![]() |
| Sumber: pinterest |
Jujur nonton film ini nyeseknya ada banget, tertinggal dan membekas sampai beberapa hari. Film baru yang dibintangi Koo Kyo Hwan dan Moon Ga Young ini menampilkan kisah romansa slice-of-life yang terasa realistis dan emosional.
Premisnya cukup sederhana, sepasang muda-mudi yang bertemu di bus lalu berteman begitu saja. Persahabatan mereka lambat laun berkembang menjadi cinta. Saling mendukung untuk mimpi-mimpi besar mereka. Cinta masa muda yang manis dan penuh gairah itu harus berjuang dalam badai kerasnya kehidupan kota besar. Hidup menjadi makin melelahkan, mimpi terasa semakin jauh. Mereka pun akhirnya berpisah tanpa kata. Sepuluh tahun kemudian takdir mempertemukan mereka dalam sebuah penerbangan. Kali ini, hidup yang hitam putih itu harus diakhiri dengan benar.
Alur cerita di film ini dibuat maju mundur. Berwarna untuk penggambaran masa lalu, hitam putih untuk masa sekarang. Dialog, plot, scoring, dan sinematografi terasa pas dan nyaman. Tapi di atas segala aspek dalam film ini, yang paling menonjol adalah karakter Jeong-won (diperankan Moon Ga Young) dan Eun-ho (diperankan Koo Kyo Hwan) yang diperankan dengan sangat baik. Akting keduanya berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton. Gap umur yang sulit disembunyikan dari visual pemainnya tidak terasa canggung, justru membuat film ini semakin realistis. Tidak heran bila kemudian Moon Ga Young berhasil menyabet predikat best actress dalam Baeksang Arts Awards 2026.
Ada tiga hal yang kupikir menarik di film ini:
1. Bermimpilah dan perjuangkan mimpimu
Pesannya klasik ya? Tapi tetap relevan. Eun-ho selalu bermimpi menciptakan gim yang bagus dan sukses. Berulang kali gagal dan ditolak tak menyurutkannya. Sempat ada di fase gelap tanpa harapan, tapi nyala mimpinya meskipun kecil tak pernah padam. Setelah jatuh di titik terendahnya saat berpisah dengan Jeong-won, Eun-ho kembali membakar mimpinya dan perlahan mewujudkannya.
Bagi Jeong-won yang tumbuh di panti asuhan, menjadi arsitek dan membangun rumahnya sendiri adalah mimpi yang ingin sekali diwujudkan. Namun kerasnya kehidupan terus-terusan mengecilkan mimpinya. Dan meski Eun-ho pernah berusaha membantu membangunkan lagi mimpi itu, kehidupan begitu kejam membanting mimpi itu menjadi serpihan. Setelah berpisah dengan Eun-ho, Jeong-won mengumpulkan lagi bahan bakar untuk menghidupkan mimpinya.
Eun-ho dan Jeong-won mungkin pernah jatuh sejatuh-jatuhnya, tapi mereka memilih untuk tidak berhenti.
2. Belajar untuk tahu kapan harus pergi dan melepaskan
Part ini yang paling nyesek sih menurutku. Adegan saat Eun-ho menarik kipas angin untuk dirinya sendiri. Juga saat Eun-ho menutup korden tepat di depan Jeong-won. Tak ada lagi makan bersama, tak ada lagi obrolan tentang mimpi dan masa depan. Jeong-won akhirnya mengerti, itulah saat di mana dia harus pergi.
Kupikir tidak ada yang bisa disalahkan di sini. Mereka berdua tahu, bersama hanya akan membuat segalanya bertambah berat. Jeong-won pergi karena tak ada lagi rumah baginya. Eun-ho pun tahu diri dan tak menghalagi Jeong-won pergi karena perasaan bersalahnya dan tak ingin menjadi penghalang bagi Jeong-won. Pada akhirnya mereka saling melepaskan. Perpisahan tanpa kata yang begitu menyesakkan.
3. Ada orang yang ditakdirkan hanya untuk singgah dalam hidup kita, bukan menetap
Ketika sepuluh tahun kemudian takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah penerbangan, kondisi telah jauh berbeda. Mereka tumbuh dan hidup dalam mimpi yang dulu hanya bisa dibayangkan. Tentu banyak yang ingin dikatakan, ditanyakan. Meski pada akhirnya ada beberapa penyesalan, perpisahan di masa lalu yang tanpa penjelasan diselesaikan dengan dewasa. Mereka mengerti perasaan yang masih tersisa tidak untuk dipupuk kembali. Sedih, tapi realistis.
Dan kehidupan yang hitam putih itu kini benar-benar telah berakhir.
