Sabtu, 06 Juli 2024

Kata Favorit: Ibu

Ibu adalah kata favoritku. Menurut KBBI kata Ibu memiliki arti wanita yang telah melahirkan seseorang; sebutan untuk wanita yang sudah bersuami; panggilan yang takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun yang belum; bagian yang pokok; yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting.


Tapi sejak Ibu berpulang 17 tahun lalu, kata Ibu memiliki makna yang lebih luas untukku. Ibu juga bermakna perpisahan; kematian; sendirian; rindu; pulang; rumah; dingin; langit; senja; hujan; hutan; gunung; laut; bunga; buku; teman. Sejak tak lagi bisa melihatnya, Ibu menjelma menjadi semua kata.

Ibu adalah kata yang tidak pernah menjadi asing. Sekalipun aku tidak pernah lagi bisa memanggilnya. Sekalipun aku tak pernah lagi bisa menyentuhnya. Tapi aku selalu bisa menuliskannya. Menulis tentangnya.

Dan bahkan ketika akan memberi nama usaha kecilku yang baru, yang terpikir adalah Madre. Sebuah kata dengan makna yang sama, Ibu. Kupikir, dengan begitu Ibu akan memberi restu.


***
Unggahan hari ke-17 #30haribercerita dengan tema Kata Favorit.

Jumat, 05 Juli 2024

Olahraga Ra Sepiro, Jajane Ra Kiro-kiro


Minggu pagi beberapa bulan lalu aku lari pagi di lapangan Pemda. Tentu saja niat berolahraga itu didorong oleh angka di timbangan yang terus bergerak naik. Berat rasanya (badan ini). Ditemani suami, aku pun melaksanakan niatku yang terpuji itu.


Setelah satu putaran, aku memperlambat tempo lalu akhirnya berjalan. Sudah lama tidak berolahraga, ngos-ngosan juga. Saat berjalan, kami melewati sekumpulan remaja yang sedang ngobrol. Dan tepat saat kami melewati mereka, salah seorang berkata pada temannya, "Olahragane ra sepiro, jajane ra kiro-kiro" (Olahraganya gak seberapa, jajannya gak kira-kira/banyak). Seketika suami melihat ke arahku dan terkikik. Tatapannya seolah berkata, "Kamu banget."

Setelah beberapa kali lari pagi di lapangan Pemda memang ujung-ujungnya jajan sih. Lari satu putaran, pulangnya bawa banyak tentengan. Mulai dari donat, bomboloni, mille crepes, lumpia, serenteng ciki yang lagi promo dan jajanan-jajanan lainnya. Selain ramai sebagai tempat olahraga, di sekitaran lapangan Pemda Sleman terutama pada hari Minggu memang banyak pedagang makanan. Yaudah gimana dong. Godaan jajan makanan memang sulit ditahan.

Dan sekarang, tiap kali aku mengajak lari pagi ke lapangan Pemda, sambil tergelak suami akan mengucapkan mantra olahraga ra sepiro jajane ra kiro-kiro. Ada yang gitu juga gak sih? 😆

***
Unggahan hari ke-14 #30haribercerita

Teka-Teki Rumah Aneh


Buku ini adalah buku pertama yang kuselesaikan di tahun 2024. Tipe novel yang page turner, jadi bisa selesai bahkan dalam sekali duduk. Novel 220 halaman ini memiliki format dialog. Baru pertama sih kayaknya baca novel dengan format seperti ini, ternyata seru dan berasa kayak lagi ngobrol. Terjemahannya pun oke.


Novel ini bercerita tentang seseorang yang ingin membeli rumah bekas di Tokyo. Sebenarnya dia suka rumah itu karena lingkungannya yang bagus, tapi melihat tata letak rumah yang agak aneh akhirnya dia meminta tolong temannya (tokoh utama) untuk membantu mengecek denah rumah.

