Jumat, 22 Agustus 2025

Kembali ke Lombok, 2025

Sekali lagi, Lombok tidak pernah menjadi asing bagiku. Kembali ke Lombok selalu terasa seperti pulang ke rumah. Tapi entah nanti, saat Mbak Ana tidak lagi tinggal di sana. Lebaran tahun ini, kami (aku dan suami) memilih untuk pulang ke Lombok. Menjauh dari Jogja.

Welcome to Lombok 😆

Setelah delay dan sempat deg-degan karena turbulensi pesawat yang rada kenceng, akhirnya kami sampai di Lombok dengan selamat. Menikmati dua hari terakhir ramadhan dan sholat ied di Lombok rasanya seperti nostalgia. Seperti mengulang adegan hari-hari di masa kecilku saat ibu masih ada. Kegiatan lebaran berkunjung ke sana dan ke mari tidak terasa menjemukan ketika aku kembali menjadi adik. Oh, begini ternyata rasanya. Rasa yang aku sendiri hampir lupa. Bertemu dengan orang-orang yang kenal dengan ibu juga dengan kawan-kawan lamaku terasa menyegarkan. 

Masjid Baitul Amal, Terara, Lombok Timur

Sholat ied bareng keponakan 🤏

Family 💖

Ngumpul

Jaja tujak

Ketemuan sama bestie jaman SD 😆

Tidak seperti biasanya saat datang ke Lombok, kali ini aku tidak banyak bepergian. Aku menikmati waktu santai dengan sebenar-benarnya. Cuma tidur dan bangun sesuka hati, makan makanan lombok yang kusukai, nonton netflix sama-sama, bermain bersama keponakan-keponakan dan deep talk bersama keluarga. Seminggu penuh. Dan ternyata itu berhasil me-recharge aku dan pikiranku, namun juga membuatku merasa hampa sesaat setelah kembali sampai di Jogja. Anehnya, suami pun merasa seperti itu wkwkwk. 

Kalaulah tidak lagi bisa kembali menjadi anak, paling tidak aku bisa kembali menjadi adik. Begitulah lebaran 2025 ini bagiku. Aku kembali menjadi adik dan berhenti mengurusi urusan orang dewasa. Aku tidak perlu berpikir tentang banyak hal dan overthinking sendirian. Aku berhenti melakukan semuanya. Aku cuma perlu menjadi adik yang merasa aman. Dan tentu saja menjadi istri yang sedang liburan bareng suami 😆

2 April 2025

Menghabiskan waktu bersama keluarga yang kita sayangi tentu menyenangkan. Tapi sayang rasanya kalau ke Lombok tidak jalan-jalan. Jadilah kami memutuskan untuk jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kami kunjungi meski cuma sehari. Iya, cuma sehari. Aku dan suami menikmati waktu seharian penuh mengunjungi tempat-tempat baru dan mengobrol. Untuk kemudian di hari selanjutnya bersantai kembali di rumah bersama keponakan-keponakanku yang menyenangkan. Kali ini aku tidak akan banyak bercerita tentang tempat yang kami kunjungi. Tapi agar tidak lupa, akan kusertakan foto-foto dari tempat yang kami kunjungi. 

Gak masuk Sade, cuma mampir Alfamart. Tapi bolehlah foto dikit 😆

Welcome to Mawun Beach














Mohon dimaafkan karena foto-fotonya nampak serupa wkwk. Aku terlalu mager untuk milih dan memang suka semuanya jadi ya udah di-upload semua saja. Emang cuma di blog sih aku bisa lebih nyaman untuk post banyak foto 😌 Semua foto tanpa filter karena pantainya emang udah secantik itu. Tapi tetap saja masih banyak sampah ditemui di sana-sini. Sampahnya juga sengaja gak difilter diilangin dari foto di blog ini. Sebagai pengingat. Semoga semua pengunjung pantai-pantai di Lombok selalu menjaga kebersihan. Sayang banget loh pantainya seindah itu.

Setelah Mawun, sebenarnya kami ingin mengunjungi sebuah pantai lagi. Tapi setelah sampai pantai yang dimaksud kok kurang menarik ya. Terlalu ramai dan lebih kotor. Akhirnya kami putar balik karena tadi di perjalanan sempat melewati resto tepi pantai yang nampaknya cantik. Resto ini sepertinya milik Tampah Hills, vila cantik yang berada di atas bukit di belakang resto dan menghadap langsung ke arah pantai dengan view Pantai Lancing yang bersebelahan dengan Pantai Tampah. Kami masuk ke restonya dan beneran secantik itu dong. Sepiiii jadi berasa pantai pribadi. Menjelang sore, bule-bule yang sepertinya menginap di Tampah Hills mulai berdatangan. Mereka bersantai, berenang, yoga atau main voli. 


Jalan menuju pantai 

Beneran sesepi ini 😍



Aliran air sungai menuju laut




Kawanan kerbau lagi lewat 😄



Santaiii



Ini enaakk 😋

Nungguin senja 💕



Udah malam, pulang dulu. Bye Tampah 👋 


Dan piknik virtualnya selesai sudah wkwk. Yah begitulah, aku melewati lebaran sekali lagi tanpa Ibu. Meski begitu, kali ini cukup menyenangkan. Kuharap akan banyak lebaran menyenangkan di tahun-tahun mendatang. Bersama orang yang kusayang.








Rabu, 01 Januari 2025

Educated



"Aku lebih menyukai keluarga yang telah kupilih, daripada keluarga yang telah diberikan padaku..."
- halaman 422 -

Dadaku terasa sesak mau meledak alih-alih menangis saat membaca buku ini. Sebuah memoar Tara Westover yang luar biasa. Tara membawa pembaca ke dunianya, ke dunia yang tersembunyi, yang keberadaannya tidak kusangka masih ada.

Tara Westover lahir dan tumbuh di Buck's Peak, pegunungan Idaho. Jauh dari masyarakat kebanyakan sehingga tidak ada yang tahu apakah anak-anak Westover pergi ke sekolah atau tidak. Dan bahkan saat salah seorang kakak laki-laki Tara melakukan kekerasan, tidak ada yang benar-benar turun tangan. Seolah itu sesuatu yang normal terjadi. Ketika kakak laki-lakinya yang lain masuk ke perguruan tinggi, Tara pun ingin mencoba kehidupan baru. Perjalanan pencariannya akan pengetahuan mengubah Tara. Membawanya jauh sampai ke universitas-universitas terbaik di dunia, Harvard dan Cambridge. Juga membawanya pada banyak hal yang ternyata bertentangan dengan apa yang selama ini ia yakini sebagai kebenaran. Apakah kelak keluarga Westover akan menerima Tara kembali dengan segala perubahannya? Atau sudah tidak ada lagi jalan untuk kembali pulang?

Tara kecil tidak pernah pergi sekolah. Sesekali ibunya mengajari membaca dan berhitung. Selebihnya Tara menghabiskan waktu membantu orang tuanya bekerja, memilah rongsokan bersama ayah dan kakaknya juga meracik ramuan bersama ibunya. Usianya tujuh belas ketika pertama kali masuk ruang kelas. Karena tidak pernah bersekolah formal sebelumnya, Tara berjuang begitu keras agar tidak ketinggalan. Dan meski harus dijauhi teman-temannya karena kebiasaannya yang tidak seperti kebanyakan orang, Tara berhasil bertahan dan beradaptasi. Otaknya yang cemerlang tidak lagi mampu disembunyikan dari diri Tara yang kikuk. Dia pun melesat jauh, mengambil kesempatan-kesempatan yang mungkin diperolehnya. Meski dia harus membayar itu semua dengan makin "jauhnya" dia dengan keluarganya.

Dalam perjalanannya, Tara menemukan bahwa yang selama ini ayahnya katakan tidak selalu benar. Tumbuh dalam keluarga patriarki, Tara harus menerima bahwa ayahnya selalu benar. Bahkan bila seluruh dunia berkata ayahnya salah, Tara dan saudara-saudaranya harus meyakini bahwa ayahnyalah yang benar. Ada sebuah bagian menyedihkan dimana Tara bahkan sampai meragukan dirinya sendiri, ingatannya, juga apa yang diyakininya benar. Dia hampir yakin bahwa dirinya salah. Aku tidak bisa membayangkan betapa sulitnya bagi Tara untuk menerima itu semua. Pendidikan membuat Tara menemukan banyak hal yang tidak diketahuinya dan juga yang selama ini disalahpahami olehnya. Tapi mendapatkan pengetahuan itu juga membuatnya merasa telah mengkhianati keluarganya.

Sesat. Bahkan ayahnya mengatakan Tara telah tersesat. Tidak sampai di situ saja, ketika Tara berusaha menolong keluarga itu dan mengungkap tentang kekerasan yang dilakukan salah satu kakak laki-lakinya, dia dikhianati oleh keluarganya sendiri. Oleh kakak perempuannya. Juga oleh ibunya. Jujur di bagian itu, rasanya sesak sekali. Aku seperti ingin melompat dan menyeret Tara keluar dari keluarga itu. Aku ingin berkata padanya untuk menyudahi itu semua. 

"Ketika hidup itu sendiri tampak gila, siapa yang tahu di mana letak kegilaan itu?"
- halaman 451 -

Aku tahu, bahkan ketika keluargamu sendiri memperlakukanmu begitu buruk, kamu tidak bisa serta merta melepaskan diri. Sekalipun rasanya kamu mampu. Lebih nyaman untuk merasa diterima, dibanding harus merasa berbeda dan berjuang sendirian. Sekalipun apa yang diperjuangkan itu kebenaran. Kita seringkali tidak sadar telah sangat jauh memberikan diri kita sendiri kepada orang-orang yang kita cintai.

Kupikir, Tara Westover menulis memoar 500 halaman ini dengan sangat baik. Tara dengan berani membawa kisahnya yang tak biasa dan menuliskannya dengan indah. Meski aku yakin, banyak hal menyakitkan yang harus dia ingat kembali.  Setelah membaca memoar ini, aku tidak berharap apapun selain kebaikan dan kebahagiaan untuk Tara. Dia pantas mendapatkan itu.

Omah Petroek, Rumah Budaya dengan Seribu Patung

Hujan turun hampir setiap hari. Pada musim seperti ini suara hujan yang berpadu dengan aroma petrikor seringkali membawa pikiran ke tempat yang lain, di waktu yang telah lalu. Kali ini aku teringat sebuah perjalanan ketika mengunjungi Omah Petroek bersama suami. Saat itu bulan September dan udara terasa begitu panas. Mengunjungi tempat yang lebih tinggi dengan hawa yang lebih dingin terdengar seperti ide yang bagus. 

1 September 2024

Kaget gak?

Omah Petroek adalah rumah budaya yang berada di kawasan Kaliurang, tepatnya di Hargobinangun, Pakem, Sleman. Didirikan di bawah naungan Yayasan Basis, sebuah yayasan di bidang majalah kebudayaan, Omah Petroek dikelola oleh Romo Sindhunata, seorang Romo yang sekaligus budayawan dan juga penulis. Pada mulanya, Omah Petroek digunakan oleh Romo Sindhunata sebagai tempat menyepi dan mencari inspirasi. Seiring berjalannya waktu dengan dukungan dari berbagai pihak, Omah Petroek berkembang semakin luas dengan fasilitas yang lebih baik dan beragam. Ada galeri seni, museum, area menginap yang disewakan, taman, toko buku dan juga kedai kopi.


Nama Omah Petroek diambil dari tokoh pewayangan Jawa, Petruk. Petruk dalam pewayangan Jawa adalah sosok yang sederhana, jenaka, cerdas, pendengar yang setia juga kawan yang baik. Sepertinya itu juga yang mendasari Romo Sindhunata membuat slogan "Kita Berteman Sudah Lama" di Omah Petroek, untuk meneladani sosok Petruk.


