sembilan.sembilan belas.dua puluh sembilan.sembilan puluh.dari sembilan.
ada yang lupa
tap-tap-tap
gadis kecil berbaju merah melompat-lompat senang
kali pertama akan diajak tamasya
kemana?
kemana saja
ke klenteng cina?
boleh saja
tapi bukan
tak apa
bisa sembahyang disana
bisa?
sembilan.sembilan belas.dua puluh sembilan.sembilan puluh.dari sembilan.
ada yang bertanya
tap-tap-tap
gadis kecil berbaju merah bertanya
setelah itu akan kemana?
beli eskrim?
tentu saja
gembira?
ya
sembilan.sembilan belas.dua puluh sembilan.sembilan puluh.dari sembilan.
sepi
sunyi
mana tap-tap-tap gadis kecil berbaju merah?
tak ada
kemana?
pergi nampaknya
kenapa?
butuh teman bicara
sembilan.sembilan belas.dua puluh sembilan.sembilan puluh. dari sembilan.
Senin, 10 Oktober 2016
Sabtu, 01 Oktober 2016
3078 mdpl : [ C I R E M A I ]
Verba volant, scripta manent.
[Yang terucap akan
hilang, yang tertulis akan abadi.]
~peribahasa Latin
***
[ P E R C A Y A ]
Berangkat dari kata ‘percaya’
perjalanan ini dimulai. Kepercayaan telah diberikan kepada saya. Oleh yang saya
percayai. Percaya bahwa perjalanan ini saya butuhkan lebih dari yang saya
inginkan. Percaya bahwa saya akan baik-baik saja dalam perjalanan. Dan percaya,
bahwa saya akan selalu pulang.
[ T E M A N ]
Bahwa di setiap perjalanan, kita
akan bertemu dan membutuhkan orang lain, yang disini akan saya sebut sebagai teman.
Dan bahkan, teman itu mungkin adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita bertemu
dengan diri kita sendiri? Bukankah seringkali kita merasa kehilangan diri kita
sendiri entah karena pengaruh orang lain ataupun keadaan lingkungan. Dan jarang
sekali kita merasa telah bertemu kembali dengan diri kita sendiri. Di
perjalanan inilah saya ingin bertemu kembali, sebab rindu, merindui diri saya
sendiri.
[ I S T I R A H A T ]
“Bukannya buat istirahat, ini
cuti malah naik gunung,” pernah seseorang berkata pada saya.
Dan kemudian saya jawab dengan
tersenyum, “Naik gunung adalah istirahat bagi saya.”
Istirahat. Seperti identik dengan
tidur atau berdiam diri bermalas-malasan. Saya lebih sepakat pada definisi
istirahat adalah proses pindahnya fokus atau konsentrasi. Saya lelah menulis,
maka saya membaca. Membaca adalah istirahat. Saya penat bekerja, maka saya
mendaki gunung. Mendaki gunung adalah istirahat. Hati dan otak saya terasa
penuh, maka saya istirahat.
[ C I R E M A I ]
Ciremai. Gunung ini berada dalam
wilayah dua kabupaten di Jawa Barat yakni Kuningan dan Majalengka. Memiliki
ketinggian 3078 mdpl, gunung berapi ini merupakan yang tertinggi di Jawa Barat.
Pada awalnya (zaman Belanda), kawasan hutan Gunung Ciremai ditetapkan sebagai
hutan lindung. Namun pada tahun 1978, oleh pemerintah Indonesia hutan Gunung
Ciremai dijadikan hutan produksi yang pengelolaannya diserahkan kepada Perum
Perhutani. Dan pada tahun 2003, terjadi alih fungsi kawasan dari hutan produksi
menjadi hutan lindung kembali untuk mengembalikan fungsi ekologis Gunung
Ciremai.
Gunung Ciremai memiliki kekayaan
flora dan fauna. Adapun flora yang terdapat di kawasan Gunung Ciremai
diantaranya adalah pinus, kina, kayu manis, pule juga beberapa jenis palem. Dan
fauna yang masih terdapat di Ciremai diantaranya adalah lutung, kera ekor
panjang, musang, babi hutan, macan tutul, elang, prenjak, walet dan masih
banyak lagi.
Terdapat beberapa jalur yang
dapat digunakan untuk mendaki Gunung Ciremai. Yang populer digunakan adalah
jalur Palutungan dan Linggarjati di Kuningan dan jalur Apuy di Majalengka. Atas
rekomendasi seorang teman, kami memilih untuk mendaki lewat jalur Palutungan
yang konon katanya lebih landai dibanding jalur Linggarjati meski dengan
konsekuensi waktu perjalanan yang lebih lama.
3 September 2016
Dengan menggunakan kereta api
Progo kami berangkat dari stasiun Lempuyangan menuju stasiun Cirebon Prujakan.
Menakjubkan ketika mengingat kembali bahwa jam 8 pagi saya masih berada di
tempat kerja saya di Yogyakarta, berkutat dengan pasien hingga lewat tengah
hari dan jam 8 malamnya saya telah berada di kota lain, Cirebon. Teknologi
transportasi. Betapa manusia telah memanfaatkan apa-apa yang dimiliki dengan
sangat baik. Hal yang tidak terpikir ketika saya tidak melakukan perjalanan.
Atas tawaran teman saya yang juga
merekomendasikan jalur pendakian, kami menginap di rumahnya. Tak berpikir
panjang, saya iyakan. Sekalian menengok bapak si teman yang kala itu tengah
sakit. Bapak yang dalam pandang saya menurut cerita-cerita si teman, adalah
bapak yang disayangi, dihormati, dan disegani sekaligus. Langka. Beruntung saya
diberi kesempatan untuk bertemu dan mencium tangannya, meski sekedar
memperkenalkan diri dan berpamitan. Karena ketika saya menuliskan ini, beliau
telah berpulang. Selamat jalan bapak, doa terbaik untuk engkau.
4 September 2016
Masih pagi ketika kami ditemani
adik si teman berbelanja ke pasar Kramat Mulya untuk membeli bahan masakan.
Telinga saya yang terbiasa mendengar bahasa Jawa (jawa Yogya-Solo) mendadak
diliputi dengung bahasa asing ketika memasuki pasar. Sunda. Dan bahkan saya
beberapa kali ditanyai dengan bahasa Sunda. Saya cuma bisa senyum dan
melemparkan pandang –plis tolong terjemahin- ke adik si teman. Yang kupandang
balik tersenyum dan membalasku dengan pandangan –haha, iya saya bantu- lalu
menjelaskan kepada penjual pasar apa yang saya butuhkan. Bahasa. Menjadi produk
yang tetap saya kagumi, bahkan ketika saya tidak mengerti.
Beres re-packing, berpamitan pada Ibu teman saya –yang kala itu belum
memahami apa yang diinginkan anak muda dengan mendaki gunung- dan adik si teman
–yang pengen ikut naik gunung tapi serta merta permohonannya ditolak Ibu-, lalu
kami pun berangkat menuju basecamp
Palutungan. Bangunan yang dijadikan basecamp
berupa rumah mirip di perumahan yang sebenarnya bisa lebih bersih lagi bila
rutin dibersihkan, pos loket, toko kecil yang menyewakan peralatan mendaki dan
deretan kamar mandi di belakang rumah. Di sekelilingnya terdapat beberapa
warung makan sekaligus toko kelontong kecil.
Kami mendaftarkan diri di pos dan
membayar lima puluh ribu rupiah untuk masing-masing pendaki. Harga yang cukup
mahal bila dibandingkan gunung-gunung di Jawa Tengah yang rata-rata di bawah
sepuluh ribu. Menurut informasi yang saya baca di internet sebelum mendaki, hal
yang sama dirasakan pula oleh masyarakat sekitar pada awal-awal kenaikan tarif.
Tapi kemudian saya memahami bahwa harga sekian adalah termasuk fasilitas peta,
kamar mandi dan satu kali makan (diberikan pada waktu turun gunung).
Berdasarkan informasi peta, lepas dari Palutungan kami mesti melewati delapan
pos sebelum sampai puncak.
Kurang lebih pukul sembilan lewat
tiga puluh menit pagi kami berangkat dari basecamp
Palutungan menuju Pos 1, Cigowong. Estimasi waktu perjalanan adalah dua hingga
tiga jam. Waktu tempuh terlama antar pos. Saya membuat catatan sendiri, berisi
estimasi waktu tempuh antar pos berdasarkan informasi yang telah didapat
sebagai gambaran yang nantinya akan saya cocokkan dengan real time yang kami tempuh. Bismillah. Pendakian dimulai.
| peta |
Lepas dari kampung terakhir, kami
melewati kebun milik penduduk, lalu kawasan hutan pinus, dan barulah kami
memasuki hutan hujan Gunung Ciremai. Hutan hujan Gunung Ciremai benar-benar
masih asri. Rimbun dan lembab. Hampir semua pohon besar yang kami jumpai
ditumbuhi lumut hijau. Meski begitu jalan setapak yang menjadi jalur jelas
terlihat. Beberapa kali kami bertemu dengan jalan yang tanjakannya lumayan.
Kami belum lagi tahu bahwa di waktu selanjutnya tanjakan-tanjakan yang lumayan
tadi akan berubah menjadi lumayan banget.
| Jalur pendakian |
Tepat dua jam perjalanan dan kami
sampai di Pos 1, Cigowong. Terdapat gapura selamat datang di pos ini. Ada aura
kebahagiaan memasuki gapura. Hal ini tak lebih disebabkan oleh warung-warung
makan yang berjajar. Bahkan ada pula calon warung yang tengah dibangun.
Beberapa waktu mendatang pastilah Pos 1 lebih semarak oleh sebab hadirnya
warung-warung baru. Menurut informasi hanya di pos ini terdapat sumber air. Dibangun
pula beberapa kamar mandi di dekat bak tempat mengambil air. Cukup lama kami
tertahan di Pos 1. Makan, sholat, ngopi, juga ngobrol dengan bule asal Belgia,
Swiss dan Perancis. Jangan tanya pakai bahasa apa. Tentu saja bahasa Indonesia.
Si bule Belgia telah cukup fasih ngobrol menggunakan bahasa Indonesia karena
telah tinggal selama satu tahun di Indonesia. Mereka bertanya soal jalur turun
lewat Palutungan (padahal sudah sampai Pos 1). Satu hari sebelumnya mereka
telah mendaki Gunung Ciremai via Apuy di Majalengka. Hujan turun membuat kami
tertahan lebih lama lagi di warung. Dan ketika hujan tak nampak akan reda, kami
pun bersiap mengenakan mantel hujan. Setelah berpamitan pada bapak yang telah
berjasa membuatkan kami kopi dan mie instan, kami pun melanjutkan perjalanan
menuju pos selanjutnya, Pos Kuta.
| Pos Cigowong |
Tiga puluh menit estimasi waktu
yang diperlukan dari Cigowong menuju Kuta kami pangkas menjadi setengahnya,
lima belas menit kami telah sampai di Pos Kuta yang rupanya hanya berwujud
pohon besar dengan akar-akar besarnya yang mencuat ke atas tanah. Bisa digunakan
untuk duduk-duduk. Mantel hujan masih kami pakai. Dan tak ada niat untuk
beristirahat lama-lama di Pos Kuta. Kami pun meneruskan perjalanan.
| Pos Kuta |
Pukul dua kurang sepuluh menit
kami sampai di Pos 3, Pangguyangan Badak. Tiga puluh menit perjalanan dari Pos
Kuta. Pangguyangan Badak cukup lapang untuk dapat didirikan tenda bila
diperlukan. Bisa menampung sekitar tiga atau empat tenda kapasitas 2-4 orang.
Di pos ini kami melepas mantel hujan. Hujan sudah berhenti. Alhamdulillah.
| Pos Pangguyangan Badak |
Semangat masih membara rupanya
sehingga empat puluh menit dari Pangguyangan Badak sampailah kami di Arban, Pos
4. Dalam catatan saya estimasi waktu tempuh dari Pangguyangan Badak menuju
Arban adalah enam puluh menit. Ah,
semoga semangat ini tetap terjaga mengingat kaki saya yang sudah lama sekali
tidak dilatih naik gunung. Di Pos Arban kami menjumpai banyak pendaki yang
memilih mendirikan tenda setelah turun dari puncak. Sebentar mengobrol dengan
beberapa orang dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pos 5. Hal-hal yang
seperti ini yang sering saya rindukan. Di gunung, kami saling menyapa dan
menghormati orang lain yang dijumpai sekalipun tidak saling kenal. Merasa
kontras ketika mengingat kehidupan nyata di bawah sana. Saling kenal pun kadang
enggan menyapa. Bahkan yang pernah sangat dekat pun rasa-rasanya bisa menjadi
asing. Manusia.
| Pos Arban |
Pos 5 bernama Pos Tanjakan Asoy.
Entah apa pasal diberi nama seperti itu. Saya curiga tracknya justru kebalikan dari asoy. Dan benar saja,
tanjakan-tanjakan cukup curam mesti kami lalui untuk mencapai pos tersebut.
Akar-akar pohon bercampur tanah masih menjadi pemandangan utama. Beruntung
hujan tak turun berkepanjangan. Akan sangat licin setapak yang kami lalui bila
hal itu terjadi. Tujuh belas menit kami butuhkan dari Arban untuk sampai di
Tanjakan Asoy. Dan rasanya cukup melelahkan. Lelah yang membahagiakan. Pukul
tiga lebih dua puluh menit sore.
| Jalur |
| Pos Tanjakan Asoy |
Cukup beristirahat untuk
mengumpulkan kembali tenaga. Berharap tak bertemu lagi dengan tanjakan-tanjakan
asoy setelah Pos Tanjakan Asoy. Dan pupus harapan! Tanjakan Asoy adalah
permulaan. Jarang sekali kami jumpai tanah datar. Tanjakan dan tanjakan. Curam
dan curam. Tap tap tap. Langkah kaki rasa-rasanya semakin berat. Kami mulai
lelah. Empat puluh lima menit dan kami baru sampai di Pasanggrahan I. Entah
sejak kapan muncul Pos Pasanggrahan I ini. Di peta belum lagi ada. Hanya ada
tertera Pos Pasanggrahan, yang kemudian kami ketahui maknanya adalah
Pasanggrahan II, Pasanggrahan yang sejati. Beberapa tenda telah dan sedang
didirikan di Pasanggrahan I. Menurut instruksi yang kami dapat di basecamp, pendaki dianjurkan mendirikan
tenda di Pasanggrahan. Dan atas kesepakatan pengelola basecamp Palutungan dan Apuy, pendaki tidak disarankan untuk
mendirikan tenda di pos terakhir, Goa Walet, untuk mencegah terjadinya timbunan
sampah seperti yang sudah-sudah. Kami duduk-duduk di tempat lebih tinggi untuk
sekedar meluruskan kaki sambil melihat orang-orang yang tengah mendirikan tenda
dan hammock sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pasanggrahan II.
| Pos Pasanggrahan I |
“Kalau kondisinya seperti ini
seterusnya, kita tidak bisa melihat sunset,”
kata saya sambil tetap memandangi orang-orang yang nampak sibuk dengan tenda
dan peralatan masak mereka.
“Sepertinya sih gitu.”
Kondisi hutan hujan Gunung
Ciremai yang sangat rimbun dan sarat pohon besar nan tinggi menjulang membuat
kami kesulitan melihat langit luas. Langit hanya dapat kami lihat melalui celah-celah
dedaunan. Kondisi yang sama hingga menjelang batas vegetasi.
Dua puluh menit waktu yang kami
butuhkan dari Pasanggrahan I untuk mencapai Pos 6, Pasanggrahan, yang sekarang
disebut dengan Pasanggrahan II. Waktu menunjukkan pukul lima sore kurang
beberapa menit. Kami pun mulai mendirikan tenda sebelum gelap tiba.
| Pos Pasanggrahan II |
5 September 2016
Pukul tiga pagi adalah waktu yang
kami sepakati untuk summit attack. Nyatanya
pukul empat barulah kami beranjak dari tenda. Semoga masih cukup waktu untuk
melihat langit pagi beserta sunrise
dari tanah tertinggi Jawa Barat. Lima belas menit berjalan dan kami telah
sampai di Pos 7, Pos Sanghyang Ropoh. Semakin ke atas jalur menjadi lebih sulit
dilewati. Tak sekedar tanjakan berupa tanah dan akar pepohonan. Kali ini
batu-batuan besar pun turut serta meramaikan jalur kami. Tak hanya sekali saya kebingungan
mesti menapakkan kaki dimana.
| Pos Sanghyang Ropoh |
| persimpangan jalur Palutungan dan Apuy |
“Eh ini mesti lewat mana?”
“Kaki aku yang satu mesti ditaruh
dimana?”
“Aku takut lewat situ.”
Kalimat-kalimat yang jarang
sekali saya pakai mendadak keluar ketika berhadapan dengan jalur yang mesti
kami lalui. Cukup menantang. Dan melelahkan. Namun ternyata saya memang
merindukan hal-hal seperti itu. Terima kasih Ya Alloh. Terima kasih semesta. Untuk
keberadaan saya di Ciremai.
| rada ngeblur. tangan menggigil |
Lima puluh menit dan kami pun
sampai di Pos terakhir, Pos Goa Walet. Hanya ada satu tenda berdiri di pos ini.
Saya menunaikan sholat subuh tak jauh dari tenda sebelum melanjutkan perjalanan
yang tak lebih mudah dari sebelumnya. Langit tak lagi hanya kami lihat lewat
celah dedaunan. Semburat kuning dan jingga mulai terlihat. Bertemu cantigi
adalah kelegaan. Sebentar lagi puncak!
| Pos Goa Walet |
| Goa Walet |
| selamat pagi :) |
Hap hap hap! Dan meski semangat
meletup namun kondisi tubuh tak lagi dapat dibohongi. Track yang sungguh mampu membuat lelah masih menemani kami sampai akhir.
Tiga puluh lima menit sudah kami berjalan dari Pos Goa Walet. Dan pada pukul enam
kurang beberapa menit saja sampailah kami di puncak tertinggi di Jawa Barat,
Puncak Ciremai. Alhamdulillah. Allahu akbar. Lega sekali rasanya melihat
kibaran bendera merah putih. Senang bukan kepalang menatap lautan awan dari
tempat saya berdiri. Berjalan lurus menuju tempat dimana sang merah putih
berada. Sebelah kanan saya adalah lautan awan dan sebelah kiri adalah jurang dengan kawah di dasarnya. Dan sinar
matari pagi menghangatkan gigil yang sedari tadi tak hilang-hilang. Padu padan
yang tak selalu didapatkan. Padu padan yang di kemudian waktu memberi pemahaman kepada Ibu teman saya tentang mengapa anak muda senang mendaki gunung. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu
dustakan?
Kami berjalan berkeliling di
Puncak Ciremai. Memanjakan mata dengan kombinasi apik antara langit biru,
gumpalan awan, cahaya matari pagi, juga edelweis. Menikmati setiap menitnya
berada di tanah ini, sebagai hadiah indah bagi kami semua. Hadiah atas
perjalanan yang tak mudah. Hadiah manis untuk mereka yang memilih untuk tidak
menyerah.
| maafkan saya untuk foto ini :p |
Merasa cukup berada di atas, kami
pun turun. Setengah delapan lewat. Dan saya kembali dihadapkan pada kenyataan
jalur yang kami lalui tadi. Pegang ranting itu, merangkak disini, berjinjit,
lompat, menggelayut di dahan. Kemudian menengok ke belakang sesekali untuk
melihat yang sudah berhasil dilewati. Astaghfirulloh, tadi jalurnya kayak gitu?
| astaghfirulloh.. |
Lega rasanya begitu sampai
kembali di tenda. Kami beristirahat sejenak untuk kemudian memasak makan siang.
Makan siang kami istimewa sekali. Nasi putih, orak arik brokoli campur wortel
dan jagung manis dengan lauk telur dadar spesial. Kenyang!
| makan siang |
Sudah lewat tengah hari ketika
kami kembali menggendong keril. Pada mulanya perjalanan turun terasa lebih
cepat dibanding saat kami mendaki. Tapi entah apa pasal setelah lewat Pos 4, pergelangan kaki saya seperti salah otot. Mulanya
terjadi nyeri mendadak. Saya coba lemaskan, putar-putar, tempelin salonpas, tapi
nyerinya tak juga hilang. Ah sudahlah. Jalan saja terus sampai bawah. Insyaa Alloh
mampu.
Senja mulai merayap turun ketika
kami sudah sampai perkebunan penduduk. Beberapa kali menengok ke belakang untuk
sekedar menatap gagahnya Ciremai. Untuk sekedar bertanya dalam hati sendiri, “Benarkah
tadi pagi kaki ini telah menjejak puncak itu?”. Untuk sekedar mengucap terima
kasih sudah sedemikian baik pada manusia yang datang berkunjung. Dan untuk sekedar
mengucap salam perpisahan. Terima kasih Ciremai. Terima kasih.
Sudah benar-benar gelap ketika
kami sampai di basecamp. Lampu-lampu
telah dinyalakan. Hari sudah hampir berakhir. Yang lelah akan beristirahat. Bersiap
untuk menyambut hari baru esok pagi.
[ S E K I A N ]
Catatan khusus:
Direkomendasikan untuk
menggunakan sepatu yang sesuai saat mendaki Gunung Ciremai terkait track yang akan dilalui. Tetap waspada
terhadap satwa-satwa yang mungkin ditemui. Jangan salah masuk jalur evakuasi. Bawa
diri dengan baik dan jangan lupa bawa sampahmu turun. Salam lestari.
Kamis, 22 September 2016
terkenang
Kukira musim telah tak beraturan
sekarang. Tak tahu benar musim apa kali ini. Tapi hujan tak hendak reda kurasa.
Dan pada akhirnya seperti yang sudah-sudah setiap hujan turun, terkenang juga aku padamu. Pada hari dimana kali pertama kau
berkunjung ke rumahku.
***
“Kujerangkan air sebentar, kau
mau kubuatkan minum apa?” tanyaku begitu kau sampai rumahku. Alih-alih menjawab
pertanyaan, lekat kau pandangi aku. Salah tingkah aku dibuatmu.
“Sini, duduk sebelahku,” kau
menepuk kursi di sebelah tempatmu duduk.
“Tapi aku jerang air dulu.”
“Nanti saja. Duduk dulu disini.”
“Ada apa?” tanyaku setelah duduk
tepat di sebelahmu.
Kurasa pelukan adalah pengganti
kalimat jawaban dari pertanyaanku. Lalu kau genggam erat pula tanganku setelah
itu. Lagi, kau pandangi aku dengan lekat.
“Maafkan. Kau harus tanggungkan
semuanya sendirian selama ini,” katamu seolah akan menangis. Seolah segala yang
terjadi adalah kesalahanmu.
“Tak apa. Itu sebab aku memilihmu
dari yang lain-lain. Sebab percaya bahwa kau akan bahagiakanku,” jawabku
tersenyum.
Kau peluk lagi aku. Kumaknakan
sendiri pula pelukanmu, bahwa kau setuju untuk bahagiakan aku setelah
segala-gala yang kutanggungkan seorang diri di dunia ini. Lalu kau usapi
pipiku, lekat kau tatap mataku. Kurasai diri menjadi begitu berarti buatmu. Bahagia.
“Boleh sekarang aku jerang air
untuk membuatkanmu minuman?”
“Hahaha..,” kau tertawa. Mengangguk.
Kau tahu, waktu itu fikirku
bahagia adalah kita. Tak kurasai beban barang sedikit. Percaya aku padamu. Tak ada
prasangka bahwa luka dan perih akan jumpai kita di kemudian hari.
***
Sekuat apa aku bertahan menahan
tangis bila terkenang akan engkau sekarang? Kau tahu, lelah benar aku wujudkan
bahagia di depan orang-orang. Sandiwara segalanya. Boleh kau pilih aku sebagai
pemeran sandiwara terbaik untuk peran berpura-pura bahagia. Hingga tak ingat
benar aku yang mana yang berpura-pura dan yang mana yang sesungguhnya. Tapi aku
ingat hari terakhir kau di rumahku.
***
“Maafkan untuk segala salahku
padamu. Aku rindu,” katamu.
Pun aku. Tapi apa mampu
kukatakan? Tak ada. Tangis saja yang keluar.
“Maafkan tak mampu bahagiakanmu,”
katamu lagi.
Kenapa baru sekarang kau datang?
“Kau hiduplah berbahagia.”
Apa kau kata? Tak mengertikah
bahwa pernah kutitipkan segala cita-cita bahagia itu padamu? Kuharapkan segala
hal yang indah-indah bersamamu. Hanya tak kukatakan. Aku perempuan.
***
Sesal? Terlambat? Salah pengertian?
Tak inginkan segala hal itu ada pada kita. Bahwa keseluruhan yang terjadi
adalah kesalahan aku dan kau. Tapi, tak ada hal buruk yang ingin aku kenangkan
darimu. Aku ingin mengingatmu sederhana saja. Aku ingin mengingatmu bahagia
saja. Karena pernah, suatu waktu di masa lalu, kau ingin bahagiakanku, pun aku
ingin kau bahagia denganku. Karena pernah, suatu waktu di masa lalu, kita
berbahagia.
[sengaja mencoba gaya menulis lain dari yang biasa saya tulis. maafkan bila banyak kurang ^.^v]
Senin, 22 Agustus 2016
Senyum
Ketika senyumku tak lagi jadi favoritmu
Saat itulah aku merasa tak perlu lagi sering melihat ke cermin
Sekedar memastikan lipstikku berwarna lembut kesukaanmu
Saat itulah aku merasa tak perlu lagi sering melihat ke cermin
Sekedar memastikan lipstikku berwarna lembut kesukaanmu
Ketika telah ada senyum lain bagimu
Saat itulah aku merasa tak perlu lagi sering melihat ke cermin
Sekedar memastikan jilbabku tak koyak karena angin
Saat itulah aku merasa tak perlu lagi sering melihat ke cermin
Sekedar memastikan jilbabku tak koyak karena angin
Dan ketika senyumku tak lagi jadi favoritmu
Aku jadi jarang tersenyum
Aku jadi jarang tersenyum
Minggu, 21 Agustus 2016
Seandainya Kamu
Melihatmu tertawa saja sudah menjadi penghiburan bagiku
Melihatmu baik-baik saja sudah melegakanku
Melihatmu berkumpul bersama teman-temanmu membuatku tenteram
Kamu tidak sendiri
Seandainya kamu mau mengerti
Kala itu
Begitu caraku peduli
Begitu caraku mencintai
Kamu
Ah, seandainya kamu mau mengerti
Aku perempuan
Mengucap rindu pun malu
Alih-alih mengejarmu
Tabu
Bukan, bukan tak ingin
Hanya saja aku tak mengerti caranya
Seandainya kamu mau mengerti
Kala itu...
Kamis, 11 Agustus 2016
Tulisanmu #3: ...
Ada rasa ganjil mengeriap meninggi-ninggi di bidang dada terdalam, bak lelayangan terhembusi angin dari padang berpenuh padi menguning. Rasa itu berbentuk kapal layar yang sebentar lagi dibelai ombak; perupa Pinisi bergaris darah petarung laut.
Berlayarlah rasa. Tanpa cemas-cemas kecil atau besar.
Tiap tetes hingga samudera, ialah tinta bekas pena yang menulis namamu. Mengarunginya bermalam-malam sambil menafsir kefanatikanku akan namamu. Alas! Ini adalah laut, Firdaus tanpa tilas Khuldi; tanpa kau perlu takut akan turun ke bumi.
Hingga ke daratan, itulah dia, berdiri, dalam rupa jelata tapi jelita. Seketika nahkoda tertegun khidmat, bak tersihir bukan dimantrai. Namamu itu azimat yang rajahi kulit-kulitku, bagai daun pacar berdarah henna yang diberkati oleh para tetua.
Sampailah rasa. Ternyata sederhana; aku masih cinta
Maret, 2016. [2.1]
***
Yang terasa ganjil adalah terbangun di waktu sepi menyengat, saat sel kelabu otakku tidak bekerja keras
Tak ada riuh di kepala
Dan namamu seperti disebut oleh detak jarum jam di kamarku, satu-satunya suara yang tersisa
Tak ada riuh di kepala
Dan namamu seperti disebut oleh detak jarum jam di kamarku, satu-satunya suara yang tersisa
Sudah ingin pergi?
Ah, aku lupa
Tentu saja
Telah habis dihapus semua gambarku
Telah ada pula gambar-gambar indah yang baru
Ah, aku lupa
Tentu saja
Telah habis dihapus semua gambarku
Telah ada pula gambar-gambar indah yang baru
Bila telah tiba masa istirahatku
Aku ingin kita berbincang
Tentang warna langit pagi yang merah teh atau kuning mentega
Ditemani secangkir kopi dengan sedikit manis gula dan tanpa duka
Agar di masa yang belum, yang teringat adalah nikmat kopi kita
Aku ingin kita berbincang
Tentang warna langit pagi yang merah teh atau kuning mentega
Ditemani secangkir kopi dengan sedikit manis gula dan tanpa duka
Agar di masa yang belum, yang teringat adalah nikmat kopi kita
Bisa?
Selasa, 02 Agustus 2016
asing
ada yang asing
kufikir itu kau
nyatanya aku
ingatanku rasanya tak asing
aku ingat
masih ingat
perihal langit biru, tebing dan pepohonan
aku ingat
perihal keramaian, lalu lalang kereta, juga stasiun kala gelap
aku masih ingat
perihal manusia yang buru-buru, tas yang digendong tergesa, hiasan kancing baju yang terlepas dan jatuh ke lantai
rasa-rasanya tak asing
aku ingat
masih ingat
ingatanku penuh
terlalu penuh
khawatir luruh
namun ketika kufikir segalanya telah menjadi asing
nyatanya itu aku
esoknya kufikir asing itu akan menghilang seiring waktu
nyatanya tidak
tidak, tidak
asing itu bukan kau
bukan aku
kita
kufikir itu kau
nyatanya aku
ingatanku rasanya tak asing
aku ingat
masih ingat
perihal langit biru, tebing dan pepohonan
aku ingat
perihal keramaian, lalu lalang kereta, juga stasiun kala gelap
aku masih ingat
perihal manusia yang buru-buru, tas yang digendong tergesa, hiasan kancing baju yang terlepas dan jatuh ke lantai
rasa-rasanya tak asing
aku ingat
masih ingat
ingatanku penuh
terlalu penuh
khawatir luruh
namun ketika kufikir segalanya telah menjadi asing
nyatanya itu aku
esoknya kufikir asing itu akan menghilang seiring waktu
nyatanya tidak
tidak, tidak
asing itu bukan kau
bukan aku
kita
Langganan:
Postingan (Atom)