Tokoh utama pun kemudian mengajak kenalannya yang seorang arsitek untuk berdiskusi tentang denah rumah itu. Dari diskusi mereka berdua muncul beragam asumsi. Mulai dari asumsi yang biasa saja sampai asumsi terliar yang mampu mereka pikirkan.

Makin dibaca malah makin deg-degan dan makin mikir ya ampun gila sih. Gak kepikiran. Siapa sangka dibalik denah rumah yang aneh itu menyimpan cerita dan rahasia turun temurun yang mengerikan. Dan endingnya novel ditutup dengan asumsi liar (lagi-lagi) dari sang arsitek. Bikin penasaran aja 😌

Gak mau spill banyak sih biar serunya gak hilang pas kalian baca sendiri bukunya 🤭

***
Unggahan hari ke-9 #30haribercerita

Apakah Aku Cukup Mencintai Diriku Sendiri?

Akhir tahun lalu, aku menonton sebuah series Korea berjudul Daily Dose of Sunshine. Banyak insight yang kudapat setelah menonton series yang dibintangi Park Bo-young ini. Ada bagian yang sempat kutulis di blog juga biar tidak lupa.


Selesai menonton aku sempat bertanya pada diriku sendiri, "Apakah aku sudah berterima kasih pada diriku sendiri?", "Apakah aku cukup mencintai diriku sendiri?"

Kita sering kali lupa berterima kasih pada diri sendiri. Untuk banyak hal yang telah berhasil dilewati, untuk tetap berjuang dan tidak menyerah, untuk menerima dan bersabar, untuk belajar dan bertumbuh, dan bahkan untuk menyelesaikan hal-hal kecil yang seringkali dianggap biasa saja.

Dan kadang, kita lupa mencintai diri kita sendiri. Kita sibuk mengurus banyak hal, memenuhi kepentingan orang lain, begitu peduli pada pendapat orang lain sampai lupa mendengarkan suara dan keinginan sendiri juga lupa beristirahat untuk diri sendiri.

Melalui series ini aku merasa kembali diingatkan. Bahwa memiliki keinginan sendiri bukanlah suatu kejahatan. Dan tidak apa-apa mengatakan 'tidak' pada orang lain. Bahwa sesekali kita harus berterima kasih pada diri sendiri dan tidak lupa mencintai diri sendiri.

***
Unggahan hari ke-8 #30haribercerita

Sebenarnya tulisan tentang drama ini pernah aku unggah di blog juga. Selengkapnya silakan baca http://kertas-daurulang.blogspot.com/2023/12/daily-dose-of-sunshine.html?m=1

Bila Tak Ada Esok Pagi


Pada suatu malam di bulan Oktober yang sendu ~sendu karena lelah akibat lembur kerja beberapa minggu~ aku datang ke tempat fotokopian. Aku berniat merevisi instruksi dan menambah laporan yang harus dijilid.

"Pak, maaf gak jadi ambil sekarang. Jadinya tambah satu jilidan ya. Kalau misal diambil besok pagi bisa?", tanyaku.
"Gimana kalau besok pagi gak ada?"
"......."
Jujur aku gak ngerti apa yang lagi diomongin bapak fotokopian. Apakah maksudnya fotokopiannya tutup? Atau gak bisa selesai besok pagi? Waktu itu aku benar-benar sedang lelah, lapar, ngantuk, otak pun rasanya jadi lambat berpikir. Akhirnya aku bertanya setelah hening beberapa saat.
"Gimana, Pak?"
"Gimana kalau gak ada besok pagi?"
Setelah pertanyaannya diulang, aku mulai paham. Ya Allah si bapak 😭
"Ehee..insyaaAllah ada besok pagi," jawabku.
Dan si bapak fotokopian pun cuma nyengir.

Hidup lagi capek-capeknya dan diingatkan bapak fotokopian kalau hidup cuma sementara. Bisa saja tidak ada esok pagi untuk kita.

