Senin, 25 Juni 2012

Semarang #1 : 6 jam menuju Tugu Muda

 Sabtu, 23 Juni 2012

Setelah rencana sempat 2 kali gagal, akhirnya Semarang...aku datang :)
Bukan apa-apa, hanya saja sudah sejak lama aku begitu penasaran oleh pesona yang ditawarkan Lawangsewu. Baiklah, dimulai dari perjalanan panjangku dari Jogja. Kukatakan panjang karena murni ketidaktahuanku akan transportasi menuju Semarang. Hehehe. Bermodalkan sok tahu, aku menuju terminal Jombor. Dan ketika aku sampai disana ada bis yang hendak berangkat menuju Semarang. Tanpa tedeng aling-aling, naiklah aku di bis itu. Entah apa namanya. Tidak sempat memperhatikan. Di dalam bis sudah penuh penumpang. Untunglah aku masih dapat tempat duduk. Duduk di tengah, diapit oleh ibu yang menggendong anaknya dan mas-mas muda. Udara sangat panas, ditambah lagi berdesak-desakan dengan banyak orang dalam bis membuat semakin gerah. Tapi tak mengapa, toh bis ini sudah mau berangkat, hiburku dalam hati. Saat bis sudah mulai bergerak perlahan, aku tersenyum membayangkan akan segera tiba di Semarang. Sambil senyum tidak sengaja menoleh ke arah kiri. Dan aku melihat bis yang sama sekali berbeda dengan bis yang kunaiki. Bis itu tampak indah dan nyaman. Dan yang paling bikin gondok adalah ada tulisan SEMARANG di bagian kaca depan. Senyumku memudar seketika. Kenapa aku tidak melihat bis itu tadi -,-''

Dan disinilah aku sekarang, bis menuju Semarang. Pukul 13.40 berangkat dari Jogja. Berdasarkan info, perjalanan Jogja-Semarang menggunakan bis diperkirakan memakan waktu 3-4 jam. Dalam bayanganku paling lambat pukul 17.30 aku sudah menginjakkan kaki di Semarang. Tapi kenyataan berkata lain. Bis melaju dengan kecepatan sedang. Kadang berhenti untuk menurunkan penumpang. Kurang lebih 1 jam kemudian sampailah bis ini di terminal Tidar Magelang. Penumpang diminta turun dan berganti bis. Baiklah, aku menurut saja. Sudah di bis yang lain, sudah dapat tempat duduk, tinggal menunggu bis berangkat lagi. Tapi oh tidak! Ternyata lama sekali. Dan hari itu udara benar-benar panas. Serasa berada di sauna. Keringat bercucuran. 5 menit. 10 menit. 15 menit. 30 menit. Dan entah berapa lagi menit-menit yang kuhabiskan di terminal Tidar. Baru saat jam tanganku menunjukkan waktu pukul 15.20 bis ini berangkat. Alhamdulillah...akhirnya...

Entah mengapa, selalu ada kesenangan tersendiri melakukan perjalanan dengan menggunakan bis. Melewati banyak tempat yang sama sekali baru. Bis terus melaju. Melewati kota Temanggung dengan segala keindahannya. Aku selalu suka melewati kota ini. Sejuk. Dan hijau. Kemudian Ambarawa. Lain kali aku harus ke kota satu ini :). Melewati masjid agung Palagan Ambarawa, yang ternyata bersebelahan dengan terminal Palagan Ambarawa. Tidak berapa jauh dari sana, bis ini melewati Pasar Projo Ambarawa. Jalanan disini terbilang semrawut. Jalan raya yang tidak terlalu lebar ditambah di tengah jalan diberi pembatas berupa pagar dan banyaknya kendaraan besar yang lewat membuat jalanan terkesan semrawut.



Pukul 17.20 bis memasuki daerah Bawen. Itu berarti tidak lama lagi akan sampai tujuan. Bis terus melaju menembus macetnya jalanan. Musim liburan sekolah, pikirku. Melewati daerah Ungaran, aku melihat pabrik biskuit yang sudah terkenal sejak dulu, Khong Guan. Ada kaleng-kaleng biskuit aneka merk dari pabrik yang sama berukuran raksasa di sekitar pabrik :o.

