Minggu, 16 Desember 2012

rindu #6 : adaku, tak-adamu



aku mengenali dengan baik wangi kopi favoritku
sebaik aku mengenali wangimu
aku menikmati setiap denting sendok bertemu cangkir kopiku
senikmat mendengar merdu suaramu di pagi hari
dan aku tahu benar rasa kopi favoritku
layaknya aku tahu benar setiap rasa yang ada padamu
sepadat aku
secair kopi favoritku
dan semaya kamu
kita terpisah oleh apa yang disebut dimensi ruang
yang bahkan ruang transisi rumit bernama rindu pun tak berhasil membuat kita menjadi sama
tak sanggup membuat kita selalu bersama
karena seberapapun aku merindumu
adaku dan tak-adamu mutlak adanya

5cm. : sebab perjalanan ini takkan terlupa




Euphoria film 5cm masih membahana hingga di detik saya menulis ini. Cetaarr menggelegar badai kalau kata Syahrini. Film yang diangkat dari novel best-seller karya Donny Dhirgantoro ini berhasil menyedot animo masyarakat Indonesia. Dengan mengusung tema nasionalisme, film ini layak ditonton oleh siapa saja.

Perjuangan untuk mendapatkan tiket film 5cm sebelum hari H pemutaran perdana pun tidak bisa dikatakan mudah. Mulai dari di-judes-in pak satpam sampai menunggu Pak Ilham selaku manager 21 berjam-jam di bioskop. Tapi raut bosan kami [mba Nurul, mba Helley, dan saya] berganti jadi sumringah ketika akhirnya 181 tiket sudah di tangan. Iya, tidak salah baca, 181 tiket. Bukan hendak menjadi calo kawan :p. Tapi memang jumlah tiket yang akan kami beli mewakili teman-teman Sahabat 5cm segitu jumlahnya. Pembagian tiket pun dimulai hingga hari berikutnya sebelum film dimulai.


Back to the movie...
Film hasil olah sutradara bertangan dingin Rizal Mantovani ini berkisah tentang persahabatan 5 anak manusia yang sudah terjalin lebih dari 10 tahun lamanya. Terdiri dari 4 cowok yakni Genta (Fedi Nuril), Zafran (Herjunot Ali), Ian (Igor Saykoji), Arial (Denny Sumargo) dan dilengkapi 1 bidadari paling cantik di geng ini bernama Riani yang diperankan oleh Raline Shah. Karakter yang berbeda dari tiap orang namun saling melengkapi digambarkan jelas di film ini. Genta “the leader” yang selalu berfikir matang, kaya ide, dapat diandalkan sekaligus sahabat yang paling enak diajak curhat. Zafran si penyair galau, penggemar berat Kahlil Gibran, dan naksir berat sama Arinda aka Dinda (diperankan oleh Pevita Pearce) yang tiada lain adalah adik dari Arial. Ian yang berbadan super jumbo, penggemar berat Indomie, klub sepak bola Manchester United dan artis cantik nan seksi Happy Salma. Lalu Arial sang Rambo, cowok berbadan kekar yang rajin fitness tapi selalu gugup dan nggak bisa ngomong kalo udah berada di depan cewek yang ditaksir. Dan terakhir, Riani, cewek cantik dan pintar ini pengertian banget. Hafal mati kebiasaan dan kesukaan sahabat-sahabatnya, digambarkan dengan baik dalam adegan saat Riani memesankan menu yang ekstra ribet dan berbeda-beda untuk keempat sahabatnya.

Alur cerita dimulai ketika pada suatu malam di Secret Garden, tempat nongkrong mereka, Genta mengusulkan pada sahabat-sahabatnya itu untuk tidak bertemu maupun berkomunikasi dengan cara apapun selama 3 bulan. Ini dimaksudkan agar semuanya belajar keluar dari zona nyaman mereka selama ini, agar mereka bejuang meraih mimpi-mimpi mereka. Gagasan ini awalnya ditolak, terutama oleh Riani.  Tapi lambat laun, gagasan ini pun diterima, meskipun dengan berat hati. Bisa dimaklumi, mereka sudah bersahabat selama 10 tahun lebih tanpa pernah melewatkan satu weekend pun bersama-sama. Genta menjanjikan akan membuat rencana hebat saat pertemuan pertama di 3 bulan mendatang.

Dan 3 bulan terberat untuk 5 anak manusia ini pun dimulai. Rasa kangen yang tak terkira kerap kali menghinggapi mereka berlima. Banyak hal yang mereka lakukan untuk berkonsentrasi mengejar mimpi-mimpi mereka di 3 bulan itu. Ian, satu-satunya yang belum lulus kuliah diantara mereka berlima, berjuang mati-matian untuk menyelesaikan skripsi. Genta yang sibuk dengan proyek-proyek besarnya. Arial yang berjuang untuk melawan rasa gugupnya dan mulai mendekati Indy, gadis yang sudah ditaksirnya sejak lama. Riani yang memilih lembur di kantor untuk menebas rasa rindunya pada keempat sahabatnya. Dan juga Zafran, yang mulai menjalankan misi pedekate dengan Dinda. Meskipun kadang dibuat jengkel dengan kepolosan Dinda, Zafran pantang mundur. Disini penonton disuguhkan banyak adegan lucu yang mengundang tawa.

Satu minggu sebelum hari pertemuan perdana mereka, Genta mengirimkan SMS kepada empat sahabatnya. Mereka akan bertemu di Stasiun Senen dengan membawa semua peralatan yang disebutkan Genta dalam pesan singkatnya. Tidak ada yang tau apa rencana Genta sesungguhnya. Mereka hanya peduli bahwa seminggu lagi mereka akan bertemu. Melepas rindu setelah melewati 3 bulan yang menguras hati dan energi.

Dan hari H pun tiba. Genta, Zafran, Riani, Arial yang mengajak serta Dinda pun meluapkan segala rindu di stasiun. Tertawa, bercanda, berpelukan. Namun hingga kereta hampir berangkat, batang hidung si manusia jumbo Ian belum tampak. Kereta bergerak perlahan. Ian muncul dengan sekardus Indomie di pelukannya. Adegan lari-larian mengejar kereta pun terjadi. Emm...digambarkan dengan agak lebay sih menurut saya, tapi tak apalah ^_^v

Kereta melaju meninggalkan Jakarta menuju Malang. Dan Genta tak mengingkari janjinya, perjalanan kala itu benar-benar istimewa. Genta membawa keempat sahabatnya plus Dinda mendaki gunung tertinggi di Jawa, Gunung Semeru. Sempat ada keraguan apakah mereka akan sanggup mencapai tanah tertinggi di Jawa itu, tapi mereka saling menguatkan, berusaha mempercayai bahwa mereka bisa, dan mereka mengusahakannya.

Yang kita perlukan sekarang cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa. [5cm.]

Perjalanan mendaki Semeru selalu istimewa. Selalu ada kejutan di setiap belokan. Dan film 5cm berhasil dengan sukses mengambil gambar Semeru dari sudut-sudut yang sempurna. Ya meskipun mau diambil dari sudut mana saja Semeru tetap indah ya :D

Perjuangan mendaki puncak Mahameru pun digambarkan dengan lumayan bagus. Pasirnya, batunya, semuanya. Dan tentang batu yang melorot dan menggelinding itu benar adanya. Bukan lebay ya sodara-sodara :). Namun ada yang cukup menarik perhatian saya, yakni pemain yang sedang melakukan pendakian menuju puncak dengan mengenakan celana jins. Saya rasa itu akan benar-benar menyiksa bila dipakai beneran saat muncak, mengingat suhu di Gunung Semeru yang luar biasa dingin. Juga tak adanya perbekalan yang mereka bawa ketika hendak muncak. Itu hampir mustahil tidak makan ataupun minum dari Arcopodo [tempat terakhir mereka meninggalkan barang-barang dan tenda] sampai puncak Mahameru. Waktu pendakian yang cukup lama, track pendakian yang tidak mudah, serta energi yang banyak dipakai, rasanya kurang masuk akal bila tidak minum barang setetes. Tapi overall bolehlah. Anggaplah adegan mereka sedang minum atau semacamnya tidak di shoot :). Ah ya, satu lagi. Jangan berenang di Ranu Kumbolo ya :). Itu bukan buat berenang, air disana untuk minum para pendaki juga, jadi jangan dicemari :)

Dari sudut pandang saya selaku penonton, yang paling istimewa adalah film ini berhasil membawa kembali memori-memori tentang perjalanan saya bersama sahabat-sahabat. Membawa kembali semua ingatan tentang indahnya Ranu Kumbolo, kerennya Oro-Oro Ombo, hijaunya hutan Cemara Kandang, dinginnya Kalimati, mencekamnya Arcopodo, romantisnya memandang bintang di Cemara Tunggal, juga frustasinya mendaki gunung pasir menuju tanah tertinggi di Pulau Jawa. Semacam menonton perjalanan sendiri dari sudut yang lain. Namun tetap dengan rasa yang sama. 

Meskipun ada banyak adegan di novel yang (menurut saya) penting namun tidak divisualisasikan, juga ending yang sedikit berbeda dengan yang ada dalam novel, film 5cm secara garis besar bagus. Pesan yang ingin disampaikan sudah tergambarkan dengan cukup baik. Tentang persahabatan, cinta, perjuangan meraih mimpi, pun bagaimana kita mencintai bangsa kita sendiri.

Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh disini, di depan kening kamu..jangan menempel. Biarkan dia menggantung, mengambang, 5 centimeter di depan kening kamu, jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu..[5cm.]

Bangsa yang besar ini juga harus punya mimpi..[5cm.]

Jumat, 07 Desember 2012

blue-sapphire-nya Indonesia, Karimunjawa (3-habis)



Senin, 8 Oktober 2012

Setelah di hari sebelumnya menghabiskan waktu mengunjungi pulau-pulau di sebelah timur pulau utama, hari ketiga kami melakukan perjalanan ke barat. Tentu saja tidak untuk mencari kitab suci. Berdasar apa yang disampaikan oleh mas-mas guide, kami akan mengunjungi 5 tempat di hari itu.

Menjangan Kecil
Pulau ini menjadi pulau pertama yang kami kunjungi. Snorkeling jadi agenda utama. Dan kali ini, guide lokal yang bernama Mas Rofi memaksa aku untuk melepas pelampung. Lebih seru, katanya. Oh tidak, aku merasa belum sanggup berpisah dengan pelampung ini. Ini lautan boi, bukan kolam renang seperti yang biasa aku ceburin. Tapi Mas Rofi meyakinkan aku akan baik-baik saja. Setelah berhasil membuatnya bersumpah akan mengawasiku dengan jiwa dan raganya :p, aku pun dengan berat hati melepaskan sang pelampung. Jaga diri baik-baik wahai pelampung, batinku seraya melepas kepergian pelampung yang kini sudah berada di tangan Mas Rofi. Aku bahkan sudah rindu baru berpisah sedetik. Baiklah, lautan ini sama saja dengan kolam renang kan? Aku meyakinkan diriku sendiri. 

Aku terus menggerak-gerakkan kaki agar tak tenggelam. Lalu perlahan mulai berenang. Ah benar, memang lebih seru bila tanpa pelampung. Ahiiiyyy... :D. Tampak jelas keindahan biota bawah laut. Cantik. Benar-benar cantik. Dengan warna-warna yang lebih beragam. Tak puas-puas rasanya menikmati keindahan bawah laut seperti ini. Tapi nampaknya kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Lelah berenang, aku ingin menghirup udara yang sesungguhnya. Tapi blep-blep-blep. Aku tak bisa menyembul dengan sempurna. Tertawa saja, tak apa. Aku memang tak pandai berenang. Dan bak pahlawan pembela kebenaran Mas Rofi membawakan aku pelampung kesayangan. Segera kuraih, hap-hap. Oh yeaahh! Aku masih hidup. Baiklah, itu lebay. Tapi senang sekali rasanya bisa memeluk pelampung lagi. Uwoo..Mas Rofi tak sependapat denganku. Setelah memberi pengarahan yang separuhnya tak kudengarkan karena sedang asyik memeluk pelampung, Mas Rofi mengambil lagi pelampungku. Tidaaakk! Aku pun berenang lagi. Dengan iming-iming pelampung yang melayang-layang di depan mataku tapi tak bisa kuraih. Oohh..kejamnya..


Dan snorkeling kali ini nampaknya yang paling lama. 

Cemara Kecil
Pulau cantik ini menjadi destinasi selanjutnya setelah puas bersnorkeling di Pulau Menjangan Kecil. Tidak ada dermaga di pulau ini. Jadi kapal tidak bisa “parkir” mepet pulau. Jadilah kami turun dari kapal, nyebur  dan berjalan kurang lebih seratus meter untuk mencapai daratan. Dan betapapun belum menginjak daratan pulau, aku sudah jatuh cinta pada pulau ini. Indah sekali. Dari keseluruhan pulau yang telah dikunjungi selama trip Karimunjawa, pulau ini adalah favoritku. Dan kurasa foto-foto ini akan menjelaskan dengan lebih baik kecantikan Cemara Kecil daripada kalimat-kalimatku.


Gosong Cemara
Lokasi terakhir untuk snorkeling di hari itu. Namun beberapa dari rombongan kami tak ikut snorkeling. Entah sudah lelah, atau mungkin hanya ingin menikmati keindahan pulau dan laut dari atas kapal saja. Aku sendiri pun tak terlalu lama berada di dalam air.


Tanjung Gelam
Pulau keempat yang kami kunjungi. Tidak seperti pulau-pulau lain yang kami kunjungi sebelumnya, di pulau ini terdapat banyak penjual makanan dan minuman. Kapal belum lagi tertambat sempurna, tapi kami sudah beranjak menuju salah satu warung dan mencomot pisang goreng ekstra besar yang masih hangat. Nikmat sekali. Aku membayangkan para penjual di pulau ini ketika hendak membeli aneka bahan makanan dan minuman untuk dijual. Pasti repot sekali dengan transportasi yang terbatas. Pun membutuhkan waktu yang relatif lama.Tapi begitulah hidup bukan? Perjuangan.

Perut sudah kenyang, aku dan Renny beranjak untuk melihat-lihat pulau. Berbeda dengan pulau sebelumnya yang hanya didominasi hanya oleh pasir dan pohon, di Tanjung Gelam terdapat batu-batu besar yang nampak terserak berantakan tapi tetap mempesona.

Hari beranjak sore. Semakin sedikit waktu yang tersisa di hari itu. Belum puas rasanya mengeksplor Tanjung Gelam, tapi kami harus segera beranjak meninggalkan pulau untuk menuju destinasi terakhir di hari ini.

Penangkaran Hiu
Mendengarnya saja sudah ngeri. Hiu. H-I-U. Ikan yang di film-film sering digambarkan berenang-renang dan hanya menampakkan sirip atasnya, memutari kapal, sangat sensitif dengan aroma darah, dan siap kapan saja mencaplok mangsanya. Dan kami akan mengunjungi tempat dimana ikan ini ditangkarkan?  Ooohhh >.<

Kapal merapat di dermaga. Kami serombongan disambut pemandangan berupa tambak bermacam-macam ikan. Tapi bukan ikan-ikan itu yang akan kami lihat, melainkan ikan super yang “katanya” agresif, Hiu. Di kolam pertama kami melihat anak Hiu Putih yang berenang kesana kemari. Di kolam kedua, terlihat anak Hiu yang berwarna hitam. Jumlahnya banyak. Seram sekali melihatnya pertama kali. Rombongan diperkenankan turun dan berenang bersama Hiu. Emm...awalnya aku ragu. Siapa yang tahu kalau Hiu ini sedang lapar dan kebetulan dagingku yang masih muda tampak menggugah selera. Tapi kapan lagi sih bisa nyebur di kolam Hiu. Jadi dengan memantapkan hati aku pun melangkah turun ke kolam. Taktik yang dipakai di kolam Hiu ini adalah merapat dekat orang lain :p. Tujuannya tiada lain tiada bukan supaya berasa aman. Dan beruntunglah kami semua, Hiu-Hiu ini nampaknya sedang benar-benar dalam kondisi kenyang. Jadi daging-daging manusia yang telah sukarela nyebur ke sarangnya pun tak menarik hasrat makannya. Syukurlah...

Selesai bermain dengan anak Hiu yang “lucu” [diucapkan saat sudah berada di area aman :p], kami pun beranjak kembali ke pulau utama. Dan petualangan di Karimunjawa kali ini pun berakhir sudah. Esok waktunya pulang ke kota masing-masing. Berat rasanya meninggalkan pulau yang begitu menakjubkan ini. Pulau dengan kecantikan bawah lautnya yang luar biasa dan mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya. 

Dengan eksotisme bawah lautnya itu, tak berlebihan rasanya bila Karimunjawa disebut sebagai blue-sapphire-nya Indonesia. Permata Indonesia yang selayaknya dijaga keaslian dan keindahannya.

***
Bermula dari langkah pertama
Dengan tujuan yang mungkin tak sama
Namun memunculkan pemahaman serupa akan sebuah makna
Bahwa perjalanan bukan tentang garis finish semata
Jadi teruslah melangkah selagi bisa


*foto underwater diambil oleh guide

Kamis, 29 November 2012

blue-sapphire-nya Indonesia, Karimunjawa (2)



Biarkan saja ombak berdebur kencang, bila dengan begitu aku dapat memahami tenangnya pantai.
Dan biarkan saja hujan mengguyur deras, bila dengan begitu aku bisa mengerti nikmatnya berteduh.
Dan tak apalah tiada selalu bertemu, bila dengan begitu aku bisa merasakan syahdunya rindu.
Akan selalu ada nikmat di setiap hela,
Akan ada pemahaman baru di setiap jeda,
Dan semoga senantiasa ada syukur di dalamnya.



***
Pelabuhan Kartini pagi itu berwarna kelabu. Mendung masih menggelayut di tepian langit. Sisa-sisa hujan membasahi dedaunan, tanah, juga kursi  dan meja pemilik warung makan di sekitar pelabuhan. Laut tampak tenang. Sudah terlihat kapal yang akan membawa para penumpang menuju satu-satunya destinasi, Karimunjawa.

Aku, Renny dan Erwin segera menemui sepasang suami-istri yang sudah sampai terlebih dahulu. Bapak Oki dan Ibu Inchie. Sepasang suami-istri paruh baya yang hendak menikmati liburan bersama di jeda jadwal kerja. Sungguh membuat iri pasangan ini. Di usia yang terbilang tak lagi remaja, sudah memiliki cucu pula, beliau berdua masih nampak kompak berwisata menjelajah tempat-tempat baru. Romantis.

Kami pun berkenalan dan mengobrol, sementara Erwin mengantri tiket kapal. Aku dan Renny sempat dikira masih SMP -_-‘’ [ ya, ya, baiklah, dilihat dari sudut manapun, tubuh kami memang mungil]. Mendengarkan cerita pasangan ini tentang petualangan mereka ke berbagai tempat di Indonesia maupun luar negeri seru sekali. Belum lagi usai kisah petualangan Pak Oki dan Ibu Inchie, Erwin datang bersama 3 orang pria berwajah lokal dan 4 bule. Ah, rombongan ketiga, pikirku. Benar saja, 7 orang tadi adalah rombongan terakhir. Kedatangan mereka menggenapi sudah rombongan trip kali ini. 11 orang plus 1 tour-leader, Erwin. Begitu personil rombongan sudah lengkap, Erwin pun membagikan tiket kapal. Tak berapa lama, kami pun berduyun-duyun *semacam transmigrasi kedengarannya :p* menuju kapal, KMP Muria.

Butuh waktu sekitar 6 jam menuju Pulau Karimunjawa menggunakan KMP Muria. Waktu yang cukup untuk merasa bosan :p. Dan sayang sekali keberangkatan kapal waktu itu terlambat satu jam. Kapal yang seharusnya berangkat jam 8 pagi harus mundur hingga jam 9.

Lepas dari dermaga, pemandangan pun berganti. Sejauh mata memandang hanya birunya langit dan birunya laut yang nampak. Cantik sekali. Namun 6 jam bukan waktu yang singkat untuk tak melakukan apapun. Di menit awal aku dan Renny masih sibuk sekali berbagi cerita. Tertawa-tawa. Kemudian ketika bosan mulai melanda, kami berganti haluan. Mulai dari mendengarkan musik, mengamati orang-orang yang ada di kapal, hingga mengamati burung yang nampaknya sedang malas terbang dan memilih untuk menikmati laut di atas ranting yang diombangambingkan ombak.

Dan akan selalu ada muara dari sebuah penantian panjang. Pukul 15.15 WIB kapal pun merapat di dermaga Karimunjawa. Ah, akhirnya. Betapa 6 jam ini dibayar lunas dengan pemandangan indah di depan mata.


Aku bersemangat sekali turun dari kapal. Betapa tidak, duduk 6 jam membuat tubuhku penat. Setelah memastikan semua anggota rombongan sudah lengkap, kami pun berjalan kaki menuju penginapan. Tak ada agenda khusus petang ini. Jadi kami bebas mau ngapain saja. Namun belum lagi dapat giliran mandi, Erwin mengajak kami semua menikmati sunset di dekat penginapan. Hmm..ayoklah. Mandinya nanti saja :p


Dan sunset pertama di Karimunjawa sempurna menutup hariku dengan indah. Malam itu, aku dan Renny sepakat untuk tidur cepat. Demi menjemput sibuknya agenda esok hari :D

Minggu, 7 Oktober 2012

Tour de islands...
Hari kedua di Karimunjawa kami diajak mengunjungi beberapa pulau di sebelah timur pulau utama. Dengan menggunakan kapal mini atau bisa pula disebut perahu motor, semacam sepit beratap, kami pun berlayar membelah lautan *tsaaahhh*. Pulau pertama yang dituju adalah Pulau Gosong. Menonjol begitu saja di tengah lautan. Berupa pasir putih tanpa satupun pohon yang menumbuhi. Dengan lebar tak lebih dari 5 meter dan panjang tak lebih dari 100 meter, pulau ini memiliki pesona tersendiri. Bila laut sedang pasang hebat, pulau ini tenggelam. Tak terlihat. Beruntungnya kami, bisa sekedar menjejakkan kaki dan berfoto ria disana.

Pulau kedua, Pulau Tengah. Snorkeling time :D. Ini adalah pengalaman snorkeling pertamaku. Pelampung sudah dipakai, kaki katak sudah, snorkel juga sudah terpasang. Sudah belajar juga bernafas lewat mulut dengan menggunakan snorkel. Tinggal nyebur saja ke laut. 


Takut-takut aku menuruni tangga kapal, mengingat kemampuan berenangku yang aahh..payah.. tapi toh akhirnya nyebur juga di laut. Dengan masih berpegangan pada tali yang mengaitkan kapal dengan karang, aku memberanikan diri melongok laut lebih ke dalam lagi. Dan Subhanallah...pemandangan yang luar biasa. Terumbu-terumbu karang yang cantik memenuhi penglihatanku. Aku pun berputar arah. Berenang ke arah sebaliknya. Melihat pasangan Pak Oki dan Ibu Inchie yang berenang bergandengan tangan, Renny yang ganti snorkel, juga Bang Bora, Bang Rico dan kawan bule mereka yang berenang lincah tanpa pelampung. Seru sekali. Sesekali Erwin menggandengku berenang lebih dalam. Menunjukkan terumbu karang yang luar biasa cantik. Dengan warna-warni yang beragam. Biru, hijau tosca, kuning, merah, coklat juga ungu. Cantik sekali. Belum lagi ikan-ikan cantik yang lewat di depan mata. Dekat sekali. Tak pernah menyangka akan melihat yang seperti ini.


Lelah bersnorkeling, kami pun naik lagi ke kapal. Menuju daratan Pulau Tengah. Makan siang. Sembari menanti mas-mas guide bakar ikan, kami pun sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang sekedar berjemur, memancing, pun foto-foto. Aku dan Renny memilih untuk pergi ke sisi lain pulau. Berkeliling menikmati keindahan pulau yang entah susah sekali rasanya diungkapkan lewat kata-kata.

Selesai jalan-jalan, ikan bakar sudah siap, hap-hap makanlah kami semua. Nikmat kali rasanya. Alhamdulillah...:D. Perut sudah kenyang, kami pun siap menuju pulau selanjutnya.

Pulau Kecil

Snorkeling kedua di hari itu. Sudah mulai beradaptasi dan terbiasa bergelut dengan air laut. Terumbu karang yang eksotis masih saja menghipnotisku. Ikan hias pun nampaknya lebih banyak berseliweran. Tak bosan-bosannya aku menatap keindahan di bawah laut. Sayang sekali tak bisa menyentuh. Peraturan penting yang disampaikan para guide sebelum kami snorkeling adalah dilarang menyentuh terumbu karang. Sebab hal itu akan mengganggu pertumbuhan terumbu karang. Oh ya baiklah, bahkan dengan melihat saja aku sudah sangat senang :D


Selesai snorkeling, kami semua berkeliling pulau. Mengertilah aku mengapa pulau ini dinamakan Pulau Kecil. Karena memang pulaunya tak seberapa besar. Tak butuh waktu terlalu lama untuk mengelilingi penuh pulau ini. Meski begitu, keindahan disana tak sekecil namanya. 


Hari beranjak sore. Kami pun harus mengakhiri petualangan hari itu. Tak sabar rasanya menanti hari esok. Menanti kejutan-kejutan selanjutnya :)


#p.s.: foto underwater diambil oleh mas guide lokal Pulau Karimunjawa