Tampilkan postingan dengan label 30 hari bercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30 hari bercerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juli 2024

Memaknai Pergeseran


Melihat reels yang diposting keponakan tentang berani mencoba, percaya diri dan selalu berpikir positif membuatku berpikir wah, keponakan kecilku sudah dewasa, keren sekali. Aku jadi mengingat-ingat dulu seusia itu aku sedang apa ya? Mikirnya keterusan dan malah jadi menyadari bahwa dalam perjalanan menuju usia dewasa banyak pergeseran dalam diri kita sendiri.


Dulu, kupikir tulisan dengan kata-kata rumit dan puitis adalah juaranya. Kini, tulisan yang menghangatkan hati ternyata lebih nyaman dibaca.

Dulu, kukira PR Fisika adalah hal yang rumit. Sekarang ternyata lebih rumit untuk tetap bersikap baik pada manusia-manusia dengan logika di luar prediksi BMKG dan kadang jadi pengen balik ke masa ngerjain PR Fisika aja wkwk.

Dulu, minum air putih tidaklah menarik. Setelah bertambah usia, ternyata memang sebutuh itu dengan air putih.

Yah, menjadi dewasa ternyata bukan saja perihal menjadi tua, tapi juga tentang menemui dan memaknai banyak pergeseran dalam hidup kita. Dan aku senang, keponakan kecilku memulai perjalanannya menuju usia dewasa dengan banyak pergeseran ke hal baik 🤍

***
Unggahan hari ke-25 #30haribercerita

Semoga Sehat Selalu

Bertahun-tahun bekerja tentu aku sudah menjumpai banyak karakter pasien saat sedang diberi penjelasan tentang informasi obat. Ada yang mendengarkan sambil lalu, ada yang sambil main handphone, ada yang sangat terburu-buru hingga nyaris seperti akan melesat terbang, ada yang menyimak tapi tak juga mengerti, tapi tentu banyak pula yang menyimak dengan baik sampai selesai.


Hari ini pun begitu. Setelah menjelaskan informasi obat dan mengucapkan terima kasih pada pasien, biasanya pasien kemudian berlalu. Tapi tadi ada seorang pasien yang membalas ucapan terima kasih lalu berkata padaku, "Semoga sehat selalu ya, Mbak." Aku tersenyum (meski gak kelihatan karena pakai masker) dan membalas, "Aamiin."

Aku jadi ingat dulu sekali, ada seorang ibu lanjut usia yang rutin datang periksa. Beliau pun selalu berkata hal yang sama padaku setiap kali aku selesai memberi informasi obat. Katanya, "Terima kasih ya suster. Semoga sehat selalu, Tuhan memberkati." Meski aku bukan suster, aku tidak ingin mengoreksi. Tapi kini pasien itu tidak pernah berkunjung, semoga artinya beliau sehat-sehat saja.

Di tengah gempuran orang yang selalu terburu-buru dan merasa penjelasan obat tidak terlalu berguna, aku bersyukur masih ada orang-orang yang seperti itu. Perasaanku menjadi hangat ketika mereka yang sedang sakit mendoakan kami yang sehat ini untuk selalu sehat. Rasanya aku dan pekerjaanku menjadi berguna dan berharga.

Panjang umur orang baik!

***
Unggahan hari ke-23 #30haribercerita

Unggahan ini di-repost oleh akun @30haribercerita 🤍



Journaling

Baru-baru ini aku sedang menggemari kegiatan journaling, art journal. Kalau boleh dibilang sejak dulu aku sudah akrab dengan kegiatan journaling ini, hanya saja dulu aku menyebutnya menulis diary. Tidak lagi menulis diary, kini aku mencoba art journal.


Journaling secara harfiah artinya menulis jurnal. Ada beberapa macam jurnal yang dikenal seperti gratitude journal, morning journal, self-reflective journal, reading journal, bullet journal, art journal, scrapbook journal dan masih banyak lagi.

Gratitude journal adalah jurnal sebagai wadah untuk mensyukuri hal-hal setiap harinya. Morning journal seperti namanya adalah jurnal yang ditulis di pagi hari. Bisa berisi apa saja seperti ide, hal yang akan dilakukan atau apa yang sedang dipikirkan. Self-reflective journal biasanya ditulis di akhir hari sebagai refleksi diri. Reading journal adalah jurnal tentang buku yang sedang dibaca. Bisa tentang progresnya maupun reviewnya. Bullet journal biasanya berisi hal-hal yang harus dilakukan (to-do list) atau rencana harian pun mingguan. Art journal adalah jurnal yang memfokuskan pada penyajian visualnya. Meski mirip dengan art journal, scrapbook journal memfokuskan pada penyajian kenangan atau memorabilia. CMIIW.

Kenapa memilih art journal? Ya gak papa. Menyenangkan saja sepertinya. Kegiatan tempel menempel, menghias kertas, menambahinya dengan kata-kata dan bahkan saat memilih printilan untuk ditempelkan terlihat menyenangkan. Dan lagi tidak ada aturannya, aku bisa menggabungkan bullet journal dan art journal. Atau gratitude journal dengan art journal. Bebas. Suka-suka.

Kegiatan journaling ini diyakini memiliki banyak manfaat. Diantaranya adalah mengurangi kecemasan, mengelola emosi, membantu fokus, memperkuat ingatan, bahkan membantu mengatasi depresi.

Nah, journaling selain seru ternyata banyak manfaatnya ya. Mau coba juga?

***
Unggahan hari ke-22 #30haribercerita

***
Di bawah ini kusertakan beberapa gambar hasil journalingku wkwk









 

 





 

Kata Favorit: Ibu

Ibu adalah kata favoritku. Menurut KBBI kata Ibu memiliki arti wanita yang telah melahirkan seseorang; sebutan untuk wanita yang sudah bersuami; panggilan yang takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun yang belum; bagian yang pokok; yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting.


Tapi sejak Ibu berpulang 17 tahun lalu, kata Ibu memiliki makna yang lebih luas untukku. Ibu juga bermakna perpisahan; kematian; sendirian; rindu; pulang; rumah; dingin; langit; senja; hujan; hutan; gunung; laut; bunga; buku; teman. Sejak tak lagi bisa melihatnya, Ibu menjelma menjadi semua kata.

Ibu adalah kata yang tidak pernah menjadi asing. Sekalipun aku tidak pernah lagi bisa memanggilnya. Sekalipun aku tak pernah lagi bisa menyentuhnya. Tapi aku selalu bisa menuliskannya. Menulis tentangnya.

Dan bahkan ketika akan memberi nama usaha kecilku yang baru, yang terpikir adalah Madre. Sebuah kata dengan makna yang sama, Ibu. Kupikir, dengan begitu Ibu akan memberi restu.


***
Unggahan hari ke-17 #30haribercerita dengan tema Kata Favorit.

Jumat, 05 Juli 2024

Olahraga Ra Sepiro, Jajane Ra Kiro-kiro


Minggu pagi beberapa bulan lalu aku lari pagi di lapangan Pemda. Tentu saja niat berolahraga itu didorong oleh angka di timbangan yang terus bergerak naik. Berat rasanya (badan ini). Ditemani suami, aku pun melaksanakan niatku yang terpuji itu.


Setelah satu putaran, aku memperlambat tempo lalu akhirnya berjalan. Sudah lama tidak berolahraga, ngos-ngosan juga. Saat berjalan, kami melewati sekumpulan remaja yang sedang ngobrol. Dan tepat saat kami melewati mereka, salah seorang berkata pada temannya, "Olahragane ra sepiro, jajane ra kiro-kiro" (Olahraganya gak seberapa, jajannya gak kira-kira/banyak). Seketika suami melihat ke arahku dan terkikik. Tatapannya seolah berkata, "Kamu banget."

Setelah beberapa kali lari pagi di lapangan Pemda memang ujung-ujungnya jajan sih. Lari satu putaran, pulangnya bawa banyak tentengan. Mulai dari donat, bomboloni, mille crepes, lumpia, serenteng ciki yang lagi promo dan jajanan-jajanan lainnya. Selain ramai sebagai tempat olahraga, di sekitaran lapangan Pemda Sleman terutama pada hari Minggu memang banyak pedagang makanan. Yaudah gimana dong. Godaan jajan makanan memang sulit ditahan.

Dan sekarang, tiap kali aku mengajak lari pagi ke lapangan Pemda, sambil tergelak suami akan mengucapkan mantra olahraga ra sepiro jajane ra kiro-kiro. Ada yang gitu juga gak sih? 😆

***
Unggahan hari ke-14 #30haribercerita

Teka-Teki Rumah Aneh


Buku ini adalah buku pertama yang kuselesaikan di tahun 2024. Tipe novel yang page turner, jadi bisa selesai bahkan dalam sekali duduk. Novel 220 halaman ini memiliki format dialog. Baru pertama sih kayaknya baca novel dengan format seperti ini, ternyata seru dan berasa kayak lagi ngobrol. Terjemahannya pun oke.


Novel ini bercerita tentang seseorang yang ingin membeli rumah bekas di Tokyo. Sebenarnya dia suka rumah itu karena lingkungannya yang bagus, tapi melihat tata letak rumah yang agak aneh akhirnya dia meminta tolong temannya (tokoh utama) untuk membantu mengecek denah rumah.

Tokoh utama pun kemudian mengajak kenalannya yang seorang arsitek untuk berdiskusi tentang denah rumah itu. Dari diskusi mereka berdua muncul beragam asumsi. Mulai dari asumsi yang biasa saja sampai asumsi terliar yang mampu mereka pikirkan.

Makin dibaca malah makin deg-degan dan makin mikir ya ampun gila sih. Gak kepikiran. Siapa sangka dibalik denah rumah yang aneh itu menyimpan cerita dan rahasia turun temurun yang mengerikan. Dan endingnya novel ditutup dengan asumsi liar (lagi-lagi) dari sang arsitek. Bikin penasaran aja 😌

Gak mau spill banyak sih biar serunya gak hilang pas kalian baca sendiri bukunya 🤭

***
Unggahan hari ke-9 #30haribercerita

Apakah Aku Cukup Mencintai Diriku Sendiri?

Akhir tahun lalu, aku menonton sebuah series Korea berjudul Daily Dose of Sunshine. Banyak insight yang kudapat setelah menonton series yang dibintangi Park Bo-young ini. Ada bagian yang sempat kutulis di blog juga biar tidak lupa.


Selesai menonton aku sempat bertanya pada diriku sendiri, "Apakah aku sudah berterima kasih pada diriku sendiri?", "Apakah aku cukup mencintai diriku sendiri?"

Kita sering kali lupa berterima kasih pada diri sendiri. Untuk banyak hal yang telah berhasil dilewati, untuk tetap berjuang dan tidak menyerah, untuk menerima dan bersabar, untuk belajar dan bertumbuh, dan bahkan untuk menyelesaikan hal-hal kecil yang seringkali dianggap biasa saja.

Dan kadang, kita lupa mencintai diri kita sendiri. Kita sibuk mengurus banyak hal, memenuhi kepentingan orang lain, begitu peduli pada pendapat orang lain sampai lupa mendengarkan suara dan keinginan sendiri juga lupa beristirahat untuk diri sendiri.

Melalui series ini aku merasa kembali diingatkan. Bahwa memiliki keinginan sendiri bukanlah suatu kejahatan. Dan tidak apa-apa mengatakan 'tidak' pada orang lain. Bahwa sesekali kita harus berterima kasih pada diri sendiri dan tidak lupa mencintai diri sendiri.

***
Unggahan hari ke-8 #30haribercerita

Sebenarnya tulisan tentang drama ini pernah aku unggah di blog juga. Selengkapnya silakan baca http://kertas-daurulang.blogspot.com/2023/12/daily-dose-of-sunshine.html?m=1

Bila Tak Ada Esok Pagi


Pada suatu malam di bulan Oktober yang sendu ~sendu karena lelah akibat lembur kerja beberapa minggu~ aku datang ke tempat fotokopian. Aku berniat merevisi instruksi dan menambah laporan yang harus dijilid.

"Pak, maaf gak jadi ambil sekarang. Jadinya tambah satu jilidan ya. Kalau misal diambil besok pagi bisa?", tanyaku.
"Gimana kalau besok pagi gak ada?"
"......."
Jujur aku gak ngerti apa yang lagi diomongin bapak fotokopian. Apakah maksudnya fotokopiannya tutup? Atau gak bisa selesai besok pagi? Waktu itu aku benar-benar sedang lelah, lapar, ngantuk, otak pun rasanya jadi lambat berpikir. Akhirnya aku bertanya setelah hening beberapa saat.
"Gimana, Pak?"
"Gimana kalau gak ada besok pagi?"
Setelah pertanyaannya diulang, aku mulai paham. Ya Allah si bapak 😭
"Ehee..insyaaAllah ada besok pagi," jawabku.
Dan si bapak fotokopian pun cuma nyengir.

Hidup lagi capek-capeknya dan diingatkan bapak fotokopian kalau hidup cuma sementara. Bisa saja tidak ada esok pagi untuk kita.

***

Unggahan hari ke-4 #30haribercerita

Kamis, 23 Februari 2023

Bapak Budi, Budi, dan Sihirnya



Itu Bapak Budi. Dia seorang petani tua yang tinggal di desa penyihir Sukasakti. Selain karena alamnya yang indah, Sukasakti termasyhur karena melahirkan banyak penyihir ternama dan bertalenta. Sayangnya, Bapak Budi terlahir tanpa keahlian sihir. Beruntung Bapak Budi menikah dengan penyihir, berharap Budi, anaknya, bisa menjadi penyihir juga.

Memasuki usia sekolah, kemampuan sihir Budi belum juga nampak. Bapak Budi mulai khawatir. Tapi Bapak Budi tetap memasukkan Budi ke sekolah sihir. Bapak Budi berkeras bahwa Budi memiliki kemampuan sihir seperti ibunya yang telah meninggal.

Sekian waktu bersekolah, Budi tetap tidak bisa mengikuti pelajaran praktik sihir karena kemampuannya yang tak kunjung muncul. Pernah suatu ketika saat akan mengikuti ujian praktik sihir, Bapak Budi meminta tolong pada Ani, teman sekelas Budi yang juga tetangga mereka, untuk melatih Budi. Tapi Ani menolaknya.

Bapak Budi sedih melihat Budi mengkhawatirkan ujiannya esok hari. Nekat, Bapak Budi membuka Buku Sihir Umum milik mendiang istrinya. Mencari sihir yang sepertinya mudah tapi cukup untuk meloloskan Budi di ujian praktik.

Besoknya, hari ujian pun tiba. Budi berangkat dengan percaya diri.
"Kau akan mempraktikkan sihir apa hari ini, Budi?" tanya guru penguji.
"Sihir mengubah buku pelajaran ini menjadi kotak bekal, Bu," jawab Budi dengan yakin.
"Baik. Silakan dimulai."
Budi berkonsentrasi penuh dan mulai mengangkat tongkat sihirnya. Mencoba mengingat mantra yang diajarkan ayahnya. 
"Soiso..kuduiso..buku jadilah kotak bekal." Kabut kehijauan yang aneh muncul dari ujung tongkat sihir Budi. Makin lama kabut hijau itu makin besar dan memenuhi hampir seluruh ruangan. Saat kabut aneh itu mulai memudar, guru penguji heran karena Budi tidak ada di tempatnya semula. Yang tertinggal hanya tongkat sihir dan buku pelajaran yang terbuka. Guru penguji melongok dan melihat gambar wajah bingung Budi di dalam buku. Bukannya mengubah buku menjadi kotak bekal, Budi malah membuat dirinya sendiri terjebak di buku pelajaran.

***
Unggahan hari ke-28 #30haribercerita

Tema mengarang dengan tokoh Budi ini memang bikin senewen peserta #30haribercerita bahkan dari tahun sebelumnya 😆. Dan malah tahun ini Bapak Budi diajak pula. Rasanya puas ketika bisa menyambung kalimat acak yang diberikan menjadi cerita yang tidak terlalu dipaksakan. 



Perempuan dan Peta




Beberapa waktu lalu, suamiku menyelipkan Marauder's Map (Peta Perampok) di barisan koleksi buku-bukuku. Kejutan katanya. Tiruan Peta Perampok dalam film Harry Potter itu membuatku girang. Tentu secara fungsi tidak ada kegunaannya karena toh Hogwarts tidak nyata. Tapi hal itu bahkan tidak mengurangi kesenanganku.

Ngomong-ngomong soal peta, aku, seperti banyak perempuan lain tidak pandai membaca peta. Oke, jangan tersinggung kalau kamu perempuan yang pandai membaca peta. Di sini aku hanya akan mengatakan bahwa memang ada perbedaan kemampuan membaca peta antara laki-laki dan perempuan. 

Kecerdasan/kemampuan spasial diyakini berpengaruh pada kemampuan seseorang dalam membaca peta. Kemampuan spasial adalah kemampuan manusia untuk memahami, mengingat, membayangkan di dalam pikiran berbagai bentuk benda, dimensi, koordinat juga proporsinya. Kemampuan ini memungkinkan seseorang mudah mengingat wajah, gambar, juga memahami diagram ataupun peta.

Berdasarkan pemindaian otak, ditemukan bahwa lobus parietal pada laki-laki secara signifikan lebih besar dibanding yang dimiliki oleh perempuan. Lobus parietal inilah yang mengendalikan orientasi spasial atau pemahaman tentang ukuran, bentuk dan arah. Pada perempuan kemampuan spasial ini diproses di kedua belahan otaknya dan tidak memiliki lokasi spesifik, sehingga kemampuannya tidak sebaik laki-laki. Tapi hal ini juga yang memungkinkan perempuan lebih bisa multitasking serta cenderung lebih hafal detail dan informasi alih-alih fokus pada navigasi. Itulah sebabnya perempuan lebih baik dalam menemukan objek secara lokal dibanding laki-laki. Adil ya?

Jadi, jangan buru-buru kesal kalau teman perempuan atau pasanganmu tak pandai membaca peta. Yakinlah mereka sudah berusaha 🤭

***
Unggahan hari ke-23 #30haribercerita

The Art of Doing Nothing



Istilah itu sering aku gunakan dulu ketika sedang ingin bermalasan-malasan atau lagi mager sebutan jaman sekarang 🤭. Padahal sebenarnya istilah itu bisa bermakna lebih dalam. Sebuah keseimbangan, kalau boleh aku simpulkan.

Dalam bukunya yang berjudul The Art of Doing Nothing, Veronique Vienne menyebutkan bahwa tidak melakukan apa-apa (doing nothing) merupakan hal terbaik sebelum berkegiatan. Contohnya mengambil waktu 10 menit di pagi hari untuk tidak melakukan apa-apa, sarapan dengan santai, atau menikmati teh di tepi jendela. Momen doing nothing ini bisa membantu mengkondisikan mood, mengatur ritme, memberi jeda untuk istirahat juga mengisi energi kembali sebelum beraktifitas lagi. Yang tak kalah penting, doing nothing ini memberi kesempatan pada kita untuk secara sadar hadir utuh di momen sekarang.

Bagiku, momen doing nothing ini cukup efektif untuk memunculkan ide dan pemikiran tentang banyak hal. Ide menulis misalnya, seringkali muncul ketika aku sedang tidak melakukan apa-apa, saat hanya melihat-lihat rak buku, atau saat duduk diam selepas sholat. Lebih jauh, memikirkan tentang beberapa masalah, pencarian solusi, atau bagaimana merespon keadaan di luar sana biasanya akan lebih terang ketika kita sedang tidak melakukan apa-apa.

Tentu ini tidak bisa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan seperti aku dulu 😝. Tapi tuntutan untuk selalu produktif juga berpotensi memicu stres. Jadi sepertinya doing nothing dalam porsi cukup adalah sebuah upaya untuk menciptakan keseimbangan.

***
Unggahan hari ke-20 #30haribercerita

Unggahan ini di-repost oleh akun @30haribercerita. Meski sadar bahwa itu hanya bonus, tak bisa dipungkiri rasanya memang menyenangkan 😆

Selasa, 21 Februari 2023

Di Penghujung Hari Itu





"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu." 
- Ali bin Abi Thalib -

Pernah kujumpai satu hari yang terasa panjang dan melelahkan. Di perjalanan pulang, tanpa sengaja aku bertemu seseorang yang sudah lama tak kujumpai. Dia menyapaku dan seolah mengerti apa yang terjadi, dia mengatakan hal-hal yang saat itu sangat aku butuhkan. Tak berlebihan, terdengar relevan dan menyejukkan.

Seringkali kita berada merasa perlu divalidasi atas apa yang kita lakukan. Meskipun sebenarnya hal itu tak selalu perlu. Karena sekali lagi, yang mengenal baik apa adanya kita akan mengerti, dan yang membenci akan sibuk mencari alasan untuk mencaci.

Di penghujung hari itu, aku pulang ke rumah dengan hati ringan. Menyadari betapa Allah begitu sayang. Karena betapapun banyak hal yang memberatkan, bila kita meminta, maka Allah akan mampukan dan beri jalan.

***
Unggahan hari ke-19 #30haribercerita

Aku masih ingat tentang hari itu. Bagaimana Allah secara instan berikan penghiburan lewat cara yang tak disangka-sangka. Saat pikiran benar-benar gaduh, hati benar-benar penuh. Tapi hanya dalam hitungan menit lewat perjumpaan dengan seorang yang berpikir bijaksana, Allah ringankan segalanya.

Bibliosmia


Sumber bibliosmia-ku


Siapa yang suka bau buku baru? Aku! 😆

Aku selalu antusias setiap kali membeli buku baru. Setelah disampul rapi, buku akan kudekatkan dengan hidung lalu kubuka cepat lembarannya seperti mesin penghitung uang agar aroma bukunya menguar.

Belakangan aku tahu kalau ada istilah untuk bau buku ini. Bibliosmia. Berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti "buku" dan "bau/aroma". Aroma pada buku ini muncul dari perpaduan berbagai senyawa kimia bahan pembuatan buku seperti kertas, tinta, juga perekat yang digunakan. Perbedaan bahan pembuatan kertas/buku yang digunakan akan menyebabkan aroma yang berbeda pula. Hal ini menjadikan aroma tiap-tiap buku bisa saja berbeda. Semakin lama umur sebuah buku, biasanya aromanya pun makin kuat.

Bibliosmia adalah pengalaman yang hanya dijumpai ketika membaca buku fisik. Pengalaman ini tidak akan didapatkan pada e-book atau buku elektronik. Mungkin ini salah satu alasan mengapa buku fisik masih digemari hingga kini.

Yang menarik adalah fakta bahwa aroma buku ternyata ditetapkan sebagai warisan budaya dunia non benda oleh UNESCO. Mantap!

***
Unggahan hari ke-16 #30haribercerita

Judul asli dalam unggahan adalah BBB [Bau Buku Baru]. Untuk beberapa alasan aku mengubah judulnya di unggahan blog.

Senin, 20 Februari 2023

Bagaimana Jika







"Jika Allah mengabulkan doaku, maka aku berbahagia. Tapi jika Allah tidak mengabulkan doaku, maka aku lebih berbahagia.
Karena yang pertama adalah pilihanku, sedangkan yang kedua adalah pilihan-Nya."
- Ali bin Abi Thalib -

Kalimat itu terasa indah saat pertama kali membacanya. Tapi bagaimana saat menjalaninya? Mudah bagi kita untuk bersyukur (dan berbahagia) ketika apa yang menjadi doa kita dikabulkan. Tapi bisakah kita tetap bersyukur (dan berbahagia) ketika doa-doa kita tidak jua terkabul?

Seringkali kita berasumsi bila kita mendapat yang diharapkan atau doa kita yang dikabulkan adalah rezeki yang patut disyukuri, sedang yang tidak kita dapatkan berarti bukan rezeki kita. 

Tapi bagaimana jika hati yang tetap bersabar, upaya berulang kali tidak merutuki apa yang terjadi, juga menahan diri dari komentar orang yang menyakitkan hati adalah bentuk rezeki lain yang patut kita syukuri? Bagaimana jika semua hal berat yang kita rasakan, kekecewaan, kesedihan dan kehilangan ternyata menuntun kita pada rezeki kesabaran dan kesyukuran sebagai hadiahnya?

Karena boleh jadi bila semua doa dikabulkan dan kita mendapat semua yang kita inginkan, kita tidak akan menyadari banyak hal lain yang juga patutnya disyukuri. Hal-hal kecil yang seringkali terlewat karena dianggap biasa di kehidupan sehari-hari. Boleh jadi begitu kan?


***
Unggahan hari ke-15 #30haribercerita

Pindah




Seberapa sering kita bertahan di tempat yang tidak kita inginkan? Di tempat yang tidak memberikan kenyamanan. Tempat di mana kita merasa tidak bisa berkembang. Stuck dan tidak bahagia.

Seberapa ingin kita pindah?

Ke tempat yang kita butuhkan. Tempat di mana ada ruang untuk diri sendiri. Untuk merasa nyaman. Bertumbuh. Berdaya. Tertawa. Diterima. Tanpa tekanan. Tanpa keharusan.

Seberapa yakin kita akan pindah?

Bukan hal mudah menemukan keberanian. Keputusan pindah juga tidak untuk disesalkan. Pada akhirnya, ada hal lain yang akan didapat sebagai pelajaran. Pindah, tidak hanya menawarkan tempat yang dibutuhkan untuk merasa nyaman. Lebih dari itu, pindah adalah ruang untuk bertumbuh, berkarya, tertawa, dan menilai sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Juga mungkin, ruang untuk mulai memaafkan pun menerima.

***
Unggahan hari ke-12 #30haribercerita

Minggu, 19 Februari 2023

The Things You Can See Only When You Slow Down



Waktu itu aku sedang ingin berjalan-jalan di toko buku sendirian. Cover buku cantik dengan judul menarik selalu membuatku tertarik. Bukunya sudah dibuka. Aku acak saja membuka halamannya. Dan tanpa sengaja menemukan kata-kata yang saat itu sedang sangat kubutuhkan.

Bab Enam, Kehidupan. Sub bab: Tiga Wawasan yang Membebaskan.

Pertama, orang-orang tidak sepeduli itu dengan diri saya daripada yang selama ini saya kira.

Kedua, tidak semua orang harus menyukai saya.

Ketiga, jika kita benar-benar jujur pada diri sendiri, kebanyakan hal yang kita lakukan demi orang lain sesungguhnya kita lakukan untuk diri kita sendiri.

Buku itu berkata, "Berhentilah mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan dan lakukan apa pun yang hati kita inginkan. Jangan penuhi batin kita dengan begitu banyak "seandainya". Bebaskan hidup kita dan akuilah keinginan kita. Hanya saat kita bahagia, kita baru bisa membuat dunia menjadi tempat yang lebih membahagiakan."

Dan begitulah, sebuah buku tiba-tiba bisa menjadi kawan baikku.

***
Unggahan hari ke-9 #30haribercerita

Rabu, 08 Februari 2023

33


2022, tahun menjadi 33


33 jumlah ruas tulang belakang manusia.
33 derajat skala Newton adalah ketika air mendidih.
33 kali pengulangan zikir selepas sholat.

33 menjadi angka yang penting. Begitukah?

Ya, menjadi 33 mungkin penting bagiku. Tahun saat aku menjadi 33 adalah tahun di mana banyak hal terjadi. Banyak emosi bermunculan. Sedih, senang, antusias, marah, kecewa, lelah semua bercampur baur di tahun yang sama.

Menjadi 33 bagiku adalah tentang penerimaan. Menerima bahwa tidak semua hal berjalan ideal, seperti yang kau bayangkan, yang kau inginkan. Bahwa ada hal-hal di dunia ini yang di luar kendali kita.

Tapi, penerimaan kali ini, di 33, membawa perbedaan. Bahwa yang kau terima terjadi padamu tidak lantas menjadikanmu menanggung semuanya sendirian. Lepaskan yang bukan tanggung jawabmu. Ambil bagian yang memang bagianmu saja. Karena, menjadi baik pada dirimu sendiri itu penting.

***
Unggahan hari ke-3 #30haribercerita