Pukul 18.20
Terminal Banyumanik. Lega rasanya sudah sampai disini. Sekarang tinggal mencari bis yang menuju Tugu Muda. Bertanya kepada salah seorang disana yang berbaik hati menjelaskan bis mana yang harus kunaiki. Aku buru-buru menaiki bis yang dimaksud karena kernet bis berkata setengah berteriak bahwa itu bis terakhir menuju Tugu Muda.

Seorang gadis berkaca-mata duduk di sebelahku. Kami berbincang. Dan dari percakapan basa-basi, berlanjut menjadi obrolan yang seru. Febrina nama gadis itu, mahasiswi kedokteran semester 8 Undip. Dia teman mengobrol yang asik. Menjelaskan sedikit banyak tentang Semarang. Dan sangat antusias memintaku bercerita tentang pengalaman2 pendakianku :D. Kami ternyata sama-sama suka novel 5cm-nya bang Donny. Aih..senangnya bertemu kawan baru :). Tapi kami harus berpisah karena dia harus turun lebih dulu di daerah Kariadi. Sedang aku akan turun di bunderan Tugu Muda. Meski begitu, kami sempat bertukar nomor telepon dan berharap dapat berjumpa lagi. Bagaimanapun, selalu ada hikmah dibalik lamanya perjalanan ini, yakni kawan baru :)

Kira-kira setengah jam dari terminal Banyumanik, aku sampai di Tugu Muda. Senangnyaaa >.< !!! Dan beginilah suasana Tugu Muda ketika aku menjejakkan kaki disana
Tugu Muda, Semarang
Dan inilah alasan utamaku datang ke Semarang.... Lawangsewu :)

Lawangsewu, malam ke-23 di bulan Juni



bersambung... Semarang #2 : Lawangsewu-Kotalama-Simpang Lima

Jumat, 22 Juni 2012

Pok Tunggal - Somandeng - Indrayanti

Dengan ditemani secangkir kopi, entah kenapa pagi ini rasanya bersemangat sekali menulis. Hari Minggu kemarin ( 17/06/2012 ) aku bersama anak-anak 5cm ngetrip ke GunungKidul. Berawal dari ajakan si adek bongsor [ Reiny.red ] yang ngajakin jalan-jalan sebelum dia pulang ke Palembang, jadilah kami membuat rencana ngetrip. Dan lagi-lagi GunungKidul jadi pilihan. Sepertinya tak ada habis-habisnya kabupaten satu ini menawarkan pesonanya :)

Pantai Indrayanti adalah rencana awal kami. Dengan 7 orang yang terkumpul, berangkatlah kami dari basecamp [ rumah mba Nurul :p ] kurang lebih pukul 08.30. Dan karena sebagian besar dari kami belum sarapan, jadilah mampir dulu di warung soto-bakso di pinggir jalan Wonosari. Barulah setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan.

Ada sedikit kendala saat di perjalanan. Jalan utama yang seharusnya kami lalui ditutup. Entah ada acara apa sampai harus ditutup. Tapi itu tak mengurungkan niat kami. Kami yang dipimpin Mas Yunan berputar arah. Mencari jalan lain. Membutuhkan waktu lebih lama dari yang seharusnya, akhirnya kami sampai di jalur utama menuju pantai. Saat itu Indrayanti masih jadi tujuan utama kami. Namun belum sampai di Indrayanti kami melihat papan tanda ini



Setelah diskusi singkat, dan disertai sedikit insiden kecil oleh mba Nurul, berbeloklah kami menuju Pantai Pok Tunggal. Jalan menuju pantai ini masih relatif kurang bagus. Jalan didominasi oleh batu membuat kami harus ekstra hati-hati dalam mengemudikan motor agar tidak tergelincir. Tapi jeleknya jalan yang kami lalui terbayar saat kami sampai di pantai. Subhanallah...pantai ini benar-benar indah. Luar biasa. Dan pemandangan seperti inilah yang menyambut kami pertama kali begitu sampai di Pantai Pok Tunggal
photo taken by Mas Yunan

Pasir putih bertekstur mirip merica [ kata mba Nurul ] dengan karang-karang yang dipenuhi ganggang laut membuat kami semua betah berlama-lama main air. Pantai ini berkarakter hampir sama dengan Pantai Ngobaran pun Pantai Nguyahan. Hanya saja karang di Pok Tunggal tak sebanyak disana.
karang di bibir pantai Pok Tunggal
















karang tak hanya di bibir pantai namun juga tersebar bercampur pasir pantai Nguyahan


Pantai Pok Tunggal masih bersih dan relatif masih sepi. Mungkin ini dikarenakan belum banyak orang yang tahu tentang keberadaan pantai ini. Namun semoga pantai ini akan tetap bersih seterusnya.

