23 Mei 2026
Gunung Giyanti
Kali ini aku akan ajak kalian mendaki tipis-tipis ke Gunung Giyanti via Malanggaten. Gunung ini berada di Dusun Malanggaten Desa Balesari Kecamatan Windusari Kabupatan Magelang. Basecamp Malanggaten berjarak kurang lebih satu setengah jam bermotor dari rumah kami di Jogja. Berbekal maps di handphone, aku dan suami berangkat sekitar pukul tujuh pagi dan pada pukul delapan dua puluh kami sudah sampai di basecamp.
Sebelum memulai pendakian, kami mendaftar dan membayar tiket masuk Rp10.000 per orang dan tambahan Rp5.000 untuk parkir motor. Fasilitas di basecamp Malanggaten boleh dibilang cukup lengkap. Terdapat area parkir, toilet dengan air bersih, mushola dan juga warung kecil.
 |
| tiket |
Gunung dengan ketinggian 1200 mdpl ini sering disebut sebagai gunung yang cocok untuk pemula. Jarak tempuh dari basecamp ke puncak relatif tidak terlalu jauh dengan jalur pendakian yang cukup jelas. Meski begitu, track gunung ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Berada di antara kebun kopi dan hutan yang cukup aman, jalurnya bisa dibilang terus menanjak dan jarang sekali 'bonusnya' (baca: tanah datar).
 |
| titik awal pendakian |
 |
| buah kopi |
 |
| nanjak pelan-pelan |
Ada tiga pos sebelum puncak. Belum lagi setengah jam berjalan kami sudah sampai Pos II. Karena tidak menemukan papan penanda Pos I, kuanggap tempat mendaftarkan diri kami tadi sebagai Pos I. Di jalur sebelum Pos II kami beberapa kali bertemu dan saling menyapa dengan warga lokal yang lewat. Sebagian dari mereka sedang berkebun, sebagian yang lain mengumpulkan rumput atau dedaunan untuk pakan ternak.
 |
| warga |
 |
| Pos II |
 |
| diem-diem masih nanjak terus |
Sekitar lima belas menit dari papan tanda Pos II kami sampai di Pos III. Kami beristirahat sejenak menikmati pemandangan sekaligus memberikan kesempatan bagi pendaki lain yang hendak turun. Track setelah Pos III cukup curam. Dan meski disediakan tali di tepi jalur sebagai bantuan, memberi ruang bagi yang ingin turun lalu bergantian naik rasanya lebih aman dan nyaman bagi semua.
 |
| Pos III |
 |
| track dengan tali bantuan |
Pukul sembilan tiga puluh kami sampai di puncak. Dengan ritme jalan santai (dan tentu saja foto-foto) dari basecamp sampai puncak membutuhkan waktu kira-kira satu jam. Sepertinya kami datang kurang pagi, berada di puncak saat matahari mulai meninggi rasanya begitu menyilaukan. Meski begitu, pemandangan dari puncak memang indah. Deretan perbukitan yang hijau beradu dengan birunya langit yang cerah menyegarkan mata. Dan oh, dari puncak juga terlihat Gunung Sumbing menyembul di balik batas pandang pepohonan. Saat mengedarkan pandang ke arah bawah, kami melihat sebuah candi dari kejauhan. Candi yang rencananya akan kami datangi juga setelah turun gunung. Sebuah candi yang tak jauh dari Gunung Giyanti, Candi Selogriyo.
 |
| menuju puncak |
 |
| puncak Gunung Giyanti |
 |
| tes foto dulu, silau ternyata |
 |
| coba ganti angle, masih silau juga |
 |
| silau banget yaudahlah |
 |
| tampak sedikit Gunung Sumbing |
 |
| tampak candi dari Puncak Giyanti |
 |
| otw cari tempat teduh |
Kami menghabiskan waktu beberapa lama di puncak. Mencari tempat teduh lalu mengobrol, mencamil, melihat elang-elang, bersantai. Kami turun kira-kira pada pukul sebelas. Perjalanan turun gunung hampir selalu terasa lebih cepat. Langkah yang terasa lebih ringan diselingi lari-lari kecil memangkas waktu cukup banyak. Kami sempatkan meluruskan kaki dan beristirahat sejenak di basecamp sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.
Candi Selogriyo
Masih berada satu kecamatan dengan Gunung Giyanti, Candi Selogriyo berjarak kurang lebih tiga belas menit saja bermotor dari basecamp Malanggaten. Mengikuti petunjuk peta digital, selepas dari jalan raya kami akan melihat gapura desa masuk kawasan candi. Sebelum masuk kami membayar tiket Rp10.000 per orang di loket depan gapura. Jalan menuju candi relatif kecil dengan pemandangan sawah, kebun dan perbukitan. Semakin masuk ke dalam, jalanan terasa semakin teduh dan sampailah kami di gerbang masuk kawasan candi.
 |
| tiket masuk candi |
 |
| tangga di gerbang masuk kawasan candi |
 |
| tangga (lagi) menuju candi |
Menurut catatan yang ada di lokasi, Candi Selogriyo ditemukan pertama kali tahun 1835 oleh Hartmann, Residen Magelang pada masa penjajahan Belanda. Berbeda dengan Prambanan atau Arjuna yang membentuk kompleks candi, Candi Selogriyo terdiri dari satu bangunan saja. Di setiap sisi badan candi terdapat relung dengan arca yang berbeda-beda. Di sisi utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini, di sisi barat terdapat arca Ganesa, di sisi selatan terdapat arca Rsi Agastya, dan di sisi timur terdapat dua relung dengan arca Nandishwara dan Mahakala. Uniknya, arca-arca ini tidak ada kepalanya.
 |
| arca Durga Mahisasuramardini |
 |
| arca Ganesa |
 |
| arca Rsi Agastya |
 |
| arca Nandhiswara dan Mahakala |
Cuaca yang terik terasa menyengat sebab kami berkunjung di tengah hari. Mengunjungi Candi Selogriyo pada pagi atau sore hari sepertinya lebih nyaman bila ingin berlama-lama. Setelah cukup puas melihat-lihat candi, kami pun turun mencari tempat yang lebih teduh. Di bagian bawah area candi, terdapat taman dengan latar pemandangan perbukitan yang dilengkapi dengan fasilitas mushola dan kamar mandi. Kawasan ini sepertinya dirawat dengan baik. Lingkungannya terlihat bersih dan asri.
 |
| berfoto dengan latar landmark letters Selogriyo |
Kami menutup perjalanan hari itu dengan mengunjungi kedai kopi tak jauh dari candi, Selogriyo Coffee. Menikmati semangkuk mi instan dan segelas kopi sukses menenangkan perut kami yang memang sudah sangat lapar. Dengan pemandangan perbukitan, kebun, dan sawah yang terbentang luas, menu sederhana yang kami santap rasanya menjadi lebih istimewa. Dan inilah akhir dari perjalanan kami hari ini. Saatnya kembali ke Jogja.
 |
| Selogriyo Coffee |
 |
| biji kopi koleksi Selogriyo Coffee |
 |
| makan mi instan with a view |
 |
| saatnya pulang |
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Sampai bertemu lagi di cerita-cerita perjalanan yang lain! 😁