***

Unggahan hari ke-4 #30haribercerita

Jumat, 23 Februari 2024

2024

 


2024 diawali dengan ikut #30haribercerita lagi. Tahun ini rasanya kurang greget, ide juga sering macet. Meski tentu saja diusahakan konsisten 30 hari. Apa sebaiknya tidak ikut dulu tahun depan?

Seperti tahun lalu, ada beberapa tulisan yang akan aku post ulang di blog. Sebagai pengingat. Karena kadang-kadang aku ingin mengarsipkan beberapa postingan di instagram. Biar gak kebanyakan. Hehe.

Aku berharap 2024 membawa perubahan baik. Untuk apapun itu.

Kamis, 14 Desember 2023

Wonosobo, 2023


Setelah beberapa bulan yang penuh lembur dan stres karena pekerjaan, sepertinya aku layak (atau butuh) untuk sebuah liburan singkat (meskipun inginnya lamaan dikit). Sisa cuti tahun ini pun kuambil. Namun belum ada rencana akan ke mana. Pilihan liburan masih seputar Dieng, Malang, atau goler-goler saja di rumah. H-1 malam aku dan suami masih diskusi dan belum ada keputusan wkwk. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan Dieng akan kembali menjadi tujuan kami kali ini. Malam itu juga kami menentukan beberapa destinasi yang akan kami kunjungi, reservasi hotel dan packing. Super kilat.

16 November 2023

Sekitar pukul tujuh lewat tiga puluh menit pagi kami bersiap berangkat. Kali ini kami akan mencoba rute baru, lewat Borobudur. Menurut map, rute ini dapat memangkas waktu perjalanan hingga satu jam. Aku hanya berharap jalannya bagus dan tidak hujan. Sempat bertemu gerimis dan gerimis agak deras meski sebentar. Kami cukup berteduh beberapa saat di emperan toko dan tidak perlu memakai jas hujan. Alhamdulillah sesuai perkiraan map, kami sampai di homestay dalam waktu dua jam beberapa menit saja. Tapi karena belum masuk jam check-in, kami hanya menitip tas dan kemudian pergi jalan-jalan. Cuaca Wonosobo hari itu tidak cerah, mendung tapi tidak hujan. 

Berbekal panduan google map, kami melihat beberapa dari list destinasi yang ingin kami kunjungi berada di sekitaran homestay. Yaudah langsung gas aja kan. Tujuan pertama adalah Gunung Cilik. Tapi siapa sangka justru jalan menuju Gunung Cilik malah lebih ciamik. Kami melewati kelok jalan di tengah Kebun Teh Bedakah yang syahdu. Hujan sepertinya baru saja turun dan menyisakan kabut yang menambah keelokan kebun teh. Foto-foto dulu dong tentu. Masa iya secantik itu pemandangannya gak berhenti dan foto.

❤

teh

blusukan

setelah kabut hilang

Puas berkeliling area kebun teh, kami menuju Gunung Cilik. Lepas dari jalan raya, jalan menuju pos masuk Gunung Cilik sungguh membutuhkan keterampilan berkendara. Jalannya masih berupa batu-batu yang tidak rata dan kupikir akan licin saat hujan turun.Tiket masuk Gunung Cilik 10.000 rupiah per orang sudah termasuk biaya parkir. Setelah membayar tiket masuk, kami pun mulai berjalan mendaki Gunung Cilik. Gunung (bisa disebut bukit kurasa) ini memiliki ketinggian 1550 mdpl dan bisa ditempuh sampai ke puncaknya kurang lebih 15 menit berjalan kaki. Kami sempat kehujanan di tengah jalan menuju puncak gunung. Alhamdulillah hanya sebentar lalu reda. Beruntung hanya ada kami berdua saat di puncak, bisa puas berfoto. Pemandangan dari puncak gunung sungguh luar biasa. Hamparan kebun teh dengan kabut di sana sini menambah kecantikannya. Meski sayang sekali Gunung Sindoro-Sumbing tidak terlihat karena mendung. Apakah ini artinya kami harus ke sana lagi lain kali?

