Kamis, 06 November 2025

Bismo, Sebuah Momen Comeback ke Gunung

Ada yang bilang, mereka yang sudah mendaki gunung bersama lebih dari tiga kali, bukan lagi sekedar teman, tapi keluarga.

***

Sudah lama sejak pendakian terakhirku, delapan tahun. Rasanya antusias sekali saat merencanakan pendakian lagi. Hampir seperti saat diajak mendaki kali pertama dulu. Kali ini, aku akan mendaki Gunung Bismo.

Gunung Bismo, gunung dengan ketinggian 2365 mdpl ini terletak di Kabupaten Wonosobo dan merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng. Meski dikenal dengan jalur pendakian yang cukup ramah bagi pendaki, gunung ini menawarkan pemandangan 360 derajat dari puncak sehingga memungkinkan pendaki melihat Gunung Sindoro, Sumbing, Slamet, Merapi dan Merbabu serta Dataran Tinggi Dieng bila cuaca cerah.

Rencana ke Gunung Bismo bermula dari kunjungan dadakan Fitri dan Adhi ke rumah kami setelah mereka turun dari Gunung Sumbing. Tidak ingin hanya jadi wacana, kami merencanakan pendakian untuk bulan September. Tapi karena satu dan lain hal, waktu pendakian dimajukan. Bagaimanapun, berpikir tentang mendaki bersama dengan Fitri dan Adhi lagi terasa seperti reuni. So excited.

From this...

Aku cukup concern di persiapan pendakian kali ini. Dimulai dengan rajin berolah raga sebulan sebelum pendakian. Jalan kaki, lari kecil, aerobik ringan. Aku menyadari benar usiaku yang tidak lagi muda, kondisi tubuh yang pasti berbeda dan juga gear pendakian yang sudah tidak lengkap lagi. Tas gunungku sudah pensiun, rapuh dimakan usia. Begitu pula sepatu gunungku, head lamp yang sudah entah ke mana, dan pisau lipat serba guna yang sudah tercecer. Tapi minimal aku ingin berusaha menyiapkan diri dengan baik.

26 Agustus 2025

Waktu yang dinanti akhirnya tiba. Pukul tujuh lebih dua puluh menit aku dan suami berangkat dari rumah. Fitri sudah berangkat satu jam sebelumnya naik mobil travel. Kami sepakat bertemu di rumah Adhi. Perjalanan terasa ringan meski carrier sewaan yang kubawa cukup berat dan tidak ergonomis. Satu jam berlalu dan kami memutuskan beristirahat sejenak di rest area Sijonggol, sarapan. Sekitar pukul sembilan kami melanjutkan perjalanan. Dan satu jam kemudian kami sudah berada di ruang tamu rumah Adhi. Aku dan suami melemaskan otot setelah dua jam bermotor sambil mengobrol dan menikmati suguhan tempe kemul khas Wonosobo.

Sarapan di rest area Sijonggol

Pukul 11.30 kami berangkat bersama menuju basecamp Sikunang. Dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari rumah Adhi untuk sampai ke Sikunang. Sesampainya di basecamp kami istirahat, sholat, makan, dan repacking. Seperti biasa, repacking di sini maksudnya tentu saja memindahkan beberapa barang untuk dibawain Adhi wkwk. Beres repacking, kami registrasi di loket. Dikenakan biaya registrasi Rp35.000 per orang untuk mendaki Gunung Bismo. Rincian biaya itu untuk tiket pendakian sebesar Rp20.000 dan Rp15.000 untuk fasilitas di basecamp. Belum termasuk parkir kendaraan ya. Setelah registrasi, kami bersiap berangkat. Hampir pukul tiga sore saat kami memulai pendakian. Bismillah.

Nungguin air ngalir di basecamp :p

Repacking

Tiket

...to this.

Langkah kami dimulai di antara rumah penduduk, lalu kebun sayur, barulah nantinya masuk area pepohonan hutan gunung. Tubuhku mulai beradaptasi dengan langkah-langkah menanjak dan beban di punggung. Meski sudah bertahun-tahun vakum, alhamdulillah masih bisa mengimbangi langkah Fitri dan Adhi. Pukul 15.23 kami sampai di Pos 1, Pos Gedegan.



Pos 1

Rute dari Pos 1 ke Pos 2 masih di antara kebun sayur milik penduduk. Kabut mulai turun dan membawa hawa dingin yang basah. Sejuk. Pukul 15.57 kami sampai di Pos 2, Pos Bekukung. Rehat sejenak, foto-foto juga makan permen coklat Cha-Cha. Dan kalau kami sudah bersama, perkara makan Cha-Cha aja bisa bikin ketawa-ketawa gak jelas. Hawa memang mulai dingin, tapi hati kami hangat.


Kabut mulai turun



Pos 2


Video ini diambil secara spontan oleh mas bojo 😍

Setapak yang kami lalui sudah mulai menanjak dan kabut makin tebal. Pukul 16.20 kami beristirahat di Pos Bayang-Bayang. Pos ini berupa warung semi permanen, Warung Kopi Mbah Koplak namanya. Warung sedang tutup saat kami di sana. Entah tutup karena weekday atau memang ngepasin hari itu saja. Sebelum terlena karena kelamaan istirahat, kami kembali melanjutkan langkah dan pukul 16.37 kami sudah melewati Pos 3, Pos Mesawa.


Ayo semangat! 😄

Pos Bayang-bayang

Pos 3

Pukul 16.49 kami sampai di Puncak Tugel. Kabut makin tebal dan angin berhembus cukup kencang. Kami mendaki di bulan Agustus dan karenanya barisan bendera merah putih masih terpasang, berkibar mengikuti arah angin. Tentu saja kami berfoto dan merekam video selagi sepi dan suasananya dramatis wkwk. Kami cukup beruntung hari itu karena gunung tidak begitu ramai, hanya bertemu beberapa kali dengan pendaki yang tek-tok saja. Kebanyakan remaja dan beberapa mungkin berumur di awal dua puluhan. Semangat masa muda memang tak ada duanya.

Puncak Tugel


Jangan tanya carrier-ku mana, buat ganjel tripod biar gak jatuh terhempas angin 🤣

Mendadak ngajakin pendaki lain buat ikutan foto wkwk


Kami sudah tak berharap akan dapat sunset cantik hari itu karena kabut yang tebal. Tapi apapun bisa terjadi di gunung. Siapa sangka angin yang berhembus kencang tadi perlahan menyingkap kabut yang sedari awal menemani perjalanan kami. Dan saat kami sampai di Puncak Nemu-nemu pukul 17.15 kabut sepenuhnya hilang dan memperlihatkan birunya langit menjelang senja. Puncak-puncak gunung di sekitar Bismo pun mulai terlihat, berpadu dengan hamparan awan yang bergumpal-gumpal membuat senja hari itu semakin epik.

Tiba-tiba cerah 😍

Silau dikit gak papa, foto aja dulu :p

Gak terlalu keliatan nih, iya gak papa :))



Foto lagi lah sebelum lanjut jalan

Makin sore makin cakep 🥰

Matahari perlahan turun dan senja pun tiba. Kami berjalan melanjutkan perjalanan menuju camping ground sambil terus mengagumi senja hari itu.

~ berjalan menuju senja ~
Video ini juga diambil secara spontan oleh masbojo tanpa diminta wkwk lope sekebon



Kata Adhi, itu Gunung Slamet


🤍

Setelah benar-benar gelap, barulah kami membangun tenda. Meski dingin cukup menusuk, malam itu langitnya cerah sekali, bintang bertaburan. Ah, suasana seperti ini yang aku rindukan. Beres bangun tenda kami buru-buru masuk menghangatkan diri, makan malam, sholat, ngobrol haha-hihi lalu istirahat.

27 Agustus 2025

Menjelang pagi angin bertiup semakin kencang. Membawa kabut dan embun yang terasa seperti hujan. Pagi yang basah meskipun sudah tak sedingin semalam. Pagi itu kami gagal melihat matahari terbit, kabutnya terlalu tebal. Kami pun menghabiskan waktu di tenda, menghangatkan diri dengan segelas teh dan obrolan pagi.

Selamat pagi

Terdengar beberapa pendaki melewati tenda kami. Sepertinya mereka hendak berburu sunrise juga awalnya, tapi apa mau dikata kabut terlalu tebal. Kami lanjut sarapan dan menunggu cuaca lebih hangat sambil main UNO. Kebiasaan lama yang kami bawa saat kembali berkumpul, main game.

Burungnya mau ikut sarapan 🤏

Main UNO 

Sudah lewat pukul sepuluh pagi ketika akhirnya kami beranjak dari tenda. Berjalan santai menuju Puncak Indraprasta, Puncak Gunung Bismo. Kabut masih cukup tebal, segalanya nampak putih. Kami bersantai menikmati pagi dan mengabadikan momen di puncak sebelum akhirnya kembali ke tenda dan bersiap turun.

Puncak Indraprasta


Bestie 🤍


New mountain unlocked

Pukul 12.15 tenda sudah rapi terlipat, area camp kami sudah bersih, carrier sudah siap diangkat lagi. Kami pun turun. Perjalanan turun terasa lebih ringan dan kami tidak banyak berhenti. Berhenti sekali di Pos Bayang-Bayang untuk makan jeruk. Sebuah jeruk sisa logistik yang kubawa dan sesuai mandat Adhi harus dimakan di perjalanan turun wkwk. Sebutir jeruk yang dibagi untuk empat orang, kupikir rasanya jadi lebih enak. 

Pukul 13.29 kami sudah berada di basecamp lagi. Dan itu artinya berakhir sudah perjalanan pendakian kami kali ini. Layaknya idol Korea yang comeback dengan mini album barunya, pendakian bersama mereka lagi kali ini seperti menjadi momen comeback-ku ke gunung sekaligus reuni yang menyenangkan. Sebuah momen yang patut dirayakan dan dikenang.

Bunga-bunga di perjalanan turun


Sampai jumpa lagi, Bismo 🤍


Rabu, 05 November 2025

Kenapa Ayah Tidak Minta Maaf?

Sumber: Pinterest

Beberapa waktu lalu aku menuntaskan drama korea Hospital Playlist season 1, salah satu drama dalam daftar panjang yang ingin kutonton. Banyak yang bilang kalau suka drama Reply 1988 harus nonton Hospital Playlist juga. Dan begitulah, aku akhirnya menonton juga. Kolaborasi Lee Woo Jung sebagai penulis skenario dan Shin  Won Ho sebagai sutradara dalam kedua drama tersebut membuat vibes Reply 1988 dan Hospital Playlist ini memang serupa. Hangat, humanis dan realistis. 

Meskipun secara personal aku lebih menyukai Reply 1988, Hospital Playlist tetap punya daya tarik tersendiri. Drama ini menceritakan tentang persahabatan lima orang dokter dengan spesialisasi berbeda yang bekerja di satu rumah sakit dengan beragam problematikanya. Secara keseluruhan drama ini menyajikan banyak dinamika hubungan antar manusia. Tapi tentu saja aku tidak akan menulis tentang semua dinamika itu di sini. Aku hanya akan menulis tentang beberapa adegan yang menurutku cukup menarik. Menarik di sini tentulah personal sifatnya. Bisa jadi ada banyak hal lain di drama ini yang lebih menarik bagi orang lain.

Aku ingat ada sebuah adegan di episode 5 ketika pasien yang juga seorang ayah meminta maaf kepada putrinya karena putrinya telah mendonorkan lever untuknya. Adegan itu mungkin tampak sederhana dalam drama, tapi cukup mengharukan dan aku termenung lama karenanya. Seorang ayah meminta maaf pada putrinya. Indah sekali. Sayangnya tidak semua ayah memiliki cukup keberanian untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Di episode 9 ada (lagi-lagi) seorang ayah yang merasa bersalah karena putrinya sakit lalu berusaha mati-matian untuk diet dan hidup sehat demi bisa menjadi donor lever untuk putrinya. Ayah itu memohon kepada dokter untuk mengoperasinya agar bisa menjalani perannya sebagai ayah dengan benar. Dan lagi-lagi aku tertegun cukup lama. Ingin menjalani peran ayah dengan benar, kalimat yang terdengar tidak muluk-muluk namun sayangnya terasa jauh.

Meski tidak berfokus pada hubungan ayah dan anak, Hospital Playlist season 1 menyajikan beberapa kisah ayah dan anak yang sukses hadirkan rasa haru. Menonton episode demi episode memunculkan tanya dalam diriku. Kenapa ayah tidak pernah minta maaf padaku? Kenapa ayah tidak berusaha menjalani perannya dengan benar? Pertanyaan-pertanyaan yang pada akhirnya berujung overthinking. Kupikir di Indonesia pada khususnya banyak anak yang memiliki pertanyaan yang sama denganku. Tumbuh dalam lingkungan yang boleh dibilang fatherless membuat aku (dan mungkin anak-anak Indonesia yang lain) merasa asing dengan pemandangan ayah yang hadir secara utuh untuk anaknya.

Meski belum jadi orang tua, tentu aku berharap banyak generasiku dan generasi setelahku yang akan memutus rantai fatherless dan hadir secara utuh untuk anak-anak mereka. Agar tidak ada lagi anak-anak yang tumbuh tanpa mengenal peran sosok seorang ayah.



Tulisan ini sebenarnya dibuat beberapa bulan lalu. Belum selesai memang, dan berhenti sebagai draft. Beberapa hal membuatnya sulit untuk diteruskan. Tapi akhirnya, tulisan ini kuselesaikan dengan cepat dan ku post.