Minggu, 23 Desember 2012

3676 mdpl (1) : perjalanan pun dimulai



The Team...
Andi Budiman. Kerap dipanggil Kang Andi, Ayah Andi, juga Kangkung. Pemilik tubuh yang keterlaluan tingginya ini secara tak tertulis sudah menjadi semacam leader di tim kami. Pembawaannya yang tenang *kalo nggak mau disebut datar* membuat kami semua percaya sepenuhnya. Selalu berusaha menyelesaikan masalah tanpa membuat yang lain panik. Akang satu ini meskipun terkesan pendiam, tapi kalau sudah nyeletuk, dapat dipastikan kami bakalan ngakak maksimal. Ditambah lagi ekspresinya yang selalu datar, lempeng banget. Kami serombongan sepakat menjagokan Kang Andi ikutan Stand-up Comedy. Bakal kami dukung 100% :D


Syahroni Akbar Prabowo.  Kang Arai, Kang Oni, Kang Roni, Papih Arai, Abang dan entah ada berapa banyak lagi sebutan akrabnya. Rasanya sudah sepaket antara Kang Andi dan Kang Arai ini. Dimana ada Kang Andi, disitu pula lah ada Kang Arai. Begitu pun sebaliknya. Alhamdulillah perawakan Kang Arai tidak se-menjulang Kang Andi :p. Akang berkaca-mata ini pandai “ngemong”, berpikiran positif, meskipun kadang jail dan isengnya bikin geregetan -_-‘’



next: Teza, Teh Nadia...

***
Sebuah perjalanan selalu dimulai dari langkah pertama. Dan perjalanan ini bermula dari ajakan Teza mendaki Gunung Semeru. Awalnya aku menolak, dengan alasan baru beberapa bulan yang lalu kesana. Pun mengingat cuti yang tersisa di tahun ini tinggal 3 hari. Di beberapa hari kemudian ajakan Teza datang lagi. Dengan iming-iming adanya tanggal merah, maka cuti yang diambil pun bisa diperpendek harinya, ittenerary pun menjadi masuk akal untuk dijalani. Setelah melewati pelbagai pertimbangan termasuk di dalamnya adalah kerinduan akan kejutan di Semeru *haish*, diputuskan aku akan ikut trip kali ini. Bismillah...

Perlengkapan sudah disiapkan, tiket PP sudah dipesan, tinggal packing akhir saja. Tidak sabar rasanya menanti hari H tiba. Sesuai kesepakatan, kami semua akan bertemu di Stasiun Kotabaru Malang pagi hari tanggal 15 November 2012. 

Rabu, 14 November 2012

Pagi...
Lagu Danger Line berseru-seru dari telepon selulerku. Dari Teza. Membahas persiapan untuk pendakian esok hari. Teza sudah selesai packing, sedangkan aku? Cuma bisa cengar-cengir melihat lantai kamar yang penuh dengan aneka perlengkapan yang belum dimasukkan ke keril mungilku. Tak berapa lama dari telepon Teza, Mbak Nurul mengirim pesan singkat. Ada kabar jalur pendakian ke Semeru ditutup. Heuuu... :( Danger Line melengking-lengking lagi. Kali ini dari Kang Arai. Masih tentang persiapan pendakian. Juga membahas isu yang tengah marak dibicarakan, tutupnya jalur pendakian ke Semeru. Kang Arai berusaha meyakinkan aku untuk terus berfikir positif. Yang penting sampai Malang dulu besok pagi. Urusan ditutup atau tidak, yang penting diusahakan dulu. Oke, sip!

Dan sepanjang pagi hingga siang itu, Danger Line menjadi lagu yang paling sering kudengar. Ada Mas David, Rian, Mbak Endah, Mas Ain, dan entah siapa lagi yang turut berperan serta membuat Mas Shadows bernyanyi tak henti :D. Pembicaraan di telepon pun tak jauh-jauh dari tema tutupnya jalur pendakian yang kabarnya akibat membludaknya  jumlah pendaki dari rombongan Avtech. Ada kekhawatiran dalam hati bahwa pendakian ke Semeru kali ini akan gagal. Tapi seperti kata Kang Arai, yang penting sampai Malang dulu, usaha maksimal dulu.

Ba’da isya...
Siap berangkat. Rencana awal: rumah-rumah sepupu [pinjam nesting]-makan malam-Stasiun Lempuyangan. Tapi apa mau dikata, sehabis mengambil nesting pinjaman, hujan turun dengan derasnya. Berteduh pun nampaknya hanya akan membuang waktu saja. Akhirnya dengan tekad bulat bermodal 1 mantel hujan untuk dipakai 2 orang berboncengan, aku pun berbasah-basah ria. Rencana makan malam pun batal. Yang penting sampai stasiun dulu karena hujan nampaknya tak hendak reda. Alhasil sampai stasiun dengan kondisi yang cukup mengenaskan :p. Celana total basah, jaket pun tak luput dari guyuran air hujan. Meski begitu, di stasiun aku disuguhi pemandangan yang membuatku senyum-senyum sendiri. Begitu banyak anak manusia dengan keril besarnya memenuhi stasiun. Nampaknya gerbong kereta akan dipenuhi pendaki dengan berbagai destinasi :D

21:40
Tibalah jam keberangkatan kereta yang akan membawaku ke Surabaya, kota transit sebelum ke Malang. Setelah dadah-dadah sama para pengantar :D *makasih Mba Nurul celana daruratnya :p*, aku pun memasuki gerbong terdepan kereta seorang diri. Duduk di samping bapak paruh baya yang hendak pulang ke kampung halamannya, Madiun. Di depan sana, di belakang sana, arah jam 7, pun arah jam 11 aku melihat banyak anak muda yang ditilik dari keril-kerilnya memiliki agenda kegiatan yang sama denganku, mendaki gunung. Kereta berangkat sepuluh menit kemudian.

Kamis, 15 November 2012

Dijadwalkan kereta yang kutumpangi akan sampai di Stasiun Gubeng pukul 02:40. Namun karena keberangkatan mundur sepuluh menit, maka sampai stasiun tujuan pun menjadi mundur sepuluh menit. Rencana awal adalah sampai stasiun lalu mengantri tiket kereta lokal jurusan Malang, kereta Penataran. Loket belum lagi dibuka, namun sudah terlihat banyak sekali yang mengantri di depan pintu. Aku pun ikut mengantri di depan pintu.

03:30 pintu dibuka. Dan layaknya kumpulan ikan yang dilepas dari jaring, kami semua tumpah, merangsek berebut masuk ke dalam stasiun. Berusaha mendapatkan tempat paling depan. Apa daya dikarenakan tubuhku yang mungil dan membawa keril yang ehm..ukurannya tidak jauh beda dengan badanku, aku pun terdesak-desak di belakang. Pyuuhh... *usap kening*. Belum lagi 10 menit mengantri, dapat kabar beruntun dari antrean di depan bahwa kereta Penataran untuk jam keberangkatan pukul 04:30 sudah habis. Hah?? 

Agar tidak merusak rencana semula, aku pun memutar otak mencari alternatif untuk bisa sampai Malang pagi hari tanpa menggunakan kereta. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Bapak yang berada tepat dibelakangku berbaik hati menjelaskan alternatif perjalanan menuju Malang menggunakan bus. Aku pun tak menyiakan kesempatan dengan banyak bertanya ini-itu ehehe. Namun ternyata pendengar si bapak bukan aku saja. Mbak-mbak yang mengantri di belakang si bapak pun ikut mendengarkan. Nampaknya dia pun memiliki tujuan yang sama denganku. Mencari alternatif selain kereta. Awalnya kami hanya saling senyum. Hingga pertanyaan ini pun terlontar, “ Mau ke Malang pagi ini?”. Mengangguk.
“ Mau naek bus juga?”
“ Iya. Kamu?”
“ Sama. Mau barengan?”
“ Yuk!”
Kurang lebih begitu percakapan singkat kami. Setelah memastikan tiket Penataran pukul 04:30 benar-benar sudah habis, keluarlah kami dari antrean. Saras, nama gadis yang berbincang denganku tadi. Bersama 2 orang kawannya, Rising dan Yaya, berniat menuju Pulau Sempu. Berempat kami menunggu angkot di depan Stasiun Gubeng. Hari masih gelap, azan subuh pun belum terdengar. Jalanan kota Surabaya masih lengang.

Ah! Ada angkot datang. Setelah bernegosiasi dengan bapak supir, beliau pun mau mengantar kami langsung ke Terminal Purbaya [biasanya harus naik angkot 2 kali]. Maka naiklah kami berempat. Tak berapa lama, 2 gadis ber-keril pun ikut bergabung. Dari obrolan singkat kami, tahulah aku ternyata mereka juga hendak ke Semeru, ikut rombongan Avtech. Mereka pun bercerita tak berhasil mendapatkan tiket Penataran. Senasib rupanya. Obrolan pun berlanjut. Kami akhirnya berkenalan. Mella dan Nda, begitu mereka biasa dipanggil. Datang dari mamakota, Jakarta.

Sesampainya di Terminal Purbaya, kami pun bersama-sama menuju masjid untuk menunaikan sholat Subuh sebelum dilanjut berburu bus. Pukul 04:40 kami resmi berada di bus menuju kota apel, Malang. Pukul 6 pagi gapura kota Malang pun terlihat sudah. Tak butuh waktu terlalu lama untuk sampai di terminal tujuan, Terminal Arjosari. Di terminal inilah kami berenam harus terpisah menjadi 2 rombongan. Aku, Mella, dan Nda akan menuju Stasiun Kotabaru menggunakan angkot AL/ADL. Sedangkan rombongan Sempu, yakni Saras, Rising dan Yaya akan memakai angkot yang berbeda. Sebelum berpisah kami sempatkan berfoto bersama dulu di depan terminal dan berjanji akan terus saling kontak. Pun kami sepakat menamai rombongan dadakan ini dengan sebutan Bolang Penataran. Meski singkat dan dipertemukan nasib secara tak sengaja, rasanya berkesan sekali sempat mengenal mereka. Dan begitulah perjalanan, akan ada kejutan di setiap belokan. Kita tak akan tau sebelum benar-benar berjalan :)


Minggu, 16 Desember 2012

rindu #6 : adaku, tak-adamu



aku mengenali dengan baik wangi kopi favoritku
sebaik aku mengenali wangimu
aku menikmati setiap denting sendok bertemu cangkir kopiku
senikmat mendengar merdu suaramu di pagi hari
dan aku tahu benar rasa kopi favoritku
layaknya aku tahu benar setiap rasa yang ada padamu
sepadat aku
secair kopi favoritku
dan semaya kamu
kita terpisah oleh apa yang disebut dimensi ruang
yang bahkan ruang transisi rumit bernama rindu pun tak berhasil membuat kita menjadi sama
tak sanggup membuat kita selalu bersama
karena seberapapun aku merindumu
adaku dan tak-adamu mutlak adanya

5cm. : sebab perjalanan ini takkan terlupa




Euphoria film 5cm masih membahana hingga di detik saya menulis ini. Cetaarr menggelegar badai kalau kata Syahrini. Film yang diangkat dari novel best-seller karya Donny Dhirgantoro ini berhasil menyedot animo masyarakat Indonesia. Dengan mengusung tema nasionalisme, film ini layak ditonton oleh siapa saja.

Perjuangan untuk mendapatkan tiket film 5cm sebelum hari H pemutaran perdana pun tidak bisa dikatakan mudah. Mulai dari di-judes-in pak satpam sampai menunggu Pak Ilham selaku manager 21 berjam-jam di bioskop. Tapi raut bosan kami [mba Nurul, mba Helley, dan saya] berganti jadi sumringah ketika akhirnya 181 tiket sudah di tangan. Iya, tidak salah baca, 181 tiket. Bukan hendak menjadi calo kawan :p. Tapi memang jumlah tiket yang akan kami beli mewakili teman-teman Sahabat 5cm segitu jumlahnya. Pembagian tiket pun dimulai hingga hari berikutnya sebelum film dimulai.


Back to the movie...
Film hasil olah sutradara bertangan dingin Rizal Mantovani ini berkisah tentang persahabatan 5 anak manusia yang sudah terjalin lebih dari 10 tahun lamanya. Terdiri dari 4 cowok yakni Genta (Fedi Nuril), Zafran (Herjunot Ali), Ian (Igor Saykoji), Arial (Denny Sumargo) dan dilengkapi 1 bidadari paling cantik di geng ini bernama Riani yang diperankan oleh Raline Shah. Karakter yang berbeda dari tiap orang namun saling melengkapi digambarkan jelas di film ini. Genta “the leader” yang selalu berfikir matang, kaya ide, dapat diandalkan sekaligus sahabat yang paling enak diajak curhat. Zafran si penyair galau, penggemar berat Kahlil Gibran, dan naksir berat sama Arinda aka Dinda (diperankan oleh Pevita Pearce) yang tiada lain adalah adik dari Arial. Ian yang berbadan super jumbo, penggemar berat Indomie, klub sepak bola Manchester United dan artis cantik nan seksi Happy Salma. Lalu Arial sang Rambo, cowok berbadan kekar yang rajin fitness tapi selalu gugup dan nggak bisa ngomong kalo udah berada di depan cewek yang ditaksir. Dan terakhir, Riani, cewek cantik dan pintar ini pengertian banget. Hafal mati kebiasaan dan kesukaan sahabat-sahabatnya, digambarkan dengan baik dalam adegan saat Riani memesankan menu yang ekstra ribet dan berbeda-beda untuk keempat sahabatnya.

Alur cerita dimulai ketika pada suatu malam di Secret Garden, tempat nongkrong mereka, Genta mengusulkan pada sahabat-sahabatnya itu untuk tidak bertemu maupun berkomunikasi dengan cara apapun selama 3 bulan. Ini dimaksudkan agar semuanya belajar keluar dari zona nyaman mereka selama ini, agar mereka bejuang meraih mimpi-mimpi mereka. Gagasan ini awalnya ditolak, terutama oleh Riani.  Tapi lambat laun, gagasan ini pun diterima, meskipun dengan berat hati. Bisa dimaklumi, mereka sudah bersahabat selama 10 tahun lebih tanpa pernah melewatkan satu weekend pun bersama-sama. Genta menjanjikan akan membuat rencana hebat saat pertemuan pertama di 3 bulan mendatang.

Dan 3 bulan terberat untuk 5 anak manusia ini pun dimulai. Rasa kangen yang tak terkira kerap kali menghinggapi mereka berlima. Banyak hal yang mereka lakukan untuk berkonsentrasi mengejar mimpi-mimpi mereka di 3 bulan itu. Ian, satu-satunya yang belum lulus kuliah diantara mereka berlima, berjuang mati-matian untuk menyelesaikan skripsi. Genta yang sibuk dengan proyek-proyek besarnya. Arial yang berjuang untuk melawan rasa gugupnya dan mulai mendekati Indy, gadis yang sudah ditaksirnya sejak lama. Riani yang memilih lembur di kantor untuk menebas rasa rindunya pada keempat sahabatnya. Dan juga Zafran, yang mulai menjalankan misi pedekate dengan Dinda. Meskipun kadang dibuat jengkel dengan kepolosan Dinda, Zafran pantang mundur. Disini penonton disuguhkan banyak adegan lucu yang mengundang tawa.

Satu minggu sebelum hari pertemuan perdana mereka, Genta mengirimkan SMS kepada empat sahabatnya. Mereka akan bertemu di Stasiun Senen dengan membawa semua peralatan yang disebutkan Genta dalam pesan singkatnya. Tidak ada yang tau apa rencana Genta sesungguhnya. Mereka hanya peduli bahwa seminggu lagi mereka akan bertemu. Melepas rindu setelah melewati 3 bulan yang menguras hati dan energi.

Dan hari H pun tiba. Genta, Zafran, Riani, Arial yang mengajak serta Dinda pun meluapkan segala rindu di stasiun. Tertawa, bercanda, berpelukan. Namun hingga kereta hampir berangkat, batang hidung si manusia jumbo Ian belum tampak. Kereta bergerak perlahan. Ian muncul dengan sekardus Indomie di pelukannya. Adegan lari-larian mengejar kereta pun terjadi. Emm...digambarkan dengan agak lebay sih menurut saya, tapi tak apalah ^_^v

Kereta melaju meninggalkan Jakarta menuju Malang. Dan Genta tak mengingkari janjinya, perjalanan kala itu benar-benar istimewa. Genta membawa keempat sahabatnya plus Dinda mendaki gunung tertinggi di Jawa, Gunung Semeru. Sempat ada keraguan apakah mereka akan sanggup mencapai tanah tertinggi di Jawa itu, tapi mereka saling menguatkan, berusaha mempercayai bahwa mereka bisa, dan mereka mengusahakannya.

Yang kita perlukan sekarang cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa. [5cm.]

Perjalanan mendaki Semeru selalu istimewa. Selalu ada kejutan di setiap belokan. Dan film 5cm berhasil dengan sukses mengambil gambar Semeru dari sudut-sudut yang sempurna. Ya meskipun mau diambil dari sudut mana saja Semeru tetap indah ya :D

Perjuangan mendaki puncak Mahameru pun digambarkan dengan lumayan bagus. Pasirnya, batunya, semuanya. Dan tentang batu yang melorot dan menggelinding itu benar adanya. Bukan lebay ya sodara-sodara :). Namun ada yang cukup menarik perhatian saya, yakni pemain yang sedang melakukan pendakian menuju puncak dengan mengenakan celana jins. Saya rasa itu akan benar-benar menyiksa bila dipakai beneran saat muncak, mengingat suhu di Gunung Semeru yang luar biasa dingin. Juga tak adanya perbekalan yang mereka bawa ketika hendak muncak. Itu hampir mustahil tidak makan ataupun minum dari Arcopodo [tempat terakhir mereka meninggalkan barang-barang dan tenda] sampai puncak Mahameru. Waktu pendakian yang cukup lama, track pendakian yang tidak mudah, serta energi yang banyak dipakai, rasanya kurang masuk akal bila tidak minum barang setetes. Tapi overall bolehlah. Anggaplah adegan mereka sedang minum atau semacamnya tidak di shoot :). Ah ya, satu lagi. Jangan berenang di Ranu Kumbolo ya :). Itu bukan buat berenang, air disana untuk minum para pendaki juga, jadi jangan dicemari :)

Dari sudut pandang saya selaku penonton, yang paling istimewa adalah film ini berhasil membawa kembali memori-memori tentang perjalanan saya bersama sahabat-sahabat. Membawa kembali semua ingatan tentang indahnya Ranu Kumbolo, kerennya Oro-Oro Ombo, hijaunya hutan Cemara Kandang, dinginnya Kalimati, mencekamnya Arcopodo, romantisnya memandang bintang di Cemara Tunggal, juga frustasinya mendaki gunung pasir menuju tanah tertinggi di Pulau Jawa. Semacam menonton perjalanan sendiri dari sudut yang lain. Namun tetap dengan rasa yang sama. 

Meskipun ada banyak adegan di novel yang (menurut saya) penting namun tidak divisualisasikan, juga ending yang sedikit berbeda dengan yang ada dalam novel, film 5cm secara garis besar bagus. Pesan yang ingin disampaikan sudah tergambarkan dengan cukup baik. Tentang persahabatan, cinta, perjuangan meraih mimpi, pun bagaimana kita mencintai bangsa kita sendiri.

Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh disini, di depan kening kamu..jangan menempel. Biarkan dia menggantung, mengambang, 5 centimeter di depan kening kamu, jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu..[5cm.]

Bangsa yang besar ini juga harus punya mimpi..[5cm.]

Jumat, 07 Desember 2012

blue-sapphire-nya Indonesia, Karimunjawa (3-habis)



Senin, 8 Oktober 2012

Setelah di hari sebelumnya menghabiskan waktu mengunjungi pulau-pulau di sebelah timur pulau utama, hari ketiga kami melakukan perjalanan ke barat. Tentu saja tidak untuk mencari kitab suci. Berdasar apa yang disampaikan oleh mas-mas guide, kami akan mengunjungi 5 tempat di hari itu.

Menjangan Kecil
Pulau ini menjadi pulau pertama yang kami kunjungi. Snorkeling jadi agenda utama. Dan kali ini, guide lokal yang bernama Mas Rofi memaksa aku untuk melepas pelampung. Lebih seru, katanya. Oh tidak, aku merasa belum sanggup berpisah dengan pelampung ini. Ini lautan boi, bukan kolam renang seperti yang biasa aku ceburin. Tapi Mas Rofi meyakinkan aku akan baik-baik saja. Setelah berhasil membuatnya bersumpah akan mengawasiku dengan jiwa dan raganya :p, aku pun dengan berat hati melepaskan sang pelampung. Jaga diri baik-baik wahai pelampung, batinku seraya melepas kepergian pelampung yang kini sudah berada di tangan Mas Rofi. Aku bahkan sudah rindu baru berpisah sedetik. Baiklah, lautan ini sama saja dengan kolam renang kan? Aku meyakinkan diriku sendiri. 

Aku terus menggerak-gerakkan kaki agar tak tenggelam. Lalu perlahan mulai berenang. Ah benar, memang lebih seru bila tanpa pelampung. Ahiiiyyy... :D. Tampak jelas keindahan biota bawah laut. Cantik. Benar-benar cantik. Dengan warna-warna yang lebih beragam. Tak puas-puas rasanya menikmati keindahan bawah laut seperti ini. Tapi nampaknya kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Lelah berenang, aku ingin menghirup udara yang sesungguhnya. Tapi blep-blep-blep. Aku tak bisa menyembul dengan sempurna. Tertawa saja, tak apa. Aku memang tak pandai berenang. Dan bak pahlawan pembela kebenaran Mas Rofi membawakan aku pelampung kesayangan. Segera kuraih, hap-hap. Oh yeaahh! Aku masih hidup. Baiklah, itu lebay. Tapi senang sekali rasanya bisa memeluk pelampung lagi. Uwoo..Mas Rofi tak sependapat denganku. Setelah memberi pengarahan yang separuhnya tak kudengarkan karena sedang asyik memeluk pelampung, Mas Rofi mengambil lagi pelampungku. Tidaaakk! Aku pun berenang lagi. Dengan iming-iming pelampung yang melayang-layang di depan mataku tapi tak bisa kuraih. Oohh..kejamnya..


Dan snorkeling kali ini nampaknya yang paling lama. 

Cemara Kecil
Pulau cantik ini menjadi destinasi selanjutnya setelah puas bersnorkeling di Pulau Menjangan Kecil. Tidak ada dermaga di pulau ini. Jadi kapal tidak bisa “parkir” mepet pulau. Jadilah kami turun dari kapal, nyebur  dan berjalan kurang lebih seratus meter untuk mencapai daratan. Dan betapapun belum menginjak daratan pulau, aku sudah jatuh cinta pada pulau ini. Indah sekali. Dari keseluruhan pulau yang telah dikunjungi selama trip Karimunjawa, pulau ini adalah favoritku. Dan kurasa foto-foto ini akan menjelaskan dengan lebih baik kecantikan Cemara Kecil daripada kalimat-kalimatku.


Gosong Cemara
Lokasi terakhir untuk snorkeling di hari itu. Namun beberapa dari rombongan kami tak ikut snorkeling. Entah sudah lelah, atau mungkin hanya ingin menikmati keindahan pulau dan laut dari atas kapal saja. Aku sendiri pun tak terlalu lama berada di dalam air.


Tanjung Gelam
Pulau keempat yang kami kunjungi. Tidak seperti pulau-pulau lain yang kami kunjungi sebelumnya, di pulau ini terdapat banyak penjual makanan dan minuman. Kapal belum lagi tertambat sempurna, tapi kami sudah beranjak menuju salah satu warung dan mencomot pisang goreng ekstra besar yang masih hangat. Nikmat sekali. Aku membayangkan para penjual di pulau ini ketika hendak membeli aneka bahan makanan dan minuman untuk dijual. Pasti repot sekali dengan transportasi yang terbatas. Pun membutuhkan waktu yang relatif lama.Tapi begitulah hidup bukan? Perjuangan.

Perut sudah kenyang, aku dan Renny beranjak untuk melihat-lihat pulau. Berbeda dengan pulau sebelumnya yang hanya didominasi hanya oleh pasir dan pohon, di Tanjung Gelam terdapat batu-batu besar yang nampak terserak berantakan tapi tetap mempesona.

Hari beranjak sore. Semakin sedikit waktu yang tersisa di hari itu. Belum puas rasanya mengeksplor Tanjung Gelam, tapi kami harus segera beranjak meninggalkan pulau untuk menuju destinasi terakhir di hari ini.

Penangkaran Hiu
Mendengarnya saja sudah ngeri. Hiu. H-I-U. Ikan yang di film-film sering digambarkan berenang-renang dan hanya menampakkan sirip atasnya, memutari kapal, sangat sensitif dengan aroma darah, dan siap kapan saja mencaplok mangsanya. Dan kami akan mengunjungi tempat dimana ikan ini ditangkarkan?  Ooohhh >.<

Kapal merapat di dermaga. Kami serombongan disambut pemandangan berupa tambak bermacam-macam ikan. Tapi bukan ikan-ikan itu yang akan kami lihat, melainkan ikan super yang “katanya” agresif, Hiu. Di kolam pertama kami melihat anak Hiu Putih yang berenang kesana kemari. Di kolam kedua, terlihat anak Hiu yang berwarna hitam. Jumlahnya banyak. Seram sekali melihatnya pertama kali. Rombongan diperkenankan turun dan berenang bersama Hiu. Emm...awalnya aku ragu. Siapa yang tahu kalau Hiu ini sedang lapar dan kebetulan dagingku yang masih muda tampak menggugah selera. Tapi kapan lagi sih bisa nyebur di kolam Hiu. Jadi dengan memantapkan hati aku pun melangkah turun ke kolam. Taktik yang dipakai di kolam Hiu ini adalah merapat dekat orang lain :p. Tujuannya tiada lain tiada bukan supaya berasa aman. Dan beruntunglah kami semua, Hiu-Hiu ini nampaknya sedang benar-benar dalam kondisi kenyang. Jadi daging-daging manusia yang telah sukarela nyebur ke sarangnya pun tak menarik hasrat makannya. Syukurlah...

Selesai bermain dengan anak Hiu yang “lucu” [diucapkan saat sudah berada di area aman :p], kami pun beranjak kembali ke pulau utama. Dan petualangan di Karimunjawa kali ini pun berakhir sudah. Esok waktunya pulang ke kota masing-masing. Berat rasanya meninggalkan pulau yang begitu menakjubkan ini. Pulau dengan kecantikan bawah lautnya yang luar biasa dan mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya. 

Dengan eksotisme bawah lautnya itu, tak berlebihan rasanya bila Karimunjawa disebut sebagai blue-sapphire-nya Indonesia. Permata Indonesia yang selayaknya dijaga keaslian dan keindahannya.

***
Bermula dari langkah pertama
Dengan tujuan yang mungkin tak sama
Namun memunculkan pemahaman serupa akan sebuah makna
Bahwa perjalanan bukan tentang garis finish semata
Jadi teruslah melangkah selagi bisa


*foto underwater diambil oleh guide