Dengan membayar tiket seharga Rp 20.000 per orang (kami berkunjung di akhir pekan), kami sudah bisa bebas mengunjungi seluruh area di Omah Petroek. Begitu melewati pos tiket, kami disambut oleh patung Bung Karno yang menjulang. 

Patung Bung Karno


Dikelilingi banyak patung lain di sana sini, tidak berlebihan rasanya kalau Omah Petroek mendapat julukan sebagai tempat seribu patung. Kami berkeliling ke museum, galeri seni, taman dan area outdoor, area penginapan, toko buku dan berakhir di kedai kopi yang bernama Kopi Petroek Nusantara. 



Di museum kita akan disuguhi banyak benda dari masa lalu terutama yang berhubungan dengan majalah Basis dan Romo Sindhunata. Di galeri seni kita akan menjumpai karya seni seperti patung, lukisan, seni instalasi juga bermacam karya seni lainnya dari banyak seniman. 

Museum Anak Bajang






Di taman dan area outdoor terdapat banyak sekali patung, kolam, dan juga miniatur bangunan peribadatan lintas agama seperti langgar (mushola), kapel, klenteng, dan juga candi. 

Mbok Turah


Langgar/mushola dengan patung Gus Dur

Kapel

Klenteng


Candi

Karya favoritku di Omah Petroek adalah patung sekumpulan lelaki paruh baya berpakaian adat jawa yang sedang berkumpul dalam sebuah acara tumpengan. Kesan yang ditimbulkan saat melihat patung-patung itu rasanya kompleks sekali. Perpaduan antara unik, tradisional, hangat sekaligus mistis.




Menikmati banyak karya seni dengan suasana yang teduh dan sejuk dikelilingi hijaunya pepohonan menghadirkan perasaan damai dan tentram. Beruntung saat kami berkunjung tidak terlalu ramai, sehingga kami bisa menikmati suasana Omah Petroek dengan tenang. Setelah mengelilingi seluruh area di Omah Petroek, tur kami akhiri dengan menikmati sajian di Kopi Petroek Nusantara. Kopi Petroek Nusantara adalah kedai di kawasan Omah Petroek yang menyajikan beraneka hidangan dan kopi dari beragam biji kopi khas Nusantara. Kedai ini dapat dikunjungi tanpa harus masuk ke museum/galeri Omah Petroek. Sambil menunggu pesanan makanan siap, aku masuk dan melihat-lihat toko buku yang berada persis di sebelah kedai.

Penginapan



Setelah cukup lelah berkeliling Omah Petroek, perut pun terasa lapar. Melahap sajian Kopi Petroek Nusantara rasanya jadi nikmat sekali. Usai menandaskan makanan yang dipesan, kami bersantai sejenak sebelum pulang. Kunjungan ke Omah Petroek kami kali ini menjadi perjalanan yang menyenangkan dan kupikir bisa dijadikan alternatif destinasi yang menarik untuk dikunjungi di Jogja. Terima kasih sudah membaca sampai selesai dan sampai jumpa lagi di perjalanan kami berikutnya.

Sampai jumpa lagi

Selasa, 24 Desember 2024

As Long As The Lemon Trees Grow



Berita tentang lengsernya rezim Bashar Al-Assad di Suriah baru-baru ini membawa memoriku kepada sebuah buku berjudul As Long As The Lemon Trees Grow. Sebuah buku dengan latar perang di Suriah yang kisahnya membuatku menangis beberapa kali.

Buku dengan cover cantik ini berkisah tentang seorang gadis bernama Salama yang kehilangan banyak hal di usianya yang masih muda akibat perang Suriah. Salama kehilangan orang tua, kakak laki-lakinya, kehidupan remajanya juga harapan-harapannya. Trauma, keputusasaan, juga ketakutan-ketakutan memengaruhi Salama lebih jauh dan dalam. Dan bahkan mewujud dalam sosok tak kasat mata yang hanya bisa dilihat oleh Salama. Dia pun menamai sosok itu Khawf. Khawf berarti ketakutan atau fear dalam Bahasa Inggris. Khawf mendorong Salama untuk pergi meninggalkan Suriah. Namun Salama bertemu Kenan, pemuda yang berusaha bertahan dan membela negara dengan caranya. Apakah Salama tetap akan pergi?

Penulis buku ini, Zoulfa Katouh, piawai menggambarkan peristiwa yang terjadi di Suriah hingga terasa begitu nyata. Di novel 480 halaman ini kita akan disuguhi pedihnya peperangan dan kehilangan, perjuangan dan kemanusiaan, romansa tipis dua anak manusia, budaya dan kebiasaan di Suriah, juga penggambaran iman serta harapan yang membuat manusia sanggup bertahan. 

Banyak bagian di buku ini yang membuatku berkaca-kaca dan meneteskan air mata. Tapi derai paling deras adalah saat mengetahui kenyataan tentang Layla, sahabat sekaligus kakak ipar yang berusaha dijaga oleh Salama. Kenyataan sepedih itu membuatku membayangkan bahwa hal serupa juga mungkin terjadi pada mereka di Palestina. Dan itu membuat dadaku terasa lebih sesak. Rasanya seperti iman dan harapan adalah hal yang tersisa bagi mereka, meski begitu kuharap itu cukup untuk menguatkan. Untuk bertahan dan meneruskan perjuangan. Hingga kemenangan dan kemerdekaan itu menjadi kenyataan.


"Kau tidak perlu merasa bersalah saat memikirkan masa depanmu. Kita tidak perlu berhenti hidup hanya karena kita akan mati. Siapa pun bisa tewas sewaktu-waktu, di mana pun di dunia ini. Kita bukan pengecualian. Kita hanya lebih sering melihat kematian daripada mereka."
~ halaman 132 ~

Sabtu, 14 Desember 2024

Aneh



Aku mengingat obrolan bersama seorang kawan pada suatu sore yang sendu. Kami pernah menjumpai manusia yang serupa meski bukan orang yang sama. Dan obrolan sore itu pun mengalir.

Bukankah aneh, ketika kita terbiasa membantu menjalankan kewajiban seseorang lalu orang yang punya kewajiban tidak merasa sungkan dan malah merasa itu sudah seharusnya? Namun ketika kita tidak lagi mau melakukannya, orang-orang itu sibuk berteriak kita jahat.

Ya, kupikir itu memang aneh. Tapi nyatanya itu memang bisa terjadi. Dan itu bisa menimpa siapa saja.

Ketika seseorang terbiasa dengan kemudahan-kemudahan dalam hidupnya, terbiasa dibantu, tanpa menyadari bahwa kewajibannya sudah dijalankan oleh orang lain dengan maksud membantu tapi malah dianggap sebagai 'memang semestinya begitu'. Lalu ketika seseorang itu dihadapkan pada kenyataan yang sesungguhnya, dia berusaha mencari pembenaran-pembenaran untuk dirinya sendiri. Berkeras seolah kita lah yang jahat hingga kita pun hampir percaya bahwa kita benar-benar jahat. Sungguh tidak adil.

Batasan.

Kami ~aku dan kawanku~ bersepakat dalam hal ini bahwa menerapkan batasan pada orang-orang seperti itu adalah sesuatu yang penting. Pada awalnya mereka mungkin akan berisik sekali. Berkata kita jahat, tidak mau mengerti, atau egois sekali. Mereka mungkin juga marah. Hubungan mungkin memburuk tapi kurasa itu tidak apa-apa. Kita tidak harus menyenangkan semua orang. Kupikir mereka harus tahu, bahwa kita juga punya hak yang sama dan bukan kewajiban kita untuk terus menerus membantu. Seperti halnya mereka ingin dimaklumi, kita pun boleh merasa ingin dimengerti. Cukup adil kan?

Obrolan kami berakhir dengan kesepakatan itu. Kami sepakat untuk belajar memberi batasan demi menjaga kewarasan diri sendiri. Bukankah menjaga dan mencintai diri sendiri dengan baik adalah kewajiban kita yang sesungguhnya?