Jumat, 07 Juli 2023

The Midnight Library



"Satu-satunya cara untuk belajar adalah dengan hidup."

-Mrs.Elm-

***

Hidup seringkali tidak seperti yang kita harapkan. Harapan-harapan itulah yang seringkali membuat kita kecewa atau merasa mengecewakan orang lain. Menjalani hidup seperti yang orang lain harapkan begitu melelahkan. Membuat kita merasa tidak berharga. Dan tidak bahagia.

Kalau boleh kugambarkan, kurang lebih begitulah yang dirasakan Nora Seed, sebagai pembuka cerita di buku ini. Hal-hal mengecewakan terus-terusan terjadi. Penyesalannya makin menumpuk. Dan bahkan Volts ~kucingnya~ mati, membuatnya ingin mati juga.

Alih-alih mati karena keracunan obat anti depresan, Nora malah terjebak di Perpustakaan Tengah Malam dan bertemu dengan Mrs. Elm, pustakawati sekolahnya dulu. Perpustakaan Tengah Malam adalah sebuah tempat yang tercipta di antara kehidupan dan kematian. Memiliki buku dengan jumlah tak terhingga dan tiap bukunya menyediakan satu kesempatan untuk mencoba kehidupan lain yang bisa dijalani. Kehidupan yang mungkin terjadi bila kau mengambil keputusan-keputusan berbeda di kehidupan akarmu. Akankah kehidupan yang lain lebih baik? Atau lebih buruk?

Dan petualangan Nora pun dimulai. Saat pertama sampai di perpustakaan, Nora ditunjukkan Buku Penyesalan miliknya yang sangat berat dan berisi banyak penyesalan dalam hidupnya, keputusan-keputusan yang dia sesali, hal-hal yang membuatnya merasa tidak ingin hidup lagi. Tapi di perpustakaan itu Nora juga berkesempatan memilih buku-buku lain di mana dia berada di kehidupan yang lain. Kehidupan dunia paralel.

Nora mencoba banyak kehidupan. Sebagai perenang juara olimpiade, pemain band terkenal, pemilik pub di pedesaan, glasiolog, perawat anjing, pemilik perkebunan anggur dan bahkan seorang ibu.

Menjalani banyak kehidupan lain membawa perubahan pada diri Nora dalam memandang apa yang terjadi di kehidupan akarnya, membuat penyesalan Nora semakin ringan dan menyadarkannya bahwa setiap kehidupan pantas dijalani. Bahwa kebaikan-kebaikan kecil akan sangat berarti dan membawa perubahan. Petualangan Nora di perpustakaan mengantarkannya pada penerimaan eksistensinya. Penerimaan diri sendiri yang menjadikannya sosok Nora yang baru, Nora yang tidak hidup dengan khayalan kesempurnaan ekspektasi orang lain juga Nora yang tidak melarikan diri dari rasa sakitnya. 

Meskipun di pertengahan sempat merasa bosan karena banyaknya kehidupan yang dicoba Nora, kurasa Matt Haig ~penulis~ cukup berhasil membuat pembaca bertahan sampai akhir dan bahkan mengakhiri buku ini dengan sangat indah dan menyentuh.

Dari sekian banyak kehidupan yang dicoba Nora, kurasa yang paling berkesan bagiku adalah saat Nora menjadi musisi terkenal (bagian menjawab pertanyaan di podcast). Kupikir yang disampaikan Nora di podcast itu luar biasa. Mengingat dia hampir saja membunuh dirinya sendiri.

"Tidak ada kehidupan tempat kau bisa terus-menerus berbahagia untuk selamanya. Mengkhayalkan kehidupan semacam itu ada hanya menumbuhkan semakin banyak ketidakbahagiaan dalam kehidupan yang tengah kau jalani." -Nora Seed-

Jadi, teruslah hidup meskipun dunia memang kadang se-menyebal-kan ini, se-tidak-adil ini, se-menyakit-kan ini, se-mengecewa-kan ini. Teruslah hidup dengan kebaikan-kebaikan sekalipun itu kecil. Teruslah hidup. Karena setiap kehidupan layak dijalani.


Sabtu, 27 Mei 2023

Funiculi Funicula




Apa yang kali pertama kamu pikirkan saat mendengar ada kedai kopi yang bisa membawa ke masa lalu? Mungkin kamu tertarik mencoba. Tetapi bagaimana jika kamu tidak bisa mengubah masa depan meskipun sudah berhasil kembali masa lalu?

Mungkin kamu akan berpikir ulang. Apa gunanya kembali jika tidak ada yang berubah? Tapi tetap saja, ada sebagian orang yang ingin kembali. Dan mereka pun datang, ke Funiculi Funicula.

Funiculi Funicula adalah sebuah kafe/kedai kopi yang menurut legenda urban bisa membawa seseorang kembali ke masa lalu. Juga masa depan. Ada beberapa syarat yang harus diketahui oleh orang yang akan melakukan perjalanan waktu. 

Pertama, orang yang bisa ditemui di masa lalu hanyalah orang yang pernah datang ke kafe ini. Kedua, seberapa keras pun kau berupaya di masa lalu, kau tidak akan bisa mengubah kenyataan di masa kini. Ketiga, kau harus duduk di kursi tertentu untuk kembali ke masa lalu. Namun, kursi itu telah diduduki oleh seseorang. Kau hanya bisa duduk di situ ketika orang tersebut ke toilet. Ia selalu ke toilet satu kali setiap hari, tetapi tak ada yang tahu kapan tepatnya. Keempat, ketika berada di masa lalu, kau tidak boleh meninggalkan kursi tersebut kalau tidak mau ditarik paksa ke masa kini. Kelima, kau hanya bisa kembali ke masa lalu setelah kopi dituangkan ke cangkir dan waktu kunjunganmu hanya sampai sebelum kopinya dingin.

Ada beberapa cerita di buku ini. Tentang sepasang kekasih, suami dan istri, kakak dan adik, juga ibu dan anak. Semua kisah terasa hangat dan menyentuh hati. Meski begitu, yang paling menyentuh bagiku adalah kisah tentang suami dan istri. 

Buku ini membuat kita melihat beberapa hal. Kembali ke masa lalu tidak selalu tentang mengubah yang terjadi di masa kini, tapi bagaimana perasaan kita berubah dalam memandang apa yang terjadi. Mengurai kesalahpahaman, memandang dari sudut pandang yang lain, juga memahami dengan lebih baik apa yang tidak kita pahami sebelumnya. Dengan begitu, perasaan kita akan membaik dan lebih hangat.

Aku selalu mengagumi penulis dengan ide-ide tak biasa dan menuliskannya dengan luar biasa baiknya. Dan kurasa, Toshikazu Kawaguchi ~penulis buku ini~ , adalah salah satunya.

Buku pertama


Buku kedua


Kamis, 23 Februari 2023

Bapak Budi, Budi, dan Sihirnya



Itu Bapak Budi. Dia seorang petani tua yang tinggal di desa penyihir Sukasakti. Selain karena alamnya yang indah, Sukasakti termasyhur karena melahirkan banyak penyihir ternama dan bertalenta. Sayangnya, Bapak Budi terlahir tanpa keahlian sihir. Beruntung Bapak Budi menikah dengan penyihir, berharap Budi, anaknya, bisa menjadi penyihir juga.

Memasuki usia sekolah, kemampuan sihir Budi belum juga nampak. Bapak Budi mulai khawatir. Tapi Bapak Budi tetap memasukkan Budi ke sekolah sihir. Bapak Budi berkeras bahwa Budi memiliki kemampuan sihir seperti ibunya yang telah meninggal.

Sekian waktu bersekolah, Budi tetap tidak bisa mengikuti pelajaran praktik sihir karena kemampuannya yang tak kunjung muncul. Pernah suatu ketika saat akan mengikuti ujian praktik sihir, Bapak Budi meminta tolong pada Ani, teman sekelas Budi yang juga tetangga mereka, untuk melatih Budi. Tapi Ani menolaknya.

Bapak Budi sedih melihat Budi mengkhawatirkan ujiannya esok hari. Nekat, Bapak Budi membuka Buku Sihir Umum milik mendiang istrinya. Mencari sihir yang sepertinya mudah tapi cukup untuk meloloskan Budi di ujian praktik.

Besoknya, hari ujian pun tiba. Budi berangkat dengan percaya diri.
"Kau akan mempraktikkan sihir apa hari ini, Budi?" tanya guru penguji.
"Sihir mengubah buku pelajaran ini menjadi kotak bekal, Bu," jawab Budi dengan yakin.
"Baik. Silakan dimulai."
Budi berkonsentrasi penuh dan mulai mengangkat tongkat sihirnya. Mencoba mengingat mantra yang diajarkan ayahnya. 
"Soiso..kuduiso..buku jadilah kotak bekal." Kabut kehijauan yang aneh muncul dari ujung tongkat sihir Budi. Makin lama kabut hijau itu makin besar dan memenuhi hampir seluruh ruangan. Saat kabut aneh itu mulai memudar, guru penguji heran karena Budi tidak ada di tempatnya semula. Yang tertinggal hanya tongkat sihir dan buku pelajaran yang terbuka. Guru penguji melongok dan melihat gambar wajah bingung Budi di dalam buku. Bukannya mengubah buku menjadi kotak bekal, Budi malah membuat dirinya sendiri terjebak di buku pelajaran.

***
Unggahan hari ke-28 #30haribercerita

Tema mengarang dengan tokoh Budi ini memang bikin senewen peserta #30haribercerita bahkan dari tahun sebelumnya 😆. Dan malah tahun ini Bapak Budi diajak pula. Rasanya puas ketika bisa menyambung kalimat acak yang diberikan menjadi cerita yang tidak terlalu dipaksakan. 



Perempuan dan Peta




Beberapa waktu lalu, suamiku menyelipkan Marauder's Map (Peta Perampok) di barisan koleksi buku-bukuku. Kejutan katanya. Tiruan Peta Perampok dalam film Harry Potter itu membuatku girang. Tentu secara fungsi tidak ada kegunaannya karena toh Hogwarts tidak nyata. Tapi hal itu bahkan tidak mengurangi kesenanganku.

Ngomong-ngomong soal peta, aku, seperti banyak perempuan lain tidak pandai membaca peta. Oke, jangan tersinggung kalau kamu perempuan yang pandai membaca peta. Di sini aku hanya akan mengatakan bahwa memang ada perbedaan kemampuan membaca peta antara laki-laki dan perempuan. 

Kecerdasan/kemampuan spasial diyakini berpengaruh pada kemampuan seseorang dalam membaca peta. Kemampuan spasial adalah kemampuan manusia untuk memahami, mengingat, membayangkan di dalam pikiran berbagai bentuk benda, dimensi, koordinat juga proporsinya. Kemampuan ini memungkinkan seseorang mudah mengingat wajah, gambar, juga memahami diagram ataupun peta.

Berdasarkan pemindaian otak, ditemukan bahwa lobus parietal pada laki-laki secara signifikan lebih besar dibanding yang dimiliki oleh perempuan. Lobus parietal inilah yang mengendalikan orientasi spasial atau pemahaman tentang ukuran, bentuk dan arah. Pada perempuan kemampuan spasial ini diproses di kedua belahan otaknya dan tidak memiliki lokasi spesifik, sehingga kemampuannya tidak sebaik laki-laki. Tapi hal ini juga yang memungkinkan perempuan lebih bisa multitasking serta cenderung lebih hafal detail dan informasi alih-alih fokus pada navigasi. Itulah sebabnya perempuan lebih baik dalam menemukan objek secara lokal dibanding laki-laki. Adil ya?

Jadi, jangan buru-buru kesal kalau teman perempuan atau pasanganmu tak pandai membaca peta. Yakinlah mereka sudah berusaha 🤭

***
Unggahan hari ke-23 #30haribercerita

The Art of Doing Nothing



Istilah itu sering aku gunakan dulu ketika sedang ingin bermalasan-malasan atau lagi mager sebutan jaman sekarang 🤭. Padahal sebenarnya istilah itu bisa bermakna lebih dalam. Sebuah keseimbangan, kalau boleh aku simpulkan.

Dalam bukunya yang berjudul The Art of Doing Nothing, Veronique Vienne menyebutkan bahwa tidak melakukan apa-apa (doing nothing) merupakan hal terbaik sebelum berkegiatan. Contohnya mengambil waktu 10 menit di pagi hari untuk tidak melakukan apa-apa, sarapan dengan santai, atau menikmati teh di tepi jendela. Momen doing nothing ini bisa membantu mengkondisikan mood, mengatur ritme, memberi jeda untuk istirahat juga mengisi energi kembali sebelum beraktifitas lagi. Yang tak kalah penting, doing nothing ini memberi kesempatan pada kita untuk secara sadar hadir utuh di momen sekarang.

Bagiku, momen doing nothing ini cukup efektif untuk memunculkan ide dan pemikiran tentang banyak hal. Ide menulis misalnya, seringkali muncul ketika aku sedang tidak melakukan apa-apa, saat hanya melihat-lihat rak buku, atau saat duduk diam selepas sholat. Lebih jauh, memikirkan tentang beberapa masalah, pencarian solusi, atau bagaimana merespon keadaan di luar sana biasanya akan lebih terang ketika kita sedang tidak melakukan apa-apa.

Tentu ini tidak bisa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan seperti aku dulu 😝. Tapi tuntutan untuk selalu produktif juga berpotensi memicu stres. Jadi sepertinya doing nothing dalam porsi cukup adalah sebuah upaya untuk menciptakan keseimbangan.

***
Unggahan hari ke-20 #30haribercerita

Unggahan ini di-repost oleh akun @30haribercerita. Meski sadar bahwa itu hanya bonus, tak bisa dipungkiri rasanya memang menyenangkan 😆

Selasa, 21 Februari 2023

Di Penghujung Hari Itu





"Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak akan percaya itu." 
- Ali bin Abi Thalib -

Pernah kujumpai satu hari yang terasa panjang dan melelahkan. Di perjalanan pulang, tanpa sengaja aku bertemu seseorang yang sudah lama tak kujumpai. Dia menyapaku dan seolah mengerti apa yang terjadi, dia mengatakan hal-hal yang saat itu sangat aku butuhkan. Tak berlebihan, terdengar relevan dan menyejukkan.

Seringkali kita berada merasa perlu divalidasi atas apa yang kita lakukan. Meskipun sebenarnya hal itu tak selalu perlu. Karena sekali lagi, yang mengenal baik apa adanya kita akan mengerti, dan yang membenci akan sibuk mencari alasan untuk mencaci.

Di penghujung hari itu, aku pulang ke rumah dengan hati ringan. Menyadari betapa Allah begitu sayang. Karena betapapun banyak hal yang memberatkan, bila kita meminta, maka Allah akan mampukan dan beri jalan.

***
Unggahan hari ke-19 #30haribercerita

Aku masih ingat tentang hari itu. Bagaimana Allah secara instan berikan penghiburan lewat cara yang tak disangka-sangka. Saat pikiran benar-benar gaduh, hati benar-benar penuh. Tapi hanya dalam hitungan menit lewat perjumpaan dengan seorang yang berpikir bijaksana, Allah ringankan segalanya.

Bibliosmia


Sumber bibliosmia-ku


Siapa yang suka bau buku baru? Aku! 😆

Aku selalu antusias setiap kali membeli buku baru. Setelah disampul rapi, buku akan kudekatkan dengan hidung lalu kubuka cepat lembarannya seperti mesin penghitung uang agar aroma bukunya menguar.

Belakangan aku tahu kalau ada istilah untuk bau buku ini. Bibliosmia. Berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti "buku" dan "bau/aroma". Aroma pada buku ini muncul dari perpaduan berbagai senyawa kimia bahan pembuatan buku seperti kertas, tinta, juga perekat yang digunakan. Perbedaan bahan pembuatan kertas/buku yang digunakan akan menyebabkan aroma yang berbeda pula. Hal ini menjadikan aroma tiap-tiap buku bisa saja berbeda. Semakin lama umur sebuah buku, biasanya aromanya pun makin kuat.

Bibliosmia adalah pengalaman yang hanya dijumpai ketika membaca buku fisik. Pengalaman ini tidak akan didapatkan pada e-book atau buku elektronik. Mungkin ini salah satu alasan mengapa buku fisik masih digemari hingga kini.

Yang menarik adalah fakta bahwa aroma buku ternyata ditetapkan sebagai warisan budaya dunia non benda oleh UNESCO. Mantap!

***
Unggahan hari ke-16 #30haribercerita

Judul asli dalam unggahan adalah BBB [Bau Buku Baru]. Untuk beberapa alasan aku mengubah judulnya di unggahan blog.