menuju pos masuk Gunung Cilik

track

puncak Gunung Cilik

pemandangan dari puncak

foto sendiri dulu

foto berdua

ganti pose

pose apa lagi ya?

pose pura-pura menatap masa depan

yaudah lah ya bebas aja

Kami turun dari puncak gunung saat mulai banyak pengunjung yang datang. Hari belum terlalu sore, sepertinya sempat ke destinasi kedua. Telaga Bedakah. Saat kami sampai di tujuan, ternyata Telaga Bedakah tidak seperti yang terlihat di foto-foto instagram. Telaganya tidak terlalu besar, Gunung Sindoro-Sumbing pun sedang tidak terlihat, dan lagi saat kami sampai banyak rombongan piknik ibu-ibu yang memenuhi sudut-sudut teduh. Beruntung kami bisa melihat dari luar situasinya dan memutuskan untuk tidak masuk. Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang (agak sore) sebelum kembali ke homestay untuk beristirahat.

17 November 2023

Hari kedua. Bangun pagi dengan embun sejuk di seluruh permukaan pintu kaca rasanya sungguh berbeda, menyegarkan. Menyenangkan menikmati pagi dengan santai, menikmati teh hangat dan sempat membaca buku serta tidak terburu-buru dan berusaha tepat waktu menyiapkan segalanya. 

selamat pagi

Hari ini kami berencana mengunjungi Kebun Teh Tambi. Destinasi selanjutnya diputuskan nanti saja melihat cuaca. Berangkat dengan santai, kami sarapan dulu di kedai sop ayam dan tiba di Kebun Teh Tambi sekitar pukul sepuluh pagi. Kami membayar 10.000 rupiah per orang untuk tiket masuk Kebun Teh Tambi/Patean Tambi. Berbeda dengan saat terakhir kali aku berkunjung belasan tahun lalu, Tambi sekarang sepertinya dikelola cukup baik sebagai tempat wisata. Disediakan jembatan kayu bagi para pengunjung, selain menambah kenyamanan kurasa ini sekaligus untuk mengurangi kerusakan pohon teh dari tangan-tangan jail pengunjung. Terdapat pula kedai kopi mungil di area kebun. Tempat yang cocok sekali untuk bersantai, kecuali di bagian banyaknya lalat. Entah karena apa banyak sekali lalat beterbangan, sungguh mengganggu. Puas berkeliling kebun teh, aku bersantai di kedai kopi sambil menunggu suami yang keluar sebentar untuk shalat jumat di masjid. Sekembalinya suami dari sholat jumat, kami bersantai sejenak lagi menikmati teh sebelum beranjak pergi makan siang. 

Patean Tambi

hamparan kebun teh

jembatan kayu



ngeteh with a view

ngobrol

Makan siang kami kali ini makanan khas kota Wonosobo, mie ongklok. Dulu, saat kali pertama mencoba makan mie ongklok aku kurang menyukai rasanya. Kali ini aku ingin mencoba lagi di kedai mie ongklok Bang Amir dan kupikir rasanya cukup enak. Mie ongklok sudah termasuk pelengkapnya sate lima tusuk dihargai 15.000 rupiah saja. Makan siang murah meriah dan enak.

mie ongklok

Cuaca cukup bersahabat meski tidak cerah. Setelah makan siang, kami menuju destinasi kedua untuk hari ini, Telaga Menjer. Telaga atau danau yang berada di ketinggian 1300 mdpl ini terbentuk akibat letusan vulkanik di kaki Gunung Pakuwaja. Dengan luas kurang lebih 70 hektar dan kedalaman 50 meter, Telaga Menjer menjadi telaga terluas di Kabupaten Wonosobo. Selain menjadi tempat wisata, Telaga Menjer dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik melalui PLTA Garung. Pemandangan di Telaga Menjer sungguh cantik. Bila sedang beruntung, Gunung Sindoro pun dapat terlihat dari telaga ini. Disediakan banyak perahu mesin untuk pengunjung yang ingin berkeliling telaga. Kami tidak mencoba naik perahu dan hanya berjalan-jalan di tepian telaga, duduk menikmati pemandangan dan mengobrol sampai sore.

Telaga Menjer



gak tau suami pake filter apa, berasa di film Twilight wkwk

Sudah lewat jam empat sore ketika kami beranjak dari Telaga Menjer. Saatnya pulang ke homestay. Saat di tengah perjalanan, tidak sengaja aku melihat Gunung Sindoro (mudah-mudahan gak salah) yang sejak hari pertama di Wonosobo tertutup kabut dan mendung. Langsung mlipir dong, foto dulu. 

keliatan dikit juga gak papa

lebih dekat lagi

Setelah gunungnya tertutup awan lagi kami melanjutkan perjalanan. Mampir dulu ke masjid buat sholat. Taunya di sebelah masjid ada yang jual martabak mini, yaudah jajan sekalian. Di gerobaknya sih tertulis martabak mini, nyatanya martabaknya gak semini yang biasa dijual di Jogja. Cukup besar dan harganya murah aja dong. Mulai 2.500 rupiah aja tergantung rasa yang dipilih. Karena cuaca mulai dingin dan martabaknya hangat plus terlihat menggiurkan jadilah kami ngemper dulu di tangga masjid makan martabak mini yang gak mini. Nikmat sekali.

makan martabak mini di emperan masjid


18 November 2023

Hari terakhir di Wonosobo. Hari ini niatnya mau bersantai aja di homestay sebelum check-out. Setelah sarapan, mas suami berenang di kolam renang sedangkan aku baca buku aja di tepian kolam. Sungguh pagi yang santai. Menjelang siang, kami packing, check-out, berangkat ke Dieng. Haha. 

ada yang seneng mainan flamingo karet

homestay tempat kami menginap

Kawah Sikidang menjadi destinasi pertama saat sampai Dieng. Berbeda dengan kunjungan terakhir kami, sekarang di Kawah Sikidang telah disediakan jembatan kayu untuk pengunjung. Lebih nyaman dan estetik. Kami membayar 20.000 rupiah per orang untuk tiket terusan Kawah Sikidang dan Candi Arjuna. Kawah Sikidang merupakan kawah aktif terbesar di dataran tinggi Dieng yang terbentuk akibat letusan gunung berapi pada jaman dahulu. Di kawah ini kita bisa melihat lumpur yang meletup-letup dan mengeluarkan kepulan asap putih dengan bau belerang yang khas. Jangan lupa pakai masker terutama saat berada dekat dengan kawah. 

mandatory selfie, biar inget ini di mana wkwk

cari tempat teduh dulu. buat apa?

buat makan dong, jajan baby potato khas Dieng

jalan menuju kawah

Kawah Sikidang

yang penting ada foto di depan kawah

Cukup puas berkeliling, kami beranjak menuju Kompleks Candi Arjuna. Konon, Candi Arjuna diperkirakan sebagai candi tertua di Jawa. Dibangun pada abad ke-8 Masehi, candi ini ditujukan sebagai tempat persembahyangan umat Hindu di masa Mataram Kuno. Selain Candi Arjuna, di kompleks ini juga terdapat candi lain yaitu Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Karena sudah beberapa kali mengunjungi dan situasi cukup ramai (mungkin karena datang di hari Sabtu) kami sebentar saja di Candi Arjuna. 

di Candi Arjuna

mau ngapain ya? udahlah rame, panas lagi

yaudah pulang aja yuk

oke, foto sekali lagi

Saatnya benar-benar pulang ke Jogja. Tapi oh, karena sudah berada di Banjarnegara sebaiknya beli dawet ayu dulu. Biar merasakan keotentikan dawet ayu khas Banjarnegara yang belinya di Banjarnegara wkwk. Dawet ayu yang manis menutup liburan singkat kami kali ini.

dawet ayu asli Banjarnegara

Sampai jumpa lagi, Dieng. Sampai jumpa lagi, Wonosobo.