Setelah bermain-main cukup lama di Pantai Pok Tunggal, kami melanjutkan perjalanan. Sesuai rencana awal, Indrayanti.

Namun sesampainya di Indrayanti, kami justru tidak tertarik turun ke pantainya. Hari itu Indrayanti penuh dikunjungi wisatawan yang sedang menikmati liburan. Kami pun berjalan kaki ke arah barat [ bukan mencari kitab suci loh :p ]. Menilik pantai di sebelah Indrayanti. Karena dirasa lebih sepi dibanding Indrayanti, maka kesanalah kami. Pantai Somandeng.
photo taken by Mas Yunan


Hampir mirip dengan Pantai Pok Tunggal, namun karang-karang di pantai ini relatif lebih tajam. Ganggang lautnya pun tak sebanyak yang dapat ditemukan di Pok Tunggal. Namun banyak sekali binatan laut yang bisa dijumpai disini, seperti kepiting, bulu babi dan juga entah apa namanya ini
bisa bantu saya untuk menyebutkan nama binatang ini?

sibuk mencermati hewan-hewan di karang pantai Somandeng
disinilah kami, sahabat 5cm [ dari kiri ke kanan : Reiny, aku, mas Ndaru, mba Helley, mba Nurul ]



Senja menjelang. Kami pun beranjak. Belum puas rasanya. Tapi kami harus pulang. Setelah mandi, sholat, kami pun makan sambil memandangi debur ombak di Pantai Indrayanti.

Ah..andai setiap sore bisa seperti ini. Memandang senja seperti ini. Senja + Sahabat = Senyum. Bahagia itu sederhana kan? :)

Baiklah..kopiku sudah habis. Dan sepertinya agak terlambat berangkat ke kantor hari ini :p. Nanti sore berangkat ngetrip ke Semarang. Mari kita lihat seberapa keren Semarang :D

I do love Indonesia. Kamu??

Senin, 18 Juni 2012

rindu #3: kusebut itu rindu


Kusebut itu rindu
Ketika aku tak dapat melihat senyummu
Kunamakan itu cinta
Ketika aku tak memerlukan alasan untuk terus melihatmu
Kunyatakan itu yakin
Ketika aku percaya cuma kamu
Keterima itu sebagai penantian
Ketika menunggu, hanya untuk kamu..



Minggu, 22 Januari 2012

gua pindul - sungai oyo

bersiap-siap masuk gua

Mumpung masih seger di ingatan... :)
Sudah di agendakan hari ini [Minggu.22 januari 2012] cavetubing ke Gua Pindul. Setelah ngidam berminggu-minggu, akhirnya jadi juga aku ke gua satu ini :D
Setelah pake acara kumpul molor dan drama ban bocor, akhirnya sampailah kami, 11 orang yang berniat cavetubing, ke dusun Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo, Gunung Kidul – basecamp Gua Pindul. Sampai disana, wow! Orangnya banyak banget. Jadilah kami mengantri untuk mendapat kesempatan menyusuri Gua Pindul. Selain susur gua, sebenarnya masih ada beberapa alternatif wisata yang ditawarkan disana. Rafting di Sungai Oyo, jelajah Sendang 7 warna, juga petualangan ekstrim di Gua Sioyot. Kami memilih paket Gua Pindul dan Sungai Oyo.
Antrian pengunjung cukup banyak hari itu. Maklum, long weekend. Jadilah kami menanti cukup lama. Selalu berharap mendapat giliran saat pick-up datang membawa ban-ban dan pelampung.
Dan oh!akhirnya giliran kami tiba juga. Wajah-wajah kami cerah seketika :D. sudah bersiap memakai pelampung meskipun ban-nya belum datang hahaha. Rombongan kami digabung dengan 2 rombongan lain karena jumlah personil kedua rombongan itu hanya 3 dan 4 orang saja. Jadilah kami 18 orang didampingi 3 pemandu berangkat berjalan menuju mulut Gua Pindul.
Baru melihat mulut guanya saja rasanya sudah senang. Mengingat penantian kami yang begitu lama di basecamp :p. dan perjalanan kami pun dimulai.
mulut gua


