Jumat, 07 Desember 2012

blue-sapphire-nya Indonesia, Karimunjawa (3-habis)



Senin, 8 Oktober 2012

Setelah di hari sebelumnya menghabiskan waktu mengunjungi pulau-pulau di sebelah timur pulau utama, hari ketiga kami melakukan perjalanan ke barat. Tentu saja tidak untuk mencari kitab suci. Berdasar apa yang disampaikan oleh mas-mas guide, kami akan mengunjungi 5 tempat di hari itu.

Menjangan Kecil
Pulau ini menjadi pulau pertama yang kami kunjungi. Snorkeling jadi agenda utama. Dan kali ini, guide lokal yang bernama Mas Rofi memaksa aku untuk melepas pelampung. Lebih seru, katanya. Oh tidak, aku merasa belum sanggup berpisah dengan pelampung ini. Ini lautan boi, bukan kolam renang seperti yang biasa aku ceburin. Tapi Mas Rofi meyakinkan aku akan baik-baik saja. Setelah berhasil membuatnya bersumpah akan mengawasiku dengan jiwa dan raganya :p, aku pun dengan berat hati melepaskan sang pelampung. Jaga diri baik-baik wahai pelampung, batinku seraya melepas kepergian pelampung yang kini sudah berada di tangan Mas Rofi. Aku bahkan sudah rindu baru berpisah sedetik. Baiklah, lautan ini sama saja dengan kolam renang kan? Aku meyakinkan diriku sendiri. 

Aku terus menggerak-gerakkan kaki agar tak tenggelam. Lalu perlahan mulai berenang. Ah benar, memang lebih seru bila tanpa pelampung. Ahiiiyyy... :D. Tampak jelas keindahan biota bawah laut. Cantik. Benar-benar cantik. Dengan warna-warna yang lebih beragam. Tak puas-puas rasanya menikmati keindahan bawah laut seperti ini. Tapi nampaknya kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Lelah berenang, aku ingin menghirup udara yang sesungguhnya. Tapi blep-blep-blep. Aku tak bisa menyembul dengan sempurna. Tertawa saja, tak apa. Aku memang tak pandai berenang. Dan bak pahlawan pembela kebenaran Mas Rofi membawakan aku pelampung kesayangan. Segera kuraih, hap-hap. Oh yeaahh! Aku masih hidup. Baiklah, itu lebay. Tapi senang sekali rasanya bisa memeluk pelampung lagi. Uwoo..Mas Rofi tak sependapat denganku. Setelah memberi pengarahan yang separuhnya tak kudengarkan karena sedang asyik memeluk pelampung, Mas Rofi mengambil lagi pelampungku. Tidaaakk! Aku pun berenang lagi. Dengan iming-iming pelampung yang melayang-layang di depan mataku tapi tak bisa kuraih. Oohh..kejamnya..


Dan snorkeling kali ini nampaknya yang paling lama. 

Cemara Kecil
Pulau cantik ini menjadi destinasi selanjutnya setelah puas bersnorkeling di Pulau Menjangan Kecil. Tidak ada dermaga di pulau ini. Jadi kapal tidak bisa “parkir” mepet pulau. Jadilah kami turun dari kapal, nyebur  dan berjalan kurang lebih seratus meter untuk mencapai daratan. Dan betapapun belum menginjak daratan pulau, aku sudah jatuh cinta pada pulau ini. Indah sekali. Dari keseluruhan pulau yang telah dikunjungi selama trip Karimunjawa, pulau ini adalah favoritku. Dan kurasa foto-foto ini akan menjelaskan dengan lebih baik kecantikan Cemara Kecil daripada kalimat-kalimatku.


Gosong Cemara
Lokasi terakhir untuk snorkeling di hari itu. Namun beberapa dari rombongan kami tak ikut snorkeling. Entah sudah lelah, atau mungkin hanya ingin menikmati keindahan pulau dan laut dari atas kapal saja. Aku sendiri pun tak terlalu lama berada di dalam air.


Tanjung Gelam
Pulau keempat yang kami kunjungi. Tidak seperti pulau-pulau lain yang kami kunjungi sebelumnya, di pulau ini terdapat banyak penjual makanan dan minuman. Kapal belum lagi tertambat sempurna, tapi kami sudah beranjak menuju salah satu warung dan mencomot pisang goreng ekstra besar yang masih hangat. Nikmat sekali. Aku membayangkan para penjual di pulau ini ketika hendak membeli aneka bahan makanan dan minuman untuk dijual. Pasti repot sekali dengan transportasi yang terbatas. Pun membutuhkan waktu yang relatif lama.Tapi begitulah hidup bukan? Perjuangan.

Perut sudah kenyang, aku dan Renny beranjak untuk melihat-lihat pulau. Berbeda dengan pulau sebelumnya yang hanya didominasi hanya oleh pasir dan pohon, di Tanjung Gelam terdapat batu-batu besar yang nampak terserak berantakan tapi tetap mempesona.

Hari beranjak sore. Semakin sedikit waktu yang tersisa di hari itu. Belum puas rasanya mengeksplor Tanjung Gelam, tapi kami harus segera beranjak meninggalkan pulau untuk menuju destinasi terakhir di hari ini.

Penangkaran Hiu
Mendengarnya saja sudah ngeri. Hiu. H-I-U. Ikan yang di film-film sering digambarkan berenang-renang dan hanya menampakkan sirip atasnya, memutari kapal, sangat sensitif dengan aroma darah, dan siap kapan saja mencaplok mangsanya. Dan kami akan mengunjungi tempat dimana ikan ini ditangkarkan?  Ooohhh >.<

Kapal merapat di dermaga. Kami serombongan disambut pemandangan berupa tambak bermacam-macam ikan. Tapi bukan ikan-ikan itu yang akan kami lihat, melainkan ikan super yang “katanya” agresif, Hiu. Di kolam pertama kami melihat anak Hiu Putih yang berenang kesana kemari. Di kolam kedua, terlihat anak Hiu yang berwarna hitam. Jumlahnya banyak. Seram sekali melihatnya pertama kali. Rombongan diperkenankan turun dan berenang bersama Hiu. Emm...awalnya aku ragu. Siapa yang tahu kalau Hiu ini sedang lapar dan kebetulan dagingku yang masih muda tampak menggugah selera. Tapi kapan lagi sih bisa nyebur di kolam Hiu. Jadi dengan memantapkan hati aku pun melangkah turun ke kolam. Taktik yang dipakai di kolam Hiu ini adalah merapat dekat orang lain :p. Tujuannya tiada lain tiada bukan supaya berasa aman. Dan beruntunglah kami semua, Hiu-Hiu ini nampaknya sedang benar-benar dalam kondisi kenyang. Jadi daging-daging manusia yang telah sukarela nyebur ke sarangnya pun tak menarik hasrat makannya. Syukurlah...

Selesai bermain dengan anak Hiu yang “lucu” [diucapkan saat sudah berada di area aman :p], kami pun beranjak kembali ke pulau utama. Dan petualangan di Karimunjawa kali ini pun berakhir sudah. Esok waktunya pulang ke kota masing-masing. Berat rasanya meninggalkan pulau yang begitu menakjubkan ini. Pulau dengan kecantikan bawah lautnya yang luar biasa dan mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya. 

Dengan eksotisme bawah lautnya itu, tak berlebihan rasanya bila Karimunjawa disebut sebagai blue-sapphire-nya Indonesia. Permata Indonesia yang selayaknya dijaga keaslian dan keindahannya.

***
Bermula dari langkah pertama
Dengan tujuan yang mungkin tak sama
Namun memunculkan pemahaman serupa akan sebuah makna
Bahwa perjalanan bukan tentang garis finish semata
Jadi teruslah melangkah selagi bisa


*foto underwater diambil oleh guide

Kamis, 29 November 2012

blue-sapphire-nya Indonesia, Karimunjawa (2)



Biarkan saja ombak berdebur kencang, bila dengan begitu aku dapat memahami tenangnya pantai.
Dan biarkan saja hujan mengguyur deras, bila dengan begitu aku bisa mengerti nikmatnya berteduh.
Dan tak apalah tiada selalu bertemu, bila dengan begitu aku bisa merasakan syahdunya rindu.
Akan selalu ada nikmat di setiap hela,
Akan ada pemahaman baru di setiap jeda,
Dan semoga senantiasa ada syukur di dalamnya.



***
Pelabuhan Kartini pagi itu berwarna kelabu. Mendung masih menggelayut di tepian langit. Sisa-sisa hujan membasahi dedaunan, tanah, juga kursi  dan meja pemilik warung makan di sekitar pelabuhan. Laut tampak tenang. Sudah terlihat kapal yang akan membawa para penumpang menuju satu-satunya destinasi, Karimunjawa.

Aku, Renny dan Erwin segera menemui sepasang suami-istri yang sudah sampai terlebih dahulu. Bapak Oki dan Ibu Inchie. Sepasang suami-istri paruh baya yang hendak menikmati liburan bersama di jeda jadwal kerja. Sungguh membuat iri pasangan ini. Di usia yang terbilang tak lagi remaja, sudah memiliki cucu pula, beliau berdua masih nampak kompak berwisata menjelajah tempat-tempat baru. Romantis.

Kami pun berkenalan dan mengobrol, sementara Erwin mengantri tiket kapal. Aku dan Renny sempat dikira masih SMP -_-‘’ [ ya, ya, baiklah, dilihat dari sudut manapun, tubuh kami memang mungil]. Mendengarkan cerita pasangan ini tentang petualangan mereka ke berbagai tempat di Indonesia maupun luar negeri seru sekali. Belum lagi usai kisah petualangan Pak Oki dan Ibu Inchie, Erwin datang bersama 3 orang pria berwajah lokal dan 4 bule. Ah, rombongan ketiga, pikirku. Benar saja, 7 orang tadi adalah rombongan terakhir. Kedatangan mereka menggenapi sudah rombongan trip kali ini. 11 orang plus 1 tour-leader, Erwin. Begitu personil rombongan sudah lengkap, Erwin pun membagikan tiket kapal. Tak berapa lama, kami pun berduyun-duyun *semacam transmigrasi kedengarannya :p* menuju kapal, KMP Muria.

Butuh waktu sekitar 6 jam menuju Pulau Karimunjawa menggunakan KMP Muria. Waktu yang cukup untuk merasa bosan :p. Dan sayang sekali keberangkatan kapal waktu itu terlambat satu jam. Kapal yang seharusnya berangkat jam 8 pagi harus mundur hingga jam 9.

Lepas dari dermaga, pemandangan pun berganti. Sejauh mata memandang hanya birunya langit dan birunya laut yang nampak. Cantik sekali. Namun 6 jam bukan waktu yang singkat untuk tak melakukan apapun. Di menit awal aku dan Renny masih sibuk sekali berbagi cerita. Tertawa-tawa. Kemudian ketika bosan mulai melanda, kami berganti haluan. Mulai dari mendengarkan musik, mengamati orang-orang yang ada di kapal, hingga mengamati burung yang nampaknya sedang malas terbang dan memilih untuk menikmati laut di atas ranting yang diombangambingkan ombak.

Dan akan selalu ada muara dari sebuah penantian panjang. Pukul 15.15 WIB kapal pun merapat di dermaga Karimunjawa. Ah, akhirnya. Betapa 6 jam ini dibayar lunas dengan pemandangan indah di depan mata.


Aku bersemangat sekali turun dari kapal. Betapa tidak, duduk 6 jam membuat tubuhku penat. Setelah memastikan semua anggota rombongan sudah lengkap, kami pun berjalan kaki menuju penginapan. Tak ada agenda khusus petang ini. Jadi kami bebas mau ngapain saja. Namun belum lagi dapat giliran mandi, Erwin mengajak kami semua menikmati sunset di dekat penginapan. Hmm..ayoklah. Mandinya nanti saja :p


Dan sunset pertama di Karimunjawa sempurna menutup hariku dengan indah. Malam itu, aku dan Renny sepakat untuk tidur cepat. Demi menjemput sibuknya agenda esok hari :D

Minggu, 7 Oktober 2012

Tour de islands...
Hari kedua di Karimunjawa kami diajak mengunjungi beberapa pulau di sebelah timur pulau utama. Dengan menggunakan kapal mini atau bisa pula disebut perahu motor, semacam sepit beratap, kami pun berlayar membelah lautan *tsaaahhh*. Pulau pertama yang dituju adalah Pulau Gosong. Menonjol begitu saja di tengah lautan. Berupa pasir putih tanpa satupun pohon yang menumbuhi. Dengan lebar tak lebih dari 5 meter dan panjang tak lebih dari 100 meter, pulau ini memiliki pesona tersendiri. Bila laut sedang pasang hebat, pulau ini tenggelam. Tak terlihat. Beruntungnya kami, bisa sekedar menjejakkan kaki dan berfoto ria disana.

Pulau kedua, Pulau Tengah. Snorkeling time :D. Ini adalah pengalaman snorkeling pertamaku. Pelampung sudah dipakai, kaki katak sudah, snorkel juga sudah terpasang. Sudah belajar juga bernafas lewat mulut dengan menggunakan snorkel. Tinggal nyebur saja ke laut. 


Takut-takut aku menuruni tangga kapal, mengingat kemampuan berenangku yang aahh..payah.. tapi toh akhirnya nyebur juga di laut. Dengan masih berpegangan pada tali yang mengaitkan kapal dengan karang, aku memberanikan diri melongok laut lebih ke dalam lagi. Dan Subhanallah...pemandangan yang luar biasa. Terumbu-terumbu karang yang cantik memenuhi penglihatanku. Aku pun berputar arah. Berenang ke arah sebaliknya. Melihat pasangan Pak Oki dan Ibu Inchie yang berenang bergandengan tangan, Renny yang ganti snorkel, juga Bang Bora, Bang Rico dan kawan bule mereka yang berenang lincah tanpa pelampung. Seru sekali. Sesekali Erwin menggandengku berenang lebih dalam. Menunjukkan terumbu karang yang luar biasa cantik. Dengan warna-warni yang beragam. Biru, hijau tosca, kuning, merah, coklat juga ungu. Cantik sekali. Belum lagi ikan-ikan cantik yang lewat di depan mata. Dekat sekali. Tak pernah menyangka akan melihat yang seperti ini.


Lelah bersnorkeling, kami pun naik lagi ke kapal. Menuju daratan Pulau Tengah. Makan siang. Sembari menanti mas-mas guide bakar ikan, kami pun sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang sekedar berjemur, memancing, pun foto-foto. Aku dan Renny memilih untuk pergi ke sisi lain pulau. Berkeliling menikmati keindahan pulau yang entah susah sekali rasanya diungkapkan lewat kata-kata.

Selesai jalan-jalan, ikan bakar sudah siap, hap-hap makanlah kami semua. Nikmat kali rasanya. Alhamdulillah...:D. Perut sudah kenyang, kami pun siap menuju pulau selanjutnya.

Pulau Kecil

Snorkeling kedua di hari itu. Sudah mulai beradaptasi dan terbiasa bergelut dengan air laut. Terumbu karang yang eksotis masih saja menghipnotisku. Ikan hias pun nampaknya lebih banyak berseliweran. Tak bosan-bosannya aku menatap keindahan di bawah laut. Sayang sekali tak bisa menyentuh. Peraturan penting yang disampaikan para guide sebelum kami snorkeling adalah dilarang menyentuh terumbu karang. Sebab hal itu akan mengganggu pertumbuhan terumbu karang. Oh ya baiklah, bahkan dengan melihat saja aku sudah sangat senang :D


Selesai snorkeling, kami semua berkeliling pulau. Mengertilah aku mengapa pulau ini dinamakan Pulau Kecil. Karena memang pulaunya tak seberapa besar. Tak butuh waktu terlalu lama untuk mengelilingi penuh pulau ini. Meski begitu, keindahan disana tak sekecil namanya. 


Hari beranjak sore. Kami pun harus mengakhiri petualangan hari itu. Tak sabar rasanya menanti hari esok. Menanti kejutan-kejutan selanjutnya :)


#p.s.: foto underwater diambil oleh mas guide lokal Pulau Karimunjawa

Selasa, 30 Oktober 2012

blue-sapphire-nya Indonesia, Karimunjawa (1)



Demi ribuan detik yang sudah terlampaui usiaku, agar tak berlalu begitu saja.
Demi ribuan kali nafas yang kuhela, agar tak sekedar memenuhi rongga dada belaka.
Demi ribuan langkah kaki yang tak henti, agar tak sekedar berjalan di tempat yang sama.
Dan demi indahnya semesta beserta isinya, agar tak henti syukur kita padaNya...


***
Bukan dengan tidak sengaja baru menulis catper ini sekarang. Bukan dengan alasan menamatkan 3 buku lebih dulu. Bukan pula mencari-cari alasan menerbitkan mood itu susah rasanya. Hanya saja aku ingin menikmati sensasi manis perjalanan hingga akhir. Dan ketika aku menuliskannya kembali, manis itu akan kembali dan kembali lagi.

Berteman secangkir teh hangat dan lagu-lagu Within Temptation, catatan perjalanan ini  pun mulai kutuliskan...

Bismillah..

Karimunjawa. Kepulauan yang sudah ditetapkan sebagai Taman Nasional ini terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Kepulauan ini terdiri dari 27 pulau. Terkenal sebagai surganya para pecinta biota bawah laut. Sebab bisa dikatakan Karimunjawa adalah rumah bagi terumbu karang dan ratusan ikan hias.


Bukan hanya sekejap aku merasakan keinginan untuk kesana. Bukan hanya sekedar keinginan yang sambil lalu. Dan kemudian, Karimunjawa mengisi baris nomor 4 resolusiku tahun ini :p. Pertengahan tahun adalah waktu idaman untuk kesana. Musim hujan berakhir, ombak tak terlalu besar, cuaca cerah. Sempurna. Tapi tidak, ternyata aku belum berjodoh dengan Karimunjawa di pertengahan tahun. Slamet dan Semeru begitu menggoda. Dan kupikir Karimunjawa akan lebih bisa menunggu.

Oktober. Akhirnya itu bulan yang terpilih. Tanggal? Lebih cepat lebih baik. Minggu pertama. Sip! Segera daftar ke Explore Solo, tour-agent yang dikelola oleh kawan. Sip, sudah terdaftar. Tinggal bersiap untuk berangkat. Perjalanan kali ini, aku ditemani oleh Renny, kawan semasa SMF dulu. Sudah lama kami tak bertemu. Dan berharap nostalgia sepasang kawan lama ini akan menjadi seru :). Sepakat berangkat dari Jogja Jumat malam via travel langsung menuju Pelabuhan Kartini, Jepara. Tapi apa mau dikata, ada kesalahan teknis. Kami tak kebagian seat. Pengalihan rencana. Jalankan Plan B *tsaahh

Jumat, 5 Oktober 2012

Solo. Kota tujuan pertama dari Plan B-ku. Basecamp Explore-Solo sebagai specific destination. Berangkat dari stasiun Tugu Jogja menggunakan  kereta Madiun Jaya pukul 18.00 dan berhenti di stasiun Solo Jebres kurang lebih satu jam lima belas menit kemudian. Keluar dari stasiun Solo Jebres, kami berniat naik angkot menuju UNS. Tapi bukankah tidak seru bila dalam perjalanan tidak ada kejutan? Dan kejutan pertama kami di kota Solo adalah bertemu dengan bapak satpam yang aneh tapi baik :D. Niat awal hanya bertanya soal angkot sama bapak satpam yang ternyata disambut agak berlebihan. Si bapak menjelaskan dengan sangat detail angkot yang harus kami tumpangi, ikut membantu kami menyeberang jalan -_- *berasa anak TK atau lansia kalau begini? *, dan diakhiri dengan memanggil salah seorang kawan ojeknya. Awalnya kami bersikukuh mau naik angkot saja. Tapi si bapak satpam memaksa. Sudah malam, biar lebih cepat sampai, kata beliau. Ya sudahlah. Ngojek. Itung-itung nyenengin Renny yang belum pernah naik ojek sebelumnya :p

Cepat sekali kami tetiba sudah sampai di depan gapura besar UNS. Hahay! Segera kirim pesan singkat ke Mbak Imeh, kawan yang juga ikut mengelola Explore-Solo. Minta dijemput :p. Perkawananku dengan Mbak Imeh pun terbilang unik. Kami dipertemukan secara tidak sengaja [atau sengaja? Tergantung dari sudut mana kau memandang] di salah satu trip Goa Pindul. Rombongannya dan rombonganku dijadikan satu kala itu. Dan sejak saat itulah kami berkawan. Hingga sekarang.

Pukul 19.45, Mbak Imeh yang malam itu memakai kaos Evanescence –band favorit kami berdua- datang menyambut kami dengan senyum ramahnya. Diajaknya kami berdua ke basecamp Explore-Solo. Rencananya kami akan berangkat bersama dengan tour-leader dari Explore-Solo jam 12 malam. Jadi selama menunggu tengah malam, kami bisa rehat sejenak di basecamp.

Ditemani secangkir kopi Toraja, sekotak kecil kue moci, lagu-lagu Evanescence, juga kucing Persia yang lucunya minta ampun, kami pun menebas waktu dengan obrolan menyenangkan khas sahabat. Sekitar pukul 21.00, Erwin, yang nantinya akan menjadi tour-leader kami pun datang. Akhirnya datang juga. Bukan apa-apa, kami menunggu Erwin karena mau makan bersama. Dan karena cacing di perut sudah meronta-ronta sejak tadi, tidak perlu menunggu waktu cukup lama dari kedatangan Erwin, kami pun beranjak keluar. Cari makan :p.

Angkringan di seputaran panggung terbuka ISI Surakarta tempat yang dipilih untuk makan malam kami. Gapura besar berbentuk kapal , panggung terbuka berbentuk lingkaran dengan tangga di seputar panggung, lampu temaram. Muda-mudi tampak duduk-duduk dan mengobrol disana-sini. Malam yang begitu hidup di kota Solo. Dan obral-obrol kami pun berlanjut. Membahas apa saja. Mulai dari aneka menu angkringan, cerita kota masing-masing dari kami, sampai siapa traktir siapa -_-. Tak terasa malam semakin larut. Kami pun beranjak. Meninggalkan sisa-sisa tawa kami di sela malam.

Sampai di basecamp lagi. Tidak membuang waktu, kami bersiap berangkat menuju terminal. Pukul 00.40 bus jurusan Semarang yang kami tumpangi pun berangkat dari terminal. Kantuk yang melanda dikalahkan oleh jogetan sang bus malam. Liukannya yang tajam setajam ___ *eh gak jadilah* berulang kali menggoyang-goyangkan tubuhku yang mulai gemulai diserang kantuk. Alhasil tidur nyenyak berkualitas pun tak didapat.

Sabtu, 6 Oktober 2012

Pukul 03.00 dini hari sampailah kami di Semarang. Karena bus yang menuju Jepara belum datang, kami bertiga pun menyempatkan minum jahe hangat di salah satu angkringan. Jam segini ternyata kota Semarang sudah bangun. Dan aku curiga, mungkin sebenarnya Semarang tak pernah tidur. Hanya selama waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan minuman dalam gelas kami, bus yang dinanti pun tiba. Kami bergegas naik. Dibutuhkan waktu kurang lebih 2 jam perjalanan untuk sampai di Jepara. Dan karena mata yang masih berat, tak ayal lagi, berulang kali aku terkantuk-kantuk di samping supir bus. Renny sih sudah terlelap di sampingku. Tentu melelahkan baginya berpindah-pindah angkutan macam ini. Sabar yah, kataku dalam hati.

Berulang kali memejamkan mata. Berulang kali pula terjaga. Hanya sekedar ingin tahu sudah sampai mana. Dari Semarang, kami melintasi kota wali, Demak, untuk selanjutnya memasuki Kabupaten Jepara. 

Pukul 04.45 pagi bus yang kami tumpangi berhenti di depan terminal Jepara. Nampaknya hujan menyapa kota Jepara semalam. Genangan air terlihat disana-sini dan wangi khas tanah tercium begitu keluar dari bus. Segar. Begitu turun dari bus, kami pun bergegas mencari mushola untuk menjalankan sholat Subuh. Mendung masih menggantung di langit. Sisa hujan semalam. Tak nampak cerahnya fajar. Semburatnya saja pun tidak. Doa penuh harap agar mendung berganti cerah menemani langkah kami menuju Pelabuhan Kartini, Jepara.


Minggu, 14 Oktober 2012

pulang...

aku tak pernah mengerti benar apa itu rumah,
hingga kau mengajariku untuk selalu pulang,
padamu..

sebuah rumah yang beratapkan langit,
berdinding semesta

sebuah rumah dimana berbagi dan bercerita tak lagi menjadi mustahil

sebentuk rumah dimana kepercayaan dan kasih tak lagi menjadi asing

sebuah rumah dimana kita selalu membuat janji bertemu,
seberapapun jauhnya aku dan kau pergi

sebuah tempat dimana aku ingin selalu pulang,
rumah,
dan rumah bagiku itu kamu...