Sabtu, 19 September 2026

Membaca Aksara, FKY 2026

Setelah sekian tahun tidak datang ke FKY, tahun ini menyempatkan diri untuk datang karena lokasinya pun cukup dekat dari rumah. Berlokasi di Lapangan Pemda Sleman, FKY 2026 berlangsung selama tujuh hari dari tanggal 13-19 September.


FKY atau Festival Kebudayaan Yogyakarta adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah DIY melalui Dinas Kebudayaan DIY dengan melibatkan Dinas Kebudayaan serta komunitas seni dari 5 kabupaten yang diisi dengan aneka pertunjukan kesenian dan kebudayaan. FKY sendiri pertama kali diselenggarakan pada tahun 1989 bertepatan dengan peresmian Monumen Jogja Kembali. Lahir sebagai bentuk perayaan seni dan budaya, acara ini terus diselenggarakan hingga kini. 

Mengusung tema Aksara, dengan harapan "Aksara" dapat dijadikan senjata untuk membaca  lanskap kehidupan kebudayaan Yogyakarta. Menurut laman resmi FKY, kata aksara memendam filosofi mendalam: ia lahir dari perpaduan silaba "a" (tidak) dan "ksar" (punah atau hancur), yang secara utuh mewujud sebagai sesuatu yang abadi dan tak lekang ditelan zaman. Tema Aksara ini merupakan estafet dari pentalogi tema FKY yaitu Pangan (2023), Benda (2024), Adat Istiadat (2025), Bahasa/Aksara (2026), hingga kelak bermuara pada Ritual (2027).

AKSARA

Seremoni pembukaan FKY 2026 diselenggarakan sangat meriah di hari Minggu, 13 September 2026 dengan menampilkan ratusan penari dari lima kabupaten serta pembacaan tembang macapat oleh Kunto Aji, musisi terkenal putra asli Sleman. Pembukaan ini dihadiri dan disaksikan langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Terpesona oleh cuplikan video-video dari acara pembukaan FKY di Instagram, aku dan suami memutuskan datang di hari kedua. Kami sampai di lokasi saat senja dan langsung berkeliling melihat-lihat. Lapangan Pemda Sleman yang sehari-harinya polosan saja dan hanya digunakan sebagai sarana berolahraga dengan penjual jajanan di sana-sini disulap menjadi panggung seni yang "nyeni". Dan  bahkan penamaan dua panggung di sisi barat dan timur dibuat "aksara banget". Panggung di sisi timur dinamai Panggung Taling dan panggung di sisi barat dinamai Panggung Tarung. Bagi yang belum tahu, Taling Tarung adalah bagian dari aksara jawa dan disebut sebagai sandhangan swara (tanda pelambang vokal) yang berfungsi melambangkan bunyi vokal "o". Dalam penggunaannya, taling tarung ditulis mengapit aksara yang akan dibunyikan sebagai "o". 

aksara menjaga ingatan

Meski kami datang sudah sore, banyak agenda hari itu yang masih bisa disaksikan seperti talkshow di Panggung Tarung. Di sisi yang lain terlihat pula sekelompok pengunjung sedang memainkan beberapa permainan tradisional seperti congklak, karambol dan bahkan bermain catur. Mereka tampak tak terganggu dengan riuhnya pengunjung yang memutari amben pembuat jamu tak jauh dari situ. Di sisi utara kami melihat ada pojok baca dengan van putih yang penuh buku. Buku-buku yang disediakan cukup beragam, terdapat banyak buku untuk anak-anak yang lengkap dengan gambar dan ilustrasi menarik, buku-buku sejarah, juga novel. Beberapa judul yang sempat aku ingat seperti Alice in Wonderland, Emma dari Jane Austen dan Orang Asing dari Albert Camus. Jujur masih kepikiran buku Orang Asing-nya Albert Camus wkwk. 

Panggung Tarung

serius main catur

jamu

pojok baca

Tepat ketika kami selesai berkeliling melihat-lihat kuliner yang dijajakan, azan maghrib berkumandang. Kami pun menunaikan ibadah sholat di masjid tak jauh dari Lapangan Pemda. Tertarik dengan suara-suara dari Panggung Taling, selesai sholat kami kembali ke lapangan. Di panggung sedang dipentaskan drama musikal berjudul "Sisi Lain Rara Jonggrang" yang disuguhkan oleh Sanggar Seni Ranjana. Baru sebentar menonton, suami melihat tetangga depan rumah pun sedang menonton. Jadilah kami bergabung dan menonton bersama di satu tikar piknik. Makin malam makin banyak pengunjung yang datang dan suasana pun semakin riuh dan hidup. Drama dipentaskan dengan baik diselingi lagu dengan musik yang apik dan menarik. Sesekali diselipkan kritik politik dan sosial dalam dialog dan lirik lagu yang membuat drama musikal ini menjadi jauh lebih menarik. Aku bertepuk tangan dengan semangat penuh perasaan puas dan gembira ketika pentas selesai. Sebuah perasaan unik yang hanya hadir sesaat setelah menyaksikan pertunjukan seni yang menarik. Merasakan kembali pengalaman rasa ini membawa ingatanku ke masa ketika umurku masih 20-an, masa ketika aku sedang sering-seringnya menyaksikan drama musikal dan pertunjukan seni lainnya di TBY atau PSBK. Ah, nostalgia sekali rasanya.

Panggung Taling

menonton drama musikal

Kami tidak menonton sampai akhir pertunjukan seniman kolaborator setelahnya. Ada agenda lain. Meski begitu, sebelum pergi kami menyempatkan menikmati satu lagu orkes keroncong di Panggung Tarung. Lagu berjudul Biola Kaca menjadi penutup apik kunjungan kami di FKY 2026 hari itu. Semoga  bertemu dengan pertunjukan-pertunjukan menarik lainnya di FKY 2027 mendatang!

orkes keroncong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar