbeda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar