Tampilkan postingan dengan label Series/Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Series/Film. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2026

Memaknai Ulang Perpisahan dalam Once We Were Us

Sumber: pinterest

Jujur nonton film ini nyeseknya ada banget, tertinggal dan membekas sampai beberapa hari. Film baru yang dibintangi Koo Kyo Hwan dan Moon Ga Young ini menampilkan kisah romansa slice-of-life yang terasa realistis dan emosional.

Premisnya cukup sederhana, sepasang muda-mudi yang bertemu di bus lalu berteman begitu saja. Persahabatan mereka lambat laun berkembang menjadi cinta. Saling mendukung untuk mimpi-mimpi besar mereka. Cinta masa muda yang manis dan penuh gairah itu harus berjuang dalam badai kerasnya kehidupan kota besar. Hidup menjadi makin melelahkan, mimpi terasa semakin jauh. Mereka pun akhirnya berpisah tanpa kata. Sepuluh tahun kemudian takdir mempertemukan mereka dalam sebuah penerbangan. Kali ini, hidup yang hitam putih itu harus diakhiri dengan benar.

Alur cerita di film ini dibuat maju mundur. Berwarna untuk penggambaran masa lalu, hitam putih untuk masa sekarang. Dialog, plot, scoring, dan sinematografi terasa pas dan nyaman. Tapi di atas segala aspek dalam film ini, yang paling menonjol adalah karakter Jeong-won (diperankan Moon Ga Young) dan Eun-ho (diperankan Koo Kyo Hwan) yang diperankan dengan sangat baik. Akting keduanya berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton. Gap umur yang sulit disembunyikan dari visual pemainnya tidak terasa canggung, justru membuat film ini semakin realistis. Tidak heran bila kemudian Moon Ga Young berhasil menyabet predikat best actress dalam Baeksang Arts Awards 2026.

Ada tiga hal yang kupikir menarik di film ini:

1. Bermimpilah dan perjuangkan mimpimu

Pesannya klasik ya? Tapi tetap relevan. Eun-ho selalu bermimpi menciptakan gim yang bagus dan sukses. Berulang kali gagal dan ditolak tak menyurutkannya. Sempat ada di fase gelap tanpa harapan, tapi nyala mimpinya meskipun kecil tak pernah padam. Setelah jatuh di titik terendahnya saat berpisah dengan Jeong-won, Eun-ho kembali membakar mimpinya dan perlahan mewujudkannya. 

Bagi Jeong-won yang tumbuh di panti asuhan, menjadi arsitek dan membangun rumahnya sendiri adalah mimpi yang ingin sekali diwujudkan. Namun kerasnya kehidupan terus-terusan mengecilkan mimpinya. Dan meski Eun-ho pernah berusaha membantu membangunkan lagi mimpi itu, kehidupan begitu kejam membanting mimpi itu menjadi serpihan. Setelah berpisah dengan Eun-ho, Jeong-won mengumpulkan lagi bahan bakar untuk menghidupkan mimpinya. 

Eun-ho dan Jeong-won mungkin pernah jatuh sejatuh-jatuhnya, tapi mereka memilih untuk tidak berhenti.

2. Belajar untuk tahu kapan harus pergi dan melepaskan

Part ini yang paling nyesek sih menurutku. Adegan saat Eun-ho menarik kipas angin untuk dirinya sendiri. Juga saat Eun-ho menutup korden tepat di depan Jeong-won. Tak ada lagi makan bersama, tak ada lagi obrolan tentang mimpi dan masa depan. Jeong-won akhirnya mengerti, itulah saat di mana dia harus pergi.

Kupikir tidak ada yang bisa disalahkan di sini. Mereka berdua tahu, bersama hanya akan membuat segalanya bertambah berat. Jeong-won pergi karena tak ada lagi rumah baginya. Eun-ho pun tahu diri dan tak menghalagi Jeong-won pergi karena perasaan bersalahnya dan tak ingin menjadi penghalang bagi Jeong-won. Pada akhirnya mereka saling melepaskan. Perpisahan tanpa kata yang begitu menyesakkan.

3. Ada orang yang ditakdirkan hanya untuk singgah dalam hidup kita, bukan menetap

Ketika sepuluh tahun kemudian takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah penerbangan, kondisi telah jauh berbeda. Mereka tumbuh dan hidup dalam mimpi yang dulu hanya bisa dibayangkan. Tentu banyak yang ingin dikatakan, ditanyakan. Meski pada akhirnya ada beberapa penyesalan, perpisahan di masa lalu yang tanpa penjelasan diselesaikan dengan dewasa. Mereka mengerti perasaan yang masih tersisa tidak untuk dipupuk kembali. Sedih, tapi realistis. 

Dan kehidupan yang hitam putih itu kini benar-benar telah berakhir.


Rabu, 05 November 2025

Kenapa Ayah Tidak Minta Maaf?

Sumber: Pinterest

Beberapa waktu lalu aku menuntaskan drama korea Hospital Playlist season 1, salah satu drama dalam daftar panjang yang ingin kutonton. Banyak yang bilang kalau suka drama Reply 1988 harus nonton Hospital Playlist juga. Dan begitulah, aku akhirnya menonton juga. Kolaborasi Lee Woo Jung sebagai penulis skenario dan Shin  Won Ho sebagai sutradara dalam kedua drama tersebut membuat vibes Reply 1988 dan Hospital Playlist ini memang serupa. Hangat, humanis dan realistis. 

Meskipun secara personal aku lebih menyukai Reply 1988, Hospital Playlist tetap punya daya tarik tersendiri. Drama ini menceritakan tentang persahabatan lima orang dokter dengan spesialisasi berbeda yang bekerja di satu rumah sakit dengan beragam problematikanya. Secara keseluruhan drama ini menyajikan banyak dinamika hubungan antar manusia. Tapi tentu saja aku tidak akan menulis tentang semua dinamika itu di sini. Aku hanya akan menulis tentang beberapa adegan yang menurutku cukup menarik. Menarik di sini tentulah personal sifatnya. Bisa jadi ada banyak hal lain di drama ini yang lebih menarik bagi orang lain.

Aku ingat ada sebuah adegan di episode 5 ketika pasien yang juga seorang ayah meminta maaf kepada putrinya karena putrinya telah mendonorkan lever untuknya. Adegan itu mungkin tampak sederhana dalam drama, tapi cukup mengharukan dan aku termenung lama karenanya. Seorang ayah meminta maaf pada putrinya. Indah sekali. Sayangnya tidak semua ayah memiliki cukup keberanian untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Di episode 9 ada (lagi-lagi) seorang ayah yang merasa bersalah karena putrinya sakit lalu berusaha mati-matian untuk diet dan hidup sehat demi bisa menjadi donor lever untuk putrinya. Ayah itu memohon kepada dokter untuk mengoperasinya agar bisa menjalani perannya sebagai ayah dengan benar. Dan lagi-lagi aku tertegun cukup lama. Ingin menjalani peran ayah dengan benar, kalimat yang terdengar tidak muluk-muluk namun sayangnya terasa jauh.

Meski tidak berfokus pada hubungan ayah dan anak, Hospital Playlist season 1 menyajikan beberapa kisah ayah dan anak yang sukses hadirkan rasa haru. Menonton episode demi episode memunculkan tanya dalam diriku. Kenapa ayah tidak pernah minta maaf padaku? Kenapa ayah tidak berusaha menjalani perannya dengan benar? Pertanyaan-pertanyaan yang pada akhirnya berujung overthinking. Kupikir di Indonesia pada khususnya banyak anak yang memiliki pertanyaan yang sama denganku. Tumbuh dalam lingkungan yang boleh dibilang fatherless membuat aku (dan mungkin anak-anak Indonesia yang lain) merasa asing dengan pemandangan ayah yang hadir secara utuh untuk anaknya.

Meski belum jadi orang tua, tentu aku berharap banyak generasiku dan generasi setelahku yang akan memutus rantai fatherless dan hadir secara utuh untuk anak-anak mereka. Agar tidak ada lagi anak-anak yang tumbuh tanpa mengenal peran sosok seorang ayah.



Tulisan ini sebenarnya dibuat beberapa bulan lalu. Belum selesai memang, dan berhenti sebagai draft. Beberapa hal membuatnya sulit untuk diteruskan. Tapi akhirnya, tulisan ini kuselesaikan dengan cepat dan ku post.

Jumat, 08 Desember 2023

Daily Dose of Sunshine

sumber: pinterest

Belum lama ini aku menonton sebuah series yang cukup menarik. Daily Dose of Sunshine. Terdiri dari 12 episode, series ini menceritakan tentang tokoh utama Jung Da-eun ~diperankan oleh Park Bo-young~ , seorang perawat yang pindah dari poli penyakit dalam ke poli psikiatri/kesehatan jiwa. Mulanya Da-eun dapat beradaptasi dengan baik di tempat barunya. Hingga kemudian suatu hari, salah seorang pasien yang merupakan tanggung jawabnya bunuh diri. Da-eun merasa bersalah, sedih dan terpukul. Dan dia tidak lagi bisa menjalani hari-harinya seperti biasa. Da-eun mulai mengalami amnesia disosiatif, tidak mau makan, hanya tidur sepanjang hari dan bahkan mencoba bunuh diri. Da-eun depresi.

Cukup menyesakkan bagiku mengingat adegan-adegan dalam series ini untuk diceritakan kembali. Tapi aku ingin mengingatnya, jadi kurasa harus kutulis meski menyesakkan. Saat kali pertama dibawa ke rumah sakit jiwa, Da-eun menolak menerima kondisinya. Da-eun tidak mau menerima bahwa dia terdiagnosa depresi. Tidak mau meminum obat dan tidak mau membaur dengan pasien lainnya, karena Da-eun menganggap dirinya berbeda dengan pasien lainnya. Namun setelah cukup tenang dalam sebuah konsultasi dengan dokternya dan ingatannya perlahan kembali di malam dia mencoba bunuh diri, Da-eun akhirnya sadar. Da-eun mengakui, menerima kondisinya yang depresi dan menyadari bahwa dia harus memulai pengobatan. 

Selain harus berjuang untuk kesembuhannya, Da-eun pun harus berjuang untuk kembali bekerja sebagai perawat. Ada momen di mana dia merasa ragu dan ingin berhenti. Tapi dukungan orang-orang terdekat terus menguatkan Da-eun untuk kembali bekerja sebagai perawat. Dan bahkan ketika dia harus menghadapi protes dari para wali pasien yang menuntutnya untuk mengundurkan diri, Da-eun dikuatkan untuk terus bertahan dan berjuang.

Series ini memperlihatkan pada kita semua tentang betapa tidak mudah menjalani hidup dengan gangguan kesehatan mental. Stigma dan perlakuan orang lain di luar sana seringkali menambah tekanan. Kisah Da-eun mengajarkan pada kita bahwa tidak apa-apa mengakui dan menerima apa yang kita alami dan rasakan. Menceritakannya kepada orang yang tepat dapat membantu. Juga dukungan orang-orang terdekat yang peduli begitu berpengaruh dalam proses kesembuhan.

Masuk ke bagian yang menarik untukku dari Daily Dose of Sunshine. Ada dialog yang sangat membekas di sesi konsultasi ketika Da-eun akhirnya mengakui dan menerima kondisinya.

sumber: pinterest

Kadang kala, terlalu memikirkan bagaimana perasaan orang lain terasa sangat menyiksa. Seringkali hal itu tidak disadari pada mulanya, namun perasaan menyiksa itu terus menggerogoti dari dalam. Merasa bersalah pada hal yang sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan kita, merasa tidak enak ketika mendahulukan keinginan sendiri, merasa takut untuk menolak dan berkata tidak. Sekalipun kadangkala sulit dilakukan, kurasa penting untuk meyakinkan diri sendiri di beberapa kondisi bahwa tidak semuanya adalah tanggung jawabku. Tidak semua hal harus aku pikirkan seorang diri. Tidak apa-apa kalau aku melakukan sesuatu yang aku sukai. Tidak apa-apa untuk memilih berbeda dengan pilihan orang lain. Tidak apa-apa untuk menolak dan berkata tidak. Tidak apa-apa kalau orang lain salah paham padamu, tidak menyukaimu. Aku hanya perlu melihat mereka yang mendukungku. Karena aku juga berhak bahagia.


Minggu, 27 Agustus 2023

Sebuah Catatan Episode Terakhir Celebrity



sumber: pinterest

"Kalian memamerkannya dan membuat hidup kami seperti sampah."
"Apa sulit bagi kalian untuk diam?"
"Apa kalian harus menyombongkan diri?"
"Kumohon diamlah. Itu menjijikkan dan membuatku gila..."

Kalimat-kalimat di atas adalah kalimat yang diucapkan Lee Seon-yeong alias Lee Eun-chae alias _bbbfamous dalam serial Netflix Celebrity episode terakhir. Aku begitu tercengang sampai harus mengulang adegan itu berulang kali. 

Kalimat-kalimat itu mengacu pada sebuah kelompok yang sering kali mengunggah rumah mewah mereka, barang-barang bermerek yang dipakai, juga mobil super mereka di sosial media.

Dan meskipun acuannya berbeda ~tidak melulu bersifat kebendaan pun kemewahan~, kurasa kalimat-kalimat serupa itu pernah melintas di pikiran-pikiran kita.

Kata orang solusinya mudah. Tidak usah buka sosial media. Tidak usah ikuti akunnya. Tidak usah lihat unggahannya. Nyatanya seringkali tidak sesederhana itu. Dia mungkin keluarga, rekan kerja, atau tetangga. Mendadak tidak mengikuti akunnya akan menimbulkan kesalahpahaman yang lain. Yang tidak sederhana untuk dijelaskan.

Tapi sekali lagi, kita tidak pernah bisa menggunakan kutukan imperius seperti Voldemort untuk mengontrol orang lain. Karena tentu saja setiap orang memiliki pemikiran dan perasaannya sendiri. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrol diri sendiri. Sekalipun itu artinya menahan diri, sekalipun itu tidak nyaman dan bahkan mungkin menyakitkan.

Hal lain yang kemudian menjadi catatan dari adegan itu adalah pesan bahwa unggahanmu di sosial media mungkin bisa menjadi sumber ketidaknyamanan bagi orang lain. Sebuah pesan untuk jangan over sharing atau jangan berlebihan dalam mengunggah sesuatu ~kehidupan pribadimu~ di sosial media. Apapun itu. Sekali dua kali mungkin akan dilewati begitu saja oleh orang lain. Respon awal mereka mungkin akan ikut senang untukmu atau menganggap itu lucu atau bahkan menjadi kagum padamu. Tapi ketika begitu sering diunggah, begitu detail diceritakan, begitu berlebihan, akan ada orang-orang yang kemudian muak. Dan mungkin tersakiti. Dan bahkan menjadi sumber kekacauan seperti digambarkan di serial drama ini.