Gua Pindul, yang kurang lebih 300 meter panjangnya ini terbagi menjadi 3 zona. Zona terang, zona remang dan zona gelap abadi. Zona terang dimulai dari mulut gua hingga beberapa meter dari  mulut gua. Dilanjutkan dengan zona remang dan kemudian memasuki zona dimana tak ada sinar matahari sama sekali atau disebut zona gelap abadi.
Di dalam gua, kami bisa melihat keindahan stalagtit dan stalagmit. Beberapa masih aktif yang artinya masih bisa tumbuh, namun tak sedikit pula yang sudah tak aktif. Kami juga disuguhkan dengan indahnya stalagtit yang berlekuk-lekuk layaknya kipas yang disebut batu pilar. Ada yang berukuran kecil dan ada pula yang berukuran besar.
batu pilar

Dan oh, yang membuat kami tambah berisik di dalam gua adalah saat mas pemandu menjelaskan satu stalagmit yang agak istimewa. Batu perkasa sebutannya. Konon mitosnya bila lelaki menyentuh batu ini maka dia akan menjadi lebih perkasa. Haha. Dan sudah bisa ditebak efeknya. Para lelaki berebut mendekati si batu perkasa. Dengan gerakan yang terbatas karena gendutnya ban, ada beberapa kawan yang hanya berhasil menjejakkan kakinya saja. Dan malangnya, penjelasan tentang mitos batu perkasa ini diberikan oleh mas pemandu yang berada di rombongan paling belakang. Jadilah rombongan lelaki yang ada di depan mengeluh kecewa karena tidak bisa menyentuh si batu perkasa. Hahaha
Setelah itu kami juga melihat stalagtit yang berkilauan. Berwarna  biru. Disebut batu kristal. Panjangnya kira-kira 2,5 meter. Cantik  sekali.
batu kristal

Oh ya, hampir lupa. Sebelum memasuki zona gelap abadi, pemandu kami menghentikan laju ban-ban kami. Katanya kami diharap menciptakan suasana hening dan mematikan semua sumber penerangan kami untuk beberapa saat. Konon katanya, bila kita berdoa saat itu, maka akan terkabul.
Di Gua Pindul ini juga terdapat stalagtit berukuran raksasa. Dan berdasarkan sumber  mas pemandu, stalagtit yang memiliki nama Sokoguru ini adalah stalagtit yang ke-3 terbesar di dunia. Wow! Terbesar pertama ada di New Zealand, dan terbesar kedua ada di Mexico.

Keluar dari zona gelap abadi, kami memasuki wilayah gua vertikal. Disebut seperti itu karena langit-langit gua yang sangat tinggi.
langit-langit yang tinggi di area gua vertikal

Dan selesailah perjalanan di Gua Pindul. Tapi petualangan kami tak selesai disitu. Masih ada Sungai Oyo yang menanti :D
pintu keluar gua

Keluar dari area Gua Pindul kami harus berjalan kurang lebih 500 meter [yah,kurasa lebih :p] untuk mencapai Sungai Oyo. Melintasi sawah-sawah milik penduduk setempat sambil membawa ban gendut tak mengurangi kesenangan kami berfoto-foto :p
perjalanan dari Gua Pindul menuju Sungai Oyo

Dan akhirnya ekor mataku menangkap kelok sungai. Tak salah lagi. Kami sudah sampai di Sungai Oyo. Girang sekali melihat arusnya agak deras. Bakalan seru sepertinya. Tapi ternyata arus deras itu hanya sekejap saja. Hihi. Tak mengapa. Karena view disana benar-benar luaarrr biasaa cantiknya.. tebing-tebing mini yang indah menggamit sungai yang kami lalui. Tapi sayang sekali baterai kamera digital yang kami bawa habis. Jadilah kami memotret dengan kamera HP yang dibungkus plastik. Buram. Dan karena cukup susah juga memotret dengan posisi ada di dalam ban, kami tak mendapat mengabadikan kecantikan tebing mini Sungai Oyo dengan sempurna.
cukup perhatikan tebing mini sebagai latar foto ini :p

Ada beberapa air terjun mini di Sungai Oyo. Di air terjun mini yang terbesar disana, kami berhenti. Menikmati keindahan air terjun mini yang unik sekaligus melihat aksi kawan-kawan yang loncat indah dari atas tebing. Aku penasaran ingin mencoba. Dan naiklah aku ke atas tebing. Sempat ragu-ragu saat berada diatas. Tapi apalah artinya sampai sana bila tak mencoba semuanya. Hoho. Setelah memastikan mas pemandu sigap berjaga di bawah dan mendengarkan semua aba-aba darinya kyaaaaa...loncatlah aku. Byuuuurrrr! Uh-oh. Seruuuuu...!!!! tapi nampaknya gaya meloncatku kurang benar. Menyebabkan pantatku terasa lumayan sakit. Hoho. Tapi tak apa. Lain kali diulang lagi :p
salah satu air terjun mini

Hari beranjak sore. Meskipun sebenarnya kami belum puas bermain loncat-loncat disana, kami toh harus tetap melanjutkan perjalanan. Air yang tenang membuat kami santai. Menatap langit sore hari diatas ban menyusuri sungai adalah kenikmatan tersendiri. Ahh! Tak tergantikan.. gaya kami sudah bermacam-macam saat itu. ada yang duduk sempurna diatas ban, ada yang tiduran, ada yang memilih tidak memakai ban, bahkan ada ban yang menaiki orangnya. Haha.
Tak terasa kami sampai di ujung perjalanan. Yaaahhh...belum puas rasanya. Beberapa meter dari tepi sungai ada sebuah warung kecil. Kami boleh makan apa saja, minum apa saja, dan tak perlu bayar di warung. Tapi bayar di basecamp. Hehe. Tanpa perlu ditawari 2 kali, kami semua langsung menyerbu warung. Berebut memesan teh hangat. Berebut makan gorengan. Sudah tak ada rasa canggung lagi antar rombongan. Kami sudah seperti satu rombongan saja. Bercanda, tertawa-tawa. Kawan-tawa-senja. Sempurna!
Puas menghabiskan teh dan gorengan, kami beranjak pulang. Hari sudah sangat sore. Dengan menaiki pick-up kami beramai-ramai meninggalkan tepian Sungai Oyo. Hari ditutup dengan sangat indah sore itu. wajah kami semua ceria. Gua Pindul dan Sungai Oyo akan kami ingat selalu sebagai tempat seru untuk didatangi dan didatangi lagi :D
Gua Pindul-Sungai Oyo baru sebagian kecil dari keindahan yang dimiliki negeri kita tercinta, Indonesia. Masih banyak tempat-tempat indah lainnya di seluruh pelosok negeri yang bisa dikunjungi. Dan bagaimana aku tidak mencintai negeriku bila seindah ini?

Jumat, 13 Januari 2012

rindu #2

mengingatmu itu menyiksaku. sendu.
merindumu itu meracuniku. kelu.
menulis tentangmu itu membunuh kalimatku. bisu.
tentang rasa ini adalah entah kenapa...
tentang kangen ini adalah nyata ketika...
dan tapi mendadak diam. hitam.


Minggu, 25 Desember 2011

[tak] malu (aku) jadi orang Indonesia


Waktu itu aku kelas 2 SMP. Didaulat mewakili sekolah untuk mengikuti lomba baca puisi. Salah satu puisi karya Taufiq Ismail kala itu yang dipilih untuk kubawakan. Saat itu aku tak begitu paham makna apa dibalik puisi yang akan kubawakan. Tapi sekarang, setelah aku membacanya lagi, ASTAGA...

Malu (aku) Jadi Orang Indonesia
I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

Tapi mau bagaimanapun, ini negeriku. Aku mencintai negeriku. Aku cinta Indonesia. Berusaha berjuang dengan caraku sendiri untuk kebaikan negeri. Dan tentu saja berusaha agar tak malu aku jadi orang Indonesia.
Mari berkarya untuk Indonesia!

Sabtu, 24 Desember 2011

tentang pilihan

" hidup selalu menawarkan pilihan..tersenyum atau marah..memaafkan atau membalas..mencintai atau membenci..bersyukur atau mengeluh..berharap atau putus asa..
tidak ada pilihan yang tanpa konsekuensi..namun Allah selalu memberi yang terbaik..
rencana kita boleh indah..tapi rencana Allah yang terindah..hidup kita mungkin baik-baik saja..tapi hidup bersama Allah lebih sempurna.."
[din.01-11-2011]


yap. hidup ini tentang pilihan kawan. tak sedetikpun dari hidup yang kita lewati tanpa membuat sebuah pilihan.jadi, ayo buat hidup kita lebih baik dengan memilih yang baik